CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 202 : RUMAH SAKIT (2)


__ADS_3

Gita masih turunan anak orang berada, ya … keturunan Mahesa. Jujur dia sempat kaget dengan keadaan ruang rawat yang sepertinya ini adalah kali pertamanya masuk keruang yang sering di sebut bangsal itu. Ruangan besar di penuhi pasien dengan berbagai jenis penyakit, yang hanya di pisahkan oleh tirai antara satu ranjang dan ranjang lainnya. Tetapi orang menyebutnya itu adalah ruang HCU. (High Care Unit ) ialah ruangan perawatan pasien ICU yang di anggap sudah menunjukkan perbaikan tetapi masih dalam pengawasan ketat. Terlihat di dalam ruangan itu, tampak dua perawat yang berjaga untuk memastikan kondisi pasien yang terbaring berjejer di depan mereka.


Gilang, Gita dan Bu Dian membesuk sesuai jam besuk. Sehingga mendapat ijin untuk masuk. Juga mereka hanya tiga orang dewasa yang tentu tidak menimbulkan suara berisik yang mungkin menggangu pasien lainnya. Tidak ada ruang untuk penjaga pasien di sana. Sebab pasien yang di rawat di sana di jaga oleh perawat, keluarga pasien hanya boleh berjaga di luar, itupun hanya di selasar mungkin hanya beralaskan karpet tipis seadanya.


“Pak Sudrajat …” Setengah berbisik Gilang mendekati meja perawat yang berada di tengah ruangan itu.


Kemudian salah satu perawat merespon dengan telunjuk tangannya, ke arah kakek Sudrajat terbaring. Gilang tidak mengenali kakeknya. Beda dengan ibunya. Tanpa bertanya pada perawat pun ia sudah mendekati salah satu ranjang yang sangat ia kenali, siapa yang terbaring di sana.


“Bapak …” Manutup mulutnya dengan satu tangan Dian sangat terkejut melihat keadaan ayah mertuanya. Ringkih, kecil dan terlihat sangat lemah. Tidak ada lagi sosok Sudrajat yang dulu gagah, berwibawa juga terlihat angkuh. Bobot tubuhnya bahkan lebih dari separuh hilang, entah di makan usia atau di telan penyakitnya. Kulit putih bersih dan kencang juga sudah tak terlihat membalut tubuh itu. Berganti dengan warna gelap, keruput dan … ah. Seperti bukan Sudrajat mertuanya yang dulu adalah orang terpandang.


Kakek Sudrajat menoleh, sembali memicingkan matanya. Untuk berusaha mengenali siapa sosok pemilik suara yang memanggilnya bapak tadi. Ada buliran air keluar dari kelopak matanya, saat ia mengerjabkan bola matanya. Mulutnya terbuka, ingin berbicara. Namun suaranya tercekat. Entah karena penyakit yang di deritanya, atau karena keterkejutannya melihat wanita yang dulu sangat di cintai anaknya namun sangat di bencinya.


“Lang … sini. Ini kakek mu, Nak.” Suara Dian agak keras memanggil Gilang agar mendekati ranjang yang sudah ia tempeli.


Dengan langkah malas Gilang mendekati ibunya. Dan memandang pasrah pada lelaki yang ibunya sebut adalah kakeknya.


“Bapak … ini Gilang. Cucumu. Dan ini Gita, istrinya. Bapak sekarang sudah punya cicit. Usianya belum setahun, perempuan Pak. Namanya Gwen. Besok, teh Arum juga ke sini jenguk Bapak ya, cucumu itu juga sudah punya anak dua. Jadi cicit Bapak sekarang ada tiga. Cepat sembuh ya Pak, supaya bisa berkenalan dan bermain dengan mereka.” Panjang sekali perkenalan itu Dian sampaikan. Dengan suara agak tertahan, menahan air mata yang akan segera luruh, juga tenggorokannya serasa terhalang apa, Dian sendiri tidak tau itu mengapa terjadi.


Mata Sudrajat berganti-ganti memandang Gilang dan Gita juga Dian bergantian. Tidak ada jawaban dari bibirnya. Hanya raungan tangis yang mampu ia luapkan, untuk melukiskan pedih dalam dadanya yang seketika bergemuruh. Alat medis memindai jika tekanan darah kakek itu meningkat. Alat itu berbunti. Membuat perawat bergegas mendekati ranjang kakek Sudrajat. Memasang kembali oksigen yang sempat terlepas karena kondidinya stabil. Adalah haakek Sudrajat sekarang.

__ADS_1


“Maaf bu. Jika bisa, pasien jangan di ajak berpikir yang berat terlebih dahulu. Beliau belum benar melewati masa kritisnya, kondisinya masih sangat rawan.” Ucap perawat itu sopan. Kemudian kembali ke tempat duduknya.


Kening Dian berkerut bingung. Ia tidak merasa berbicara berat pada mertuanya. Tadi ia hanya memperkenalkan anak, menantu dan cicitnya padaayah suaminya.


“Oh … Iya. Maaf suster.” Jawab ibu Gilang terbata. Dan akan menjauhi ranjang itu, jika memang kehadirannya membuat keadaan mertuanya memburuk.


Gilang masih tidak bersuara, hanya melihat dengan intens sekujur tubuh yang di penuhi akat medis itu. Tangan Gita tidak lepas memegang bagian siku Gilang. Ingin bersuara pun, tidak tau harus berkata apa. Takut salah. Tadi ia hanya sempat mengangguk dan sedikit tersenyum pada pria tua renta yang katanya adalah kakek suaminya.


Beberapa menit berlalu, mereka hanya habiskan untuk berpandang pandangan. Ingin bicara takut salah, ingin pergi tapi masih belum puas menatap. Namun, air mata di sudut pelipis itu sudah mereda. Walau taka da kata yang terucap dai bibir yang masih tertutup oksigen itu.


“Kami pamit, besok akan menjenguk kembali.” Akhirnya Dian menyerah, merasa bingung harus berbuat apa untuk berlama-lama di sana.


Kepala Sudrajat terangguk-angguk, lalu menggeleng. Berulang-ulang.


“Ada apa …?” tanya Dian mendekat.


Dengan isyarat mata, ia selalu menunjuk ke arah oksigennya. Entah apa artinya, mungkin minta di bukakan alat itu. Dian hanya mengira saja.


“bapak minta di bukakan ini ?” tanya Dian paada mertuanya. Sudrajat segera mengangguk.

__ADS_1


Dengan hati-hati, Dian mencoba membuka oksigen itu. Hingga mulut mertuanya terbebas dari alat yang menutupi permukaan bibirnya.


“Ibu … jangan.” Gilang segera memgembalikan posisi alat itu kembali pada posisi semula.


“Itu sumber nyawanya. Jangan di lepas.” Ucap Gilang memasang kembali alat bantu nafas untuk Sudrajat. Kemudian ia berjalan ke meja perawat.


“Suster … apa pasien itu harus menggunakan alat bantu nafas jenis itu? Apa tidak bisa menggunakan yang selang biasa?” tanya Gilang, yang mengira mungkin kakeknya ingin berbicara, namun terhalang alat yang menutup mulutnya.


“Bisa pak. Tapi … itu di tebus dulu bersama obat lainnya. Yang sepertinya sudah hampir habis. Terakhir pihak keluarganya datang kemarin pagi untuk membeli obat dan yang lainnya.” Jawab perawat sambil melihat data pasien.


“Kemarin pagi … bukannya seharian ini pun Gibran tidak terlihat di kantor dengan alasan harus berada di rumah sakit.” Rutu Gilang dengan pelan.


“Apakah ada resep yang harus kami tebus, mbak? Dan kemana kami harus membelinya?” Gita angkat bicara. Saat sengat jelas mendengar rutuan suaminya.


“Oh … ini. Dan tolong sebaiknya cepat. Untuk suntikan malam ini ternyata juga tidak ada. Ibu ke lantai dasar, belok kiri. Di ujung ada apotik rumah sakit yang buka 24 jam. Semoga semua obatnya tersedia di sana.” Jawab perawat itu pada Gita sambil menyodorkan kertas resep.


“Baik … terima kasih.”Jawab Gita yang mendelik ke arah Gilang, memberi isyarat agar mereka segera menebus obat sesuai resep yang di berikan.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2