CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 217 : INALILAHI WAINALILAHI ROJIUN


__ADS_3

Gilang sudah dengan tekad bulat melangkahkan kakinya menuju Hildimar Hospital. Sudah tidak ingin telinganya menerima saran apapun yang akan menggoyahkan imannya untuk memberikan ginjalnya pada sang kakek. Termasuk komen para readers yang juga tidak ikhlas jika Gilang melakukan tindakan ekstrim ini. Tetapi maaf, ini cerita novel yang lebay. Gilang tidak terpengaruh, tekadnya kuat seperti nyak otor yang tidak gentar untuk tetap memberikan organ tubuh terpenting ini untuk di berikan secara Cuma-Cuma, bahkan kepada orang yang pernah bersalah pada Gilang.


Dian, ibu Gilang pun sudah merasa maksimal untuk mengurungkan niat Gilang. Tapi gagal. Gilang justru menarik tangannya untuk masuk dan bertemu dengan kakek Sudrajat sebelum mereka akan di eksekusi.


Tadi Sudrajat sempat duduk dan memegang bahkan mencium tangan Gilang untuk sungguh meminta maaf. Namun kini, ia sudah dalam posisi tersungkur di hadapan kaki Dian menantunya.


“Hiduplah selalu dalah ridho Allah. Surga menanti kalian.” Ucap Sudrajat dengan berlinang air mata. Seorang Sudrajat kini sedang bersujud, menyembah wanita yang pernah ia usir, ia caci, ia maki dan tak pernah ia anggap ada di dunia.


“Bapak jangan begini.” Dian memilih duduk dan ikut bersujud di depan sang mertua. Ia merasa tak layak untuk di sembah sesama manusia. Bukankah ia pun manusia yang papa. Tak luput dari dosa dunia.


“Gilang. Batalkan saja operasinya. Demi Allah, kakek tidak perlu ginjal yang baru. Tidak ada gunanya kakek berumur panjang. Masa depan mu lebih penting. Bayangkan mata kecil anakmu yang masih sangat perlu seorang ayah. Cukuplah kamu dan Arum hidup tanpa kesempurnaan bersamabayay. Karena aku merenggutnya. Jangan buat aku di laknat Allah, karena menerima kebaikanmu ini.” Lanjut Sudrajat menggoyahkan niat Gilang.


“Minta saja operasi kita berjalan lancar, kek.” Gilang tidak terpengaruh. Tetap keukeh dan mantap dengan keputusannya.


“Permisi … ruang operasi siap.” Setelah suara ketukan di pintu. Tampak dokter dan beberapa perawat sudah membawa blankar untuk memindahkan pasien ke ruang operasi.


Gita sudah berpakaian serba putih, dan menggunakan kacamata berwarna coklat. Untuk menyamarkan mata pandanya. Gilang sudah menggunakan pakaian pasien. Kepalanya sudah terbungkus. Tangannya sudah tercucuk jarum yang terhubung dengan jalur selang infus. Gita ada di sisi blankar, dan tak pernah lepas menggengam tangan Gilang yang terasa dingin akibat peluh yang tak sadar keluar dengan sendirinya.


“Sudah siap pak?” tanya dokter memastikan keadaan Gilang.


“Insaya Allah.” Jawab Gilang yakin.


“Silahkan berdoa terlebih dahulu. Anastesi akan segera kita berikan. Dan ibu, mohon maaf. Hanya boleh sampai di sini menemani bapak.” Pinta dokter sopan. Sembari menutup pintu ruang operasi.


Bersama dengan tertutupnya pintu itu, lampu orenpun menyala. Pertanda operasi akan segera di lakukan.

__ADS_1


Sudrajat sudah terlebih dahulu masuk ruang tindakan. Dan tentu saja kakek itu yang terlebih dahulu di eksekusi untuk mengangat ginjalnya yang rusak. Sementara Gilang saat itu masih terjaga, sebelum obat bius yang di suntikkan padanya mulai bereaksi.


Samar Gilang menatap sayup, menyaksikan sang kakek di tutup kain hijau. Dan mulai akan di sayat bagian permukaan kulitnya. Kemudian Gilang tidak dapat melihat apapun. Dan merasa seolah tubuhnya terlempar dalam jurang yang dalam, serba gelap dan tak dapat mendengar apapun. Dzikir saja yang sempat ia ucap dalam hatinya. Sebelum semuanya terasa aneh, dan seolah merasa kini ia berada di dunia lain yang sangat asing baginya. Ia sungguh merasa sendiri dan terasing. Ya, Gilang sungguh sudah dalam alam bawah sadarnya.


Sementara Dokter yang sedang menangani Sudrajat. Tiba-tiba menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka kira sebelumnya. Semua tanda vital kakek Sudrajat menurun. Bahkan sebelum pisau bedah itu mengenai kulit yang akan di sayat.


Ngiiiiiiing.


Suara alat dalam ruang operasi itu mendadak berbunyi. Monitor yang tadinya warna warni dan bergerak bagai rumput yang bergoyang dan berarak. Yang hanya para medis saja yang tau artinya itu mendadak mendatar. Semua angka berubah menjadi angaka 0.


“Inalilahiwainalilahirojiun.” Ucap dokter yang kebetulan memiliki kepercayaan Islam tersebut bersuara. Dan di ucap ulang oleh beberapa perawat yang memiliki kepercayaan yang sama.


“Segera buat berita kematian pasien ini. Dan operasi kita batal.” Ucap dokter bedah memberi perintah.


“Siap dokter.” Jawab perawat yang berada di ruang yang samna.


“Sudah terlanjur masuk obatnya. Biarkan dia menikmati tidur nyamannya saja, dokter. Tidak banyak dosisnya. 2 jam lagi dia sudah bisa bangun.” Jawab dokter anestesi, sembari mereka melepas atribut operasi. Sebab pekerjaan mereka tiba-tiba cepat selesai sebelum waktunya.


“Baiklah. Kita segera keluar saja. Dan pindahkan pasien ke ruang jenazah. Silahkan di atur." Perintah dokter bedah itu lagi, pada perawat di dalam ruang tersebut. Kemudian dokter itu melangkah ke arah luar ruang operasi.


Sementara di luar ruangan operasi, tanpa di sangka, yang tadi hanya di tunggui oleh Gita dan Dian ibu Gilang. Kini sudah bagai sulap dan pasar malam. Di sana sudah ada Kevin dan Muna, bahkan Diendra dan Indira juga ada. Mereka tidak ingin Gita sendiri menghadapi kenyataan. Mereka ingin memberi dukungan pada Gita, juga mereka tak ingin Gita yang kemudian menjadi pasien selanjutnya akibat lemah hati, akibat keputusuan Gilang yang cukup keras kepala.


“Hah … kenapa lampunya mati.” Kevin adalah orang pertama yang memperhatikan lampu di luar ruang operasi itu tidak menyala lagi.


“Bukankah ini baru 25 menit. Ada apa ? Apa yang terjadi di dalam sana?’ lanjutnya dengan hati yang kacau dan was-was.

__ADS_1


“Kita tunggu saja. Jika lampu itu mati, maka selanjutnya pintu itu yang akan terbuka.” Muna memberikan sedikit komentar agar Kevin tidak tersulut emosinya.


“Ini pasti terjadi kesalahan. Bahkan operasi caesar saja tidak pernah sesebentar ini.” Kevin mondar mandir bagai mandor yang tidak sabar di depan pintu.


Hingga ia hampir tertubruk blankar yang di dorong dari dalam. Dengan pasien yang seluruh tubuhnya di tutup kain hingga bagian wajah dan kepala tentunya.


“A’a GILAAAAAANG.” Gita histeris berlari mendekati blankar yang di dorong ke arah luar. Gita bagai kesurupan mencoba segera menarik kain yang menutupi wajah orang berada di atas blankar tersebut.


Dan mereka pun mengerumini bagian depan blankar, semua penasaran akan siapa pasien yang wajahnya tertutup itu.


“Permisi beri jalan, kami harus segera mengantar ke ruang jenazah.” Pinta perawat yang mendorong blankar itu.


“Bapak …” Ucap Dian. Saat Gita sudah berhasil membuka kain penutup wajah yang terbaring tenang dan damai di atas blankar itu.


“Pasien di nyatakan meninggal dunia di atas meja operasi. Pukul 10 lewat 10 WIB tadi.” Dokter muncul di baris belakang saat sudah menggunakan pakaian normalnya sebagai dokter.


“Inalilahiwainalilahirojiun.” Ucap mereka hampir bersamaan.


“Suami … suami saya bagaimana dokter?" Gita segera ingat. Yang ia cemaskan itu Gilang. Bukan Sudrajat.


“Oh … Suami anda sedang fly. Biarkan dia tidur nyenyak di bawah reaksi bius yang terlanjur masuk dalam tubuhnya.” Kekeh dokter yang tau betapa Gita hampir gila memikirkan keputusan ekstrim suaminya.


“Tapi … tapi. Ginjal suami saya masih utuh kan dokter?” lagi. Gita harus memastikan keadaan ayah dari anaknya tersebut.


“Maaf …” Jawab dokter yang satunya lagi maju mendekati Gita. Sedangkan yang lain sudah berjalan mengiringi blankar menuju ruang jenazah.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2