
Penunjuk waktu hampir mengarah pada angka tujuh di jam dinding rumah Gilang. Saat itu lah pak Min supir Kevin yang di Bandung mengantar Gita pulang dari butik bersama Muna sejak siang tadi.
Artinya Gita sudah melewatkan sholat magrib bersama suaminya di rumah.
"Assalamualaikum... A'." Sapa Gita memasuki rumah mereka.
"Walaikumsallam, neng. Magriban di mana?" tanya Gilang memastikan jika istrinya tersebut, sudah melaksanakan sholat di tempat lain.
"Maaf, a'. Tadi mau pulang, tapi takut ga keburu. Jadi, ikut sholat di sana aja, a'." Jawab Gita manja, sambil memeluk suaminya agar Gilang tak marah padanya.
"Iya, Neng nggak papa yang penting neng dah sholat. Karena kalo eneng ga sholat, nanti Aa yang kena dosanya. Kan sekarang A'a imamnya Eneng."kekeh Gilang seriua tapi santai sambil mencium kening istrinya penuh sayang.
"Neng, udah makan malam?" tanya Gilang lagi dengan lembut pada kesayangannya tersebut.
"Belum a'. Tadi sih diajak makan di sana, tapi Neng curiga, A'a pasti belum makan di rumah, jadi habis magriban mending neng, cepat-cepat pulang aja ke rumah. Udah setengah hari nggak ketemu, eneng teh kangen a'a." Gombal Gita mulai on fire.
"Bisa aja Neng mah, pasti takut a'a kasih hukuman, kan?" goda Gilang pada Gita.
"Emang kalau Eneng jalannya lama dikasih hukuman?" tanya Gita centil. Gilang mengangguk kepalanya ke arah istrinya yang mulai melangkah ke arah dapur.
"Iya tahu gitu. Eneng mah mending pulang lebih malam lagi biar dikasih hukuman oleh A'a." Celetuknya cuek.
"Ada ya istri yang malah sengaja di kasih hukuman oleh suaminya." Gilang tertarik melanjutkan godaannya pada sang istri.
"Ya kan hukumannya di gituin kan?" lanjut Gita.
"Gituin apa?"
"Ya itu... yang enak enak kan?"
"Enak gimana?" pancing Gilang.
"Yang enak pokoknya."
"Bisa di jelaskan?" Gilang sengaja donk.
"Ya... kan a'a kan ga mungkin pukul Eneng pakai tangan kan walau eneng sesalah apa?"
"Ooh... gitu." Gilang pura pura berpikir, so tidak tau.
"Ho'oh. pasti si jaka deh yang ambil alih kalau eneng salah." Jawag Gita cuek tanpa beban.
__ADS_1
"Neng..., eneng. Istri macam apa nih? otaknya mesum banget." Gilang terbahak-bahak melihat kelakuan istrinya yang selalu bisa mengalihkan rasa kesalnya dengan rasa gemes. "A'a yang ajarin." Gita membela dirinya.
"Hah... mana ada?" Bantah Gilang tak mau kalah.
"A'... eneng ada beli nasi goreng tadi. Kita makan nasi gorengnya berdua aja ya, A'. Biar mesra." Lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
"Eneng niih ya,paling bisa ya." Gilang makin genes dengan tingkah istrinya itu.
"Eh... neng. Tadi a'a beneran sempat kesel lho. Eneng kelamaan jalannya. Rada mau marah gitu. Eh... ternyata istri jalan lama malah bikin gemes. Ga jadi deh marahnya." Jujur Gilang sambil menunggu pelayanan istrinya menyiapkan makan malam mereka.
"Maaf ya A'a..." ulang Gita meletakan sepiring nasi goreng ke hadapan suaminya.
"Di maafkan istriku sayang." Kecupnya di pipi, sebelum mulai membaca doa sebelum makan.
Kemudian menarik bo kong Gita agar duduk di atas pangkuannya.
"Sini a'a yang suapin." Perintahnya, lalu mendarat dengan senang hati di atas paha Gilang.
"Lain kali, jalannya jangan lama ya neng. Apalagi sampe a'a duluan yang datang, a'a kesepian juga ternyata pulang kantor sendirian, neng." Ujar Gilang di sela kegiatannya menyuap diri juga istrinya.
"A'... jangan bilang kesepian ini tentang kita belum punya anak a'..." ujar Gita pelan.
"Iisshh... apaan sih. Kita nikah aja belum genap 3 bulan, neng. Bukan 3 tahun. Seloow atuh neng." Jawab Gilang penuh senyum.
"Oh... iya a'. Gimana kabar calon pengganti eneng di kantor? udah ada yang cocok?" tanya Gita.
"Bu Mona kayaknya sih pilih Melani." Jawab Gilang tegas.
"Cewek...? kok aku lupa ya mana orangnya?"tanya Gita mengingat ingat berkas yang pernah ia teliti juga.
Gilang mengangguk. "Iya Cewek." Jawabnya singkat.
"Cantik?" tanyanya lagi.
"Eemmh, Melani lumayan, kulitnya eksotis, tubuhnya sin tal, wajahnya ..."
"Diem...!! Bisa diam ga?" potong Gita agak geram
"Ga usah di uraikan ke gitu juga deh A'. Neng tuh, ga suka ya. Dengar A'a muji-muji kecantikan cewek lain di hadapan eneng...!" lanjut Gita so merajuk.
"Laaah... yang muji cewek lain siapa. a'a teh cuma ngejawab pertanyaan eneng tadi aja." Gilang membela dirinya.
__ADS_1
"Ya ga usah detail gitu juga kali a'. Ngerusak mood aja deh." Timpalnya.
"Siap salah. Makan lagi aja neng." Gilang memilih berdamai dengan keadaan yang sempat menghangat tadi.
"Apa iya a' ... kak Muna yang mau Melani gantikan eneng. Apa ga mikir ya besok rumah tangga kita ke gimana?"
"Ya Allah. Ini otak isinya apa sih. Belum apa apa aja udah cemburu dan curuga aja." Ujar Gilang.
"A'a... tuh tampan maksimal lho. Bohong aja kalo cewek ga klepek klepek liat a'a." Cemberut Gita sok sedih.
"Trus a'a harus gimana biar jelek neng?" tanya Gilang lucu.
"Belum kerja aja udah di cemburuin sama Neng gini gimana bisa kerja lama ntar."
"Apa ga ada pilihan lain a'? yang cowok gitu?" tanya Gita pelan.
"Ya ada lah neng. Eneng kan tahu sendiri, kakakmu itu si Pak Bos yang bucin tingkat dewa. Mana berani melawan perintah bu Mona." Lanjut Gilanh.
"Emang ada pilihan lain?"
"Ada Neng. Bos pilihnya Gibran."
"Nah itu cowok kan."
"Iya... Gibran cowok neng. Dan Pak bos sepertinya mau yang itu."
"Tapi kak Muna maunya Melani, gitu?" ulang Gita.
"Sepertinya..."Jawab Gilang seadanya.
"Ah... ga mungkin lah. Eneng ga percaya. Masa sih kak Muna gitu amat ya sama rumah tangga kita. Mana mungkin dia kirim kerikil dalam rumah tangga kita. Ga mungkin." tebak Gita sembari berharap itu hanya wacana.
Gilang hanya diam, tak mau komen soal Melani atau Gilang.
"Eh... eneng boleh ikut rapat penentuan ga ya? Nentuin siapa yang boleh gantiin posisi eneng di kantor."
"Emangnya eneng punya kekuasaan gitu? untuk me-review siapa yang nanti akan menggantikan posisi Eneng di sana? Jangan lupa, eneng teh cuma sekretaris bukan dewan komisaris. Jadi jangan ngimpi atuh mau ikut ngatur urusan kantor."
"Ya... a'a juga jangan lupa. Eneng kan saudara yang punya perusahaan." Sewot Gita tiba tiba.
"Yaah nepotisme." ledek Gilang menurunkan sulutan emosi Gita.
__ADS_1
"Udah... eneng ga usah galau. Mau sekretaris eneng nanti cowo atau cewe. A'a hanya minta, agar eneng teh selalu percaya sama A'a. Tujuan kita nikah tuh, saling setia. Jadi mohon eneng jangan curiga. A'a ga pernah punya niat untuk selingkuh atau apapun. Eneng tak tergantikan di hati a'a. Kecuali sama...."