CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 149 : BARANG ABANG BAGUS


__ADS_3

Kevin tidak membantah, jika disalahkan akan terjadinya kehamilan Muna yang ke tiga itu. Toh, ia memang satu-satunya orang yang selalu merayu, merayap, menindih dan melengkung di atas tubuh istrinya yang sudah menjadi candunya itu.


Tapi bagi Kevin, hal itu wajar saja terjadi. Bukankah mereka adalah pasangan halal. Untuk soal membayar pengasuh ataupun untuk biaya pendidikan nantinya pun ia pasti mampu memenuhinya, walau punya anak selusin banyaknya.


Kevin telah mengakui perbuatannya, meminta maaf juga. Maka kini yang ia minta adalah penerimaan Muna akan kenyataan yang sudah di takdirkan author, eh Tuhan pada rumah tangga mereka.


“Pliiish Mae, terima dia demi Abang.“ Pinta Kevin mecium perut Muna lama.


Muna justru berderai-derai airmata lagi. Tau jika perasaannya yang muncul itu dapat di tangkap oleh sang calon buah hati mereka. Ikut meraba perutnya yang memang mulai membuncit. Merasa menyesal, jika rasa kesalnya membuat calon anak mereka sempat merasa tidak di inginkan untuk hadir ke dunia.


“Maafin Muna juga bang. Muna hanya kaget dengan kehamilan ini. Padahal hamil juga bukan satu-satunya salah abang. Muna juga salah, kenapa ga KB aja sejak awal. Tepat sebulan setelah melahirkan Naya kemarin.” Muna melunak, merasa bukan Kevin satu-satunya yang salah sekarang. Bukankah karena desa han dan rintihan nikmatnya pula yang selalu membuat Kevin hilang kendali. Selalu tertantang untuk menyentuh istrinya lagi dan lagi, hingga puas bahkan tak kenal rasa lelah.


“Sudahlah. Jangan pernah khawatir tentang apapun. Jangan pernah cemaskan soal psikis Ay dan Naya. Orang jaman dulu bahkan tak pernah kenal KB, tiap tahun pun mereka melahirkan. Bahkan hingga satu lusin. Tapi, mereka sukses merawat, membesarkan dan mendidiknya. Dan kita di percayakan untuk di titipkan anak, dengan jarak dekat. Maka bersyukur saja. Daren dan Zahra bahkan hingga sekarang masih berjuang untuk mendapatkan garis dua. Gilang dan Gita juga harus bedrest total demi menjaga janin dan kandungan yang lemah. Tapi kita …? Bahkan hanya sekali menggunakan sarung bolong sudah  jadi anak. Mae tau itu artinya apa …?” tanya Kevin yang sudah dalam posisi rebah memeluk Muna yang ikut rebah di sampingnya.


“Apa …?” tanya Muna polos.


“Artinya suami Mae, penembak jitu. Mungkin Mae lupa sejak awal barang Abang bagus Mae.” Senyum Kevin melebar, memiringkan tubuhnya menatap Muna dengan mengangkat alisnya naik dan turun.


Muna membuang muka.


“Artinya juga … wadah ngadonnya juga premium. Ga bisa ketelen aer dikit udah jadi aja, Mae.” Suara itu terdengar nakal dan sarat pujian gombal.


“Heem.” Muna hanya berdehem menerima semua pujian kah, paparan kah yang suaminya sampaikan padanya.


“Sayangku …” panggil Kevin lembut di telinga Muna.


“Heem.”


“Punya anak tiga itu bagian dari cita-cita kita juga kan …?” suara itu seperti sebuah ledekan bagi Muna.


“Abang aja kali…” Bantah Muna.


“Masa … bukannya Mae ga mau punya anak satu. Karena ntar sibuk sendiri kaya Mae sekarang. Harus urus rumah sakit warisan.” Kekeh Kevin.

__ADS_1


“Iya Bang, Muna emang ga mau punya anak cuma satu. Tapi ga serapat ini juga.” Jawabnya menoleh ke suaminya.


Cup.


Bibir Muna berhasil di kecup Kevin.


“Udah … Berenti marah, dan keselnya. Nanti dedenya denger, Sayang.” Kevin sudah merosot ke arah perut Muna. Mencium lama perut itu dengan penuh kasih sayang.


“Tumbuh dan berkembang dengan sehat, sampai masa kelahiranmu ya dede bayi. Papap sayang kamu.” Ucapnya pada janin yang masih berusia 3 bulan itu.


“Mamam juga mau kamu.” Ucap Muna pelan, mengusap perutnya sendiri.


“Abang yakin … ini pasti laki-laki.” Kevin sudah kembali dalam posisi sejajar dengan Muna, mengambil kepala istrinya untuk di letakkannya di atas lengannya.


“Oh ya …”


“Mae aja ga sadar, akhir-akhir ini maunya makan daging saja. Ga suka ikan kan?” Tebak Kevin.


“Hah …?” Muna mengingat-ingat. Ternyata ia tak sadar sudah memasuki masa ngidam bahkan sebelum ke Cikoneng. Benar saja, makanannya selalu sop Iga. Bahkan makanan yang ia pesan dengan


“Apapun jenis kelaminnya sih, abang tetap terima.” Lanjut Kevin lagi.


“Abang … kayaknya iya deh. Muna ga sadar, suka makan daging kaya waktu hamil Ay.” Jawabnya lagi.


“Abang jarang salah sih kalo urusan menebak jenis kelamin bayi.” Lanjut Kevin dengan mata yang mulai redup mulai ngantuk.


“Abang …”


“Apa Sayangku.”


“Maaf ya, kemarin kerja di ruang rawat Naya. Muna sempet minta di belikan makanan lho sama Pak Erwin.” Muna tak mau Kevin nanti tau dari orang lain akan hal itu.


“Hah…??” Kantuk Kevin hilang. Ia terduduk dengan spontan. Jiwa cemburunya meningkat dong.

__ADS_1


“Iya … ga ngerti kenapa. Pas Pak Erwin bilang ada pekerjaan sedikit dan harus selesai hari itu. Muna tuh spontan aja minta di bawakan sempol daging sapi sama dia. Mungkin itu karena Muna hamil kali ya, Bang.” Lanjut Muna bermaksud menjelaskan.


Kevin merubuhkan tubuhnya lagi di samping Muna, tapi dengan posisi membelakangi istrinya, gantian Kevin yang merasa kesal dengan tingkah istrinya.


"Mae, genit ...!!!" marah Kevin agak kesal.


“Abang jangan marah-marah. Nanti cepat tua.” Rayu Muna pada Kevin.


“Memang suamimu sudah tua, 38 tahun Mae. Hampir 40 tahun. Kenapa …?” celetuk Kevin masih dengan memberi punggungnya saja pada Muna.


“Ya ga papa. Walau Abang sudah tua, kan Muna cintanya pake banget ke Abang.” Kevin tertawa sendiri di balik punggung yang begitu angkuh membelakangi istrinya tersebut.


“Gombal.” Jawab Kevin ingin terus di rayu oleh Muna.


“Mana pernah Muna gombalin, abang. Yang ada Muna yang terus di gombalin, di tipu lagi sampai hamil.” Kevin masih membelakanginya.


“Abang … marah ya? karena Muna minta jajanan sama Pak Erwin?”


“Masih tanya lagi, itu anak Abang. Kenapa ngidamnya malah minta pertanggungjawaban sama orang lain?” berangnya masih tak mau menatap wajah Muna.


“Maaf Yank, naluri ngidam gitu amat deh kayaknya.” Ujar Muna.


Kevin bangkit dari posisi tidurnya. Melangkah ke lemari pakaian. Mencari pakaian hangat dalam lemari tersebut.


Muna terduduk, tersentak melihat suaminya yang sudah beralih mode, seperti orang marah sungguhan.


“Abang mau kemana …?” tanya Muna saat Kevin sudah memasang jaket di bagian atas tubuhnya.


Kevin berbalik lagi menghadap lemari, mengambil satu pakaian hangat lagi. Lalu menyodorkan pada Muna.


“Yuks … kita cari selera dede bayi.” Ajaknya pada Muna.


Adrenalin Muna meningkat. Rasa kesal, dongkol, lelah, marah,dan apapun tadi sudah lenyap, menguap entah kemana. Bahkan kini, matanya sudah berbinar-binar mendengar ajakan suaminya untuk berwisata kuliner walau penunjuk waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.

__ADS_1


“Pake motor ya, Bang …?” pinta Muna dengan manja.


 Bersambung …


__ADS_2