
Selera wanita yang sering di sebut ngidam saat hamil itu alamiah ya. Ga bisa di seting apalagi di rencanakan. Sama seperti ajaibnya rejeki itu sendiri kita terima. Tak bisa di kira dan kapan di kasih. Yang penting selalu kita terima dengan rasa sukacita dalam hal menjalaninya.
Sejenak kita tinggalkan pasangan yang baru hamil dua bulan itu, demikian juga kisah pasangan yang baru mengalami masa-masa suramnya, yaitu Daren dan Zahra dalam hal mendapatkan momongan. Sebab sekarang Zahra sudah terbenam dalam kesibukannya sebagai pemimpin sebuah PAUD yang sudah berjalan kurang lebih 3 bulan terakhir.
‘PAUD Ummi Pride’, begitu mereka memberi nama pada sebuah tempat Pendidikan Anak Usia Dini yang juga menerima penitipan bayi dari usia 3 bulan. Sudah di lengkapi dengan para pengajar yang handal, Pengasuh yang juga sudah mendapatkan pelatihan dan ada satu dokter juga 3 perawat yang memag khusus di pekerjakan pada PAUD tersebut.
Aydan dan Annaya adalah peserta didik dan bayi pertama yang di titip di sana. Bahkan dua pengasuhnya ikut serta di pekerjakan di sana, untuk tetap mengawasi gerak gerik dua anak sultan itu. Sehingga Muna sungguh dapat fokus bekerja di Rumah Sakit dan memperhatikan kehamilannya yang sudah menunggu harinya tersebut.
“Abang sudah sampai di mana?” telepon Muna melirik jam di tangannya yang menujukkan pukul 8 pagi. Sambil memegang perutnya.
“Belum jauh, sebab tadi abang ga langsung berangkat, ada berkas yang tertinggal. Ada apa Mae …?” entah Kevin sudah terbiasa atau memang panggilan sayangnya demikian untuk wanita yang akan memberinya anak tiga itu. Dimana sebutan Mae selalu nyaman baginya sebagai perwakilan sebutan cinta untuk istrinya.
“Kayaknya Muna mau lahiran deh, Bang.” Ucap Muna. Jangan lihat dari usia Muna yang baru akan ulang tahun ke 26. Urusan melahirkan, ini adalah penggalaman ke tiganya bukan. Jadi dia tau, mana kontraksi palsu dan asli. Mana pecah air ketuban sama air kencing yang merembes.
“Oke … abang putar balik.” Kevin segera memerintahkan Tama untuk melanjutkan perjalanannya ke Cisarua, dan ia meminta supir lain menjemputnya.
Kevin datang ke rumah sakit, Muna sudah tidak menggunakan pakaian kantor seperti saat terakhir ia jumpai di meja makan pagi tadi. Kini, Muna sudah menggunakan pakain biru, khas pasien Hildimar Hospital.
“Nyak babe sudah di hubungi …?” tanya Kevin.
“Sudah.” Jawab Muna sambil meringis merasakan kontraksi yang kadang datang, kadang hilang. Tampak dokter masuk akan memeriksa dalam Muna. Dan, mana dokter itu berani mengusir Kevin. Sehingga saat Muna di periksa ia masih berdiri di dekat kepala istrinya tersebut.
“Normal bu, sudah ada pembukaan empat cm. Bawa jalan-jalan saja. 4 jam lagi kita periksa.” Dokter memberi hasil pemeriksaannya.
“Oke … makasih ya dok.” Jawab Muna ceria. Di sela rasa canat-cenut perut bagian bawahnya.
__ADS_1
“Pulang dulu yuks … bang. Perlengkapan ade belum Muna bawa.” Pinta Muna pada sang suami.
“Jangan kaya orang miskin yang ga bisa nyuruh pembantu bawa segala peralatanmu. Itu sudah ada pembukaan. Kalo keluar pas Mae lagi jalan gimana?” Hardik Kevin yang tidak suka istrinya selalu gagah kalau mau melahirkan.
“Di kira rahim ini tipis kaya kantong kresek …? Segala bisa jatoh. Abang gimana sih. Ini tuh baru buka 4 cm. Nih… lobangnya baru ke buka segini, pala bayi pan segini.” Jelas Muna menunjukkan setengah telunjuknya lalu mengepal tangannya kea rah wajah Kevin.
“Ga … pokoknya ga boleh ke rumah titik.” Tegas Kevin.
“Ya udah kita ke kantin saja. Cari selera dan kekuatan sebelum ngejan.” Alasan Mujna lalu turun dari atas tempat tidur pasien tadi.
“Oke … abang temani.”sahut Kevin posesif.
“Bentar.” Ucap Muna berdiri de depan suami. Mengendur dasi lalu melepasnya. Membuka kancing tangan kemeja itu melipatnya dua kali kri dan kanan.
“Ga adil aja. Abang kerennya minta ampun, tiba giliran Muna ke kantin Cuma pake seragam pasien.” Kekeh Muna membalas ciuman di pipi suaminya.
“Huum … makasih sayang.” Kevin mengelus pucuk kepala gadis yang dulu kecil, tapi sungguh dapat menjungkir balikkan hatinya itu.
Meraka berjalan sambil bergandengan menuju Kantin rumah sakit. Hanya sebutannya kantin. Tapi tidak dengan suasananya. Yang lebih tepat di sebut resto atau cafeteria. Jika kita membayangkan di rumah sakit itu akan ada penjaja asongan, nasi bungkus atau kacang goreng atau jagung rebus. Itu salah. Bahkan warung pun tidak layak di sebut di sana.
Saat orang yang pertama kalo datang untuk berobat di sana, tentu harus membaca ulang dengan pasti jika tujuan mereka adalah Hildimar Hospital. Sebab pada lantai dasar yang berjejer itu adalah apamart dan inangmart. Planetchiken juga ada di sana, bersaing harga dengan yang lambanynya hurup M besar berwarna kuning itu. Semua ada di sana. Pakaian bersalin, baju bayi. Hm… Jangan di tanya. Baby shop yang menyediakan perlengkapan bayi O hari sampai kereta dorong pun, semua ada di sana. Mirip sebuah mall, begitu lah penampakannya.
“Mae pesan apa …?” Kevin menunjukkan buku menu pada Muna.
“Ga usah di liat, Sop Iga bakar sama telur rebus dua.”
__ADS_1
Jawab Muna yang memang sejak hamil ini, tak ketemu nasi lagi. Itu menjadi rahasia sehat dan langsing Muna selama hamil. Makanan yang selalu tinggi protein, dan rendah karbo.
Kevin segera memanggil pelayan untuk segera memproses pesanan mereka.
“Mama sudah di kasih kabar, Mae?” tanya Kevin yang selalu di wanti-wanti mertuanya untuk memberi kabar. Sebab dua cucunya tak pernah berhasil ia lihat prosesnya secara langsung.
“Lupa …?” jawab Munan menutup mulutnya. Sungguh tak terpikirkan.
“Tuh kan … ingat hanya sama nyak dan babe.” Dumel Kevin, mengeluarkan gawai pintarnya lalu melakukan panggilan bericon biru.
“Iya Vin …” Sapa Mama Rona dengan suara halus dan lembut.
“Mamam Ay, sudah sakit perut mah …” jawabnya.
“Ya gitulah istrimu itu. Ingatnya hanya sama Nyak Time yang deket, Mama yang jauh selalu di abaikan. Sewot mama Rona agak dongkol.
“Maaf mah, sambil sakit, mana bisa mikir jernih.” Muna membela diri.
“Iya … mama cuma bercanda. Mama sudah di telpon Nyak Time tadi. Niih mama sama abah sudah di helipad siap terbang ke Jakarta. Pokonya kali ini mama harus liat di dalam ruang bersalin, titik.” Jawab mama Rona mengalihkan kamera untuk menampilkan helicopter yang akan menerbangkan mereka tanpa antri. Buseeeet.
“Iya … mama sama abah hati-hati.” Ujar Muna dengan wajah yang semakin di penuhi pelu di dahinya.
“Cu … keluarnya tunggu nenek ya …” Pinta Rona pada calon cucu yang masih ada dalam perut Muna.
Bersambung ….
__ADS_1