CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 37 : NGANGENIN


__ADS_3

Pasangan Kevin dan Muna memang juara dalam hal romantis mau di mana dan kapan saja. Apalagi sekarang mereka sudah punya Aydan dan Anaya, Kevin semakin punya alasan untuk tidak mau jauh dari mereka, yang katanya mereka itu adalah bagian dari denyut nadi, jantung hati juga nafasnya. Ya ilaaah… itu badan Cuma punya raga doang gaes, rohnya udah nyatu di badan Muna. Saking bucinnya.


“Gimana perusahaan?” tanya Muna saat Kevin masuk kamar dan sudah berhasil menidurkan Aydan yang tidur terpisah dengan mereka. Sisa Annaya yang masih aktif menyu su, jadi masih tidur bareng Kevin dan Muna. Pun tidur dalam boxnya yang berada dalam kamar yang sama.


“Hm… gitu deh. Abang heran dengan kaum hawa, apa kalo ga gossip sehari atau sejam itu bisa mati ya Mae…?” Kevin menopang kepalanya dengan siku dan menghadap Muna di atas tempat tidur mereka.


“Ciih… kaum hawa. Muna ga gitu kali?”


“Oh… kalo istri abang spesial, titisan Dewi Fortuna. Jauh dari lembah dosa ghibah dan sejenisnya lah sayang.” Puji Kevin pada Muna yang memang hampir tak pernah ada waktu dan ada teman untuk melakukan hal tersebut.


“Abang lebay. Emang kenapa tadi?”


“Biasalah, tuh anak anak kerjaannya pada ngobrol saja di saat jam kerja Mae. Dua kali abang mergokinya.”


“Salah abang kenapa patroli sampai dua kali.” Jawab Muna terkekeh sendiri.


“Ya ngetes lah. Ternyata kedapatan kan.”


“Terus abang pecat?”


“Ya ga lah. Kan mereka hanya mencuri waktu. Kerugian perusahaan tidak begitu signifikan. Kecuali korupsi uang. Baru pecat.”


“Syukur deh. Terima kasih abang tidak seorogan dulu.”


“Masa abang arogan Mae…?”


“Ga usah dibahas. Sakit rahang bicarain masa lalu?” Kekeh Muna.


“Bang… mereka yang suka ghibah kurang piknik kali. Buat acara apa gitu, biar mereka ada penyegaran.”


“Kan baru pulang dari Swiss yank.”


“Kan ga semua bisa ikut. Kerja juga. Yang liburan saja lah, reward kerja gitu. Atau lomba antar divisi, biar semangat kerja lagi.”


“Hmm… boleh juga. Ntar kalo perekrutan udah selesai deh.”


“Nah gitu dong. Jadi misal mereka ngobrol pun, hanya tentang taktik dan teknik memenangkan lomba saja.”


“Memang terbaik bini abang ini, makin sayang termehek mehek Mae.”

__ADS_1


“Owh… ya dong. Bini sape dulu.” Tawa Muna menyombongkan dirinya pada Kevin dengan senyum manisnya.


“Btw… Mae abang sampe kapan sih sarungan. Udah males pake ini.”


“Ya ampun lupa konsul pap. Iya… nih kok belum belum haid juga, jadi ga bisa pasang IUDnya.”


“Di pasang pas ga haid ga bisa?”


“Bisa sih, tapi sakit. Sebaiknya ya saat datang bulan.”


“Biarin hamil lagi aja gimana Mae?”


“Abang… Muna mau kerja kan. Nanti dulu lah hamilnya. Naya baru mau 5 bulan lho. Tunggu dia setahun ya, baru kita proram hamil lagi.”


“Hmm… serah deh.”


“Atau Muna steril saja?’


“Apalagi tuh?”


“Operasi kecil biar ga hamil hamil lagi.”


“Oh no. Big No. Istriku baru 26 tahun ya.. masih bisa nambah 4 anak lagi lho.”


“Hahaaa… iya. Berapa aja Mae mau. Asal sebelum abang 40 tahun, Mae berenti punya anak.”


“Ngape bang?”


“Takut di kira cucu ntar…?” Kekeh Kevin yang sudah berhasil memoloskan tubuh Muna. Dan pertarungan bermulai, terjadi dengan sengit, sampai tangisan Naya menguar pengganti lonceng ronde berbunyi, pertanda perang harus segera di akhiri.


Kevin mengangkat Anaya, lalu menyodorkan pada Muna yang masih tak berbusana olehnya tadi.


“Selamat menikmati Nay… makasih mau gantian isap isap.” Ujar Kevin absurd.


Lalu membersihkan tubuhnya, kemudian keluar kamar. Pergi ke dapur, membuatkan susu, menggoreng kentang dan sosis untuk kemudian ia bawakan ke dalam kamar. Ia tau Muna baru selesai kerja rodi melayaninya, dan kini harus transfer asupan gizi lagi untuk anak mereka.


Dengan telaten Kevin menyuapi Muna potongan sosis tadi dan menyodorkan segelas susu pada Muna. Walau manik mata Anaya pun tak berhenti melihat, mengikuti gerakan Kevin menyuapi sang ibu yang sedang menyu suinya itu.


“Aduuh… malam malam, Muna kok di kasih susu sih. Ntar gendut lho.”

__ADS_1


“Mae kira, abang suka liat Mae kurus. Tuh liat, tulang selangka Mae kelihatan. Itu artinya Mae kurus. Dan itu jelek.” Tunjuknya pada tulang yang nyembul itu.


“Yang penting Muna tetap strong kan Bang.” Muna membela dirinya.


“Bukan masalah strong atau tidak. Tapi sekarang anak kita gizinya masih bergantung padamu. Jangan sampai anak kita kurang gizi akibat mamamnya diet. Itu tidak sehat.” Tegas Kevin pada Muna yang seolah senang dengan postur tubuhnya yang makin kecil itu.


“Iya… baik tuan. Aye pasrah.” Kekeh Muna tertawa. Dan Anaya pun sudah kembali terlelap. Juga sudah di letakan di dalam boxnya kembali.


“Haduh panggilan itu, bikin otong bangun lagi Mae.” Kevin memang selalu suka menggodai istri mudanya ini.


“Ampun tong, mumun mau istrirahat dulu. Ijin ye tong.” Tawa Muna terbahak sambil mengelus otong yang sudah tersembunyi dalam sangkarnya. Dan sudah dalam keadaan terkulai lemas, tidur nyenyak sama seperti Anaya.


Kevin menggendong Muna ke kamar mandi. Mendirikan tubuh itu di bawah shower.


“Eeeh… mau ngapain?” tanya Muna agak getir.


“Mae belum bebersih habis tadi, ga wangi. Ntar abang ga mau peluk sampai pagi.” Ujar Kevin beralasan.


“Oh terima kasih suamiku sayang. Sana tunggu di luar.” Muna sudah antisipasi doang, takut saja dapat serangan ekstra. Kevin keluar sambil terkekeh senang melihat wajah panik Muna.


Muna sudah selesai membersihkan dirinya. Mengenakan piyama serba panjang. Lalu mengambil tempat di sebelah Kevin. Meluruskan tubuhnya, menyelonjorkan pinggang yang sedari tadi juga telah merindukan bidang darat tanpa beban dan tekanan di atasnya. Ya… tekanan beban tubuh orang lain yang selalu nempel di tubuhnya, kalau bukan Aydan yang suka menempel, ya pasti Anaya yang masih selalu gelonjotan di dadanya, yang parah lagi, sang suami yang selalu suka mengungkungnya tanpa bisa di tolak, dengan alasan pahala. Dan memberikan haknya sebagai suami yang harus selalu di patuhi. Mesum ya tetap saja mesum, mau anak berapa juga ga da obatnya, selain di salurkan.


Cup, Kevin mencium Muna di sembarang tempat.


“Nah… Kan wangi. Sini abang peluk. Aneh juga, ini istri satu, kok bawaannya selalu ngangenin sih.” Ujar Kevin yang sudah menganggap Muna bagai gulingnya itu.


“Alahmdulilah, moga ga bosan sampai tua.” Muna mencium kening suaminya dengan lembut.


“Mae… ke Koreanya ga usah ya. Kerjaan banyak. Kita harus segera tentukan pegawai baru di Bandung.”


“Gitu… oke syukur deh. Ga repot ninggalin rumah sakit juga.” Jawab Muna tanpa beban.


“Tapi destinasi liburannya ganti.”


“Kemana?”


Bersambung…


Moga readersku juga ga bosen niih ngikutin kiscin mereka yang bertaburan takjil ini.

__ADS_1


Makasih komen, like, Vote, bunga, kopi, dan tips koinnya ya semua.


Lopp kalian semua.


__ADS_2