CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 147 : SAYA MODIFIKASI


__ADS_3

Muna dan Kevin masih berada di dalam ruangan dokter Obgyn di rumah sakit milik merrka. Berawal dari tekad bulat Muna untuk menyerahkan diri memasang alat kontrasepsi. Mengingat beberapa minggu terakhir Kevin sudah jarang mau menggunakan pengaman. Dengan berbagai macam alasan.


Hal itu tak dapat Muna salahkan juga, sebab kadang. Ia pun khilaf dan memang merasa nyaman jika semburan itu tersiram di dalam, mengenai rahimnya.


Muna bukan bermaksud tidak memberi hak suaminya dengan maksimal. Hanya ia memang belum siap untuk hamil lagi. Annaya bahkan baru berusia 6 bulan. Itu masih terlalu kecil untuk memiliki adik. Muna belum merasa banyak memberi perhatian pada bayinya tersebut. Masa iya, lagi lagi dia tekdung tralala.


Di atas bed pasien, Muna masih dalam keadaan rebah. Dengan pakaian yang sedikit tersingkap dan pelmukaaan kulit perut yang agak basah karena bagian itu di olesi gel untuk memudahkan alat USG bergerak gerak, memindai informasi di dalam rahimnya.


“Ini, dalam Rahim ibu ada janin. Sudah berusia 3 bulan, beratnya sekitar 23 gram. Panjangnya 7,5 cm  nih. Tuh… dengerkan suara jantungnya.” Jelas dokter Ariyeta sejelas-jelasnya.


Muna belum tuli, rungunya dapat mencerna dengan baik jika kini ada janin yang hidup di dalamnya. Dan ... Wow. Itu bahkan sudah berusia 3 bulan.


Apa yang Muna pikirkan tentang kapan proses pembuahan itu terjadi.


"Selamat ya Bu, Pak. Calon babynya sehat kok. Semua bentuk, ukuran dan beratnya normal." Lanjut dokter Ariyeta menutup pakaian Muna dan sudah mengijinkan Muna bangkit dari posisi sebelumnya.


Kevin segera berdiri hendak membantu Muna. Tangannya segera meraih dan menopang Muna. Mendekatkan bibirnya pada kening Muna lalu berkata : " Makasih ya, akan mengandung anak kita lagi." Ujarnya tulus dan senang.


Dada Muna bergemuruh. Kesal,bingung, senang juga cemas yang Muna rasakan.


Dosakah Muna jika kali ini, ia sesungguhnya belum bisa menerima kehamilannya yang ketiga. Mengingat jarak kehamilannya sangat dekat. Annaya berusia 6 bulan sekarang. Artinya ia hanya sempat kosong 3 bulan setelah melahirkan kemarin. Itu sangat dekat bukan. Dan 6 bulan lagi, ia harus menyiapkan mentalnya untuk melahirkan kembali.


Lalu, bukan kan selepas 40 hari mereka selalu mengenakan pengaman dalam hal berhubungan suamj istri. Lalu, air sp3rm@ yang mana yang sudah berhasil menembus pertahannya.


"Dokter ... Apa iya usia janin ini sudah 3 bulan. Atau terjadi kesalahan pada alat yang dokter gunakan dalam pemeriksaan?" Heran Muna dengan usia kandungannya yang sudah akan melewati masa Trimester ke 1.


“Heem... saya rasa alat pindai ini masih berfungsi dengan baik, bu” Jawab dokter Ariyeta dengan tegas.

__ADS_1


“Oh ... tapi. Rasanya aneh saja jika usianya sudah segitu.” Muna menoleh ke arah Kevin meminta dukungan.


“Baby Annaya usianya sekarang memasuki 6 bulan. Dan usia kehamilan ibu, masuk 3 bulan. Memang tergolong cepat untuk rahim kembali di buahi. Pada dasarnya, ibu nifas memang boleh di gauli setelah benar-benar bersih dari perdarahan. Apalagi ibu melahirkan secara normal. Sehingga di atas 6 Minggu. Jadi, wajar saja jika pak ‘Jendral’ sudah meminta haknya.” Ujar dokter tersenyumpenuh arti ke arah Kevin.


“Maaf dok. Sekalian curhat saja kalo begini. Tapi di masa itu, kami selalu menggunakan pengaman saat berhubungan.” Muna meletakan rasa malunya jauh dari dirinya. Demi mendapatkan kebenaran yang ia anggap masih belum jelas itu.


“Heem ... pengaman. Selalu menggunakan pengaman ya. Bisa jadi bocor ...?” terka dokter Ariyeta asal.


Muna menoleh ke arah Kevin, seolah itulah oknum yang paling bisa di kambing hitamkan.


“Kenapa liat abang gitu ...?” Kevin merasa agak tidak nyaman di pandang dua wanita itu bersamaan.


“Apa mungkin pengaman yang abang pake bocor. Ga mungkinkan ...?” Muna ragu jika selevel suaminya akan membeli alat kontrasepsi abal abal.


“Bocor ... ? Ya ga lah.” Jawab Kevin membuang muka.


“Kalo ga bocor, kenapa donk Muna bisa hamil.” Dokter di depan mereka, bagai wasit tak di bayar. Memilih diam saja, melihat interaksi oarng nomor satu di rumah sakit tempatnya bekerja itu.


“Iya punya suami. Tapi seingat Muna, tiga bulan lalu kita selalu pake pengaman kan ...?” Muna mengingat-ingat.


“Sebentar ....” potong dokter menengahi.


“Bapak yakin memasangnya di situ, bukan di jempol?” kekeh dokter Ariyeta lagi.


“Ya ga lah ... masa di pasang di jempol.” Bantah Muna.


“Bercanda bu. Ya ... di ingat-ingat saja. Mungkin ada sekali atau dua kali, ibu dan bapak lupa pake.” Ujar Ariyeta lagi.

__ADS_1


“Ga ... dokter. Baru dua minggu belakangan kami tidak menggunakan pengaman, sebelumnya. Saya selalu ingatkan, untuk meminta abang pake pengaman.” Muna masih berkeras dengn ingatannya.


“Segala kemungkinan pasti bisa terjadi bu. Sebab memang di lakukan.” Dokter itu sudah menarik  kesimpulan sendiri saja. Mulai jengah dengan kebingunan pasiennya yang bingung mengapa ia hamil.


“Saya memang selalu menggunkan pengaman waktu itu. Tapi semuanya sudah saya modifikasi.” Celetuk Kevin tiba-tiba.


“Gimana ...?” dokter sedikit bingung.


“Modifikasi apanya ...?” tanya Muna makin heran dengan ucapan suaminya.


“Iya ... semua pengaman itu memang selalu saya pakai saat berhubungan. Tetapi semua bagian ujungnya saya potong. Biar bisa nyembur di dalam.” Kevin kali ini mengakui jika kehamilan itu jelas bisa terjadi akibat ulah konyolnya.


“A B  A A A N G ...!!! Toa kambuh dong. Apa yang ada dalam pikiran Kevin saat dengan santai bahkan sadar melakukan tindakan yang jelas saja bisa mengakibatkan kehamilan istrinya. Muna memukul mukul lengan Kevin, sungguh lupa jika di depan mereka masih ada dokter yang menahan tawa sedari tadi melihat tingkah keduanya.


“Ga papa. Abang tanggung jawab kok.”Jawab Kevin memeluk Tangan yang memukulnya dari tadi.


“Bukan tentang siapa yang tanggung jawab, Bang. Tapi Naya masih bayi.” Mata Muna berkaca-kaca. Kenapa hatinya seperti tak terima dengan keadaannya ini. Merasa seperti di kerjai oleh suami sendiri. Beralasan meminta hak, ternyata justru di beri beban baru lagi.


“Maaf. Kita akan sama-sama merawat calon anak ke tiga ini.” Kevin beringsut berdiri memeluk Muna yang sungguh sudah sesungukkan. Malu bercampur sedih, sungguh ia dongkol. Berarti kehamilan ini baginya tak terduga, tetapi sudah terstruktur oleh suaminya. Apa mungkin Kevin sengaja membuatnya hamil untuk mengikatnya kembali menjadi ibu rumah tangga. Yang hanya boleh berkutat dengan popok, dan lampin bayi-bayi mungil. 


Kenapa Kevin tidak terus terang saja, jika memang tak mengijinkannya menjadi wanita karier. Bagi Muna ini sudah tidak sesuai dengan konteks di awal mereka menikah. 


Muna bersyukur di ijinkan jadi mahasiswa, setelah menikah. Pun tak sempat wisuda, ia sudah di buat bunting oleh suami. Bahkan saat wisuda, ia harus berpenampilan rempong, dengan kondisi hamil besar saat mengadung anak kedua. Kedua, ya. Bukan anak pertama. Menjadi mahasiswa dan ibu beranak satu itu, bagi Muna sudah wow banget.


Tetap ingin melanjutkan cita-cita menjadi wanita bekerja, saat memiliki anak dua. Muna merasa harus lebih cerdas membagi waktu agar semuanya bisa seimbang untuk di jalani.


Tapi, bagaimana ini.

__ADS_1


Hallo apa kabar, bahkan kini ia akan menjadi wanina karier sambil menjalani kehamilannya yang ketiga.


“Abang sengaja bikin Muna hamil ...?”


__ADS_2