CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 62 : CINTAI PRODUK INDONESIA


__ADS_3

"Neng... a'a teh cuma ASN bukan CEO . Mau nikahi anak gadis orang teh perlu duit. Mau yang mewah, mau yang sederhana mah, sama atuh neng. Semua teh pakai duit atuh." Dialeg Sunda Asep keluar. Tepat saat Miska mengetuk pintu ruang rawat inap Siska. Membuat obrolan mereka kembali ke mode biasa seolah tanpa perasa.


"Maaf permisi... saya Miska, di utus nyonya Rona ikut tidur di sini. Non Siska." Ujar Miska sopan.


"Oh... iya. Terima kasih mbak Miska." Jawab Siska dan Asep yang tangannya masih saling genggam.


"Eh... anu non. Aduh, gimana ya bilangnya." Ujar Miska agak bingung.


"Ada apa mbak?" tanya Siska agak terganggu dengan Miska yang tampak gelisah.


"Anu non. Saya ada janji ketemu dengan teman saya di luar malam ini." Jawabnya jujur.


Siska melihat penunjuk waktu yang tertera di dinding bercat putih di ruangan itu.


"Ini hampir pukul 8, mbak." Ujar Siska sedikit mengingatkan.


"I.. iya non. Memang jam 8 acaranya."


"Sampai...?"


"Ja.. jam 10. Boleh non?" Ujarnya agak tergagu.


"Boleh sih... tapi. Bantu aku ganti baju sebentar di kamar kecil." Siska mengalihkan pandangannya ke arah Asep yang hanya memandanginya dari tadi.


"Aku ke musholla ya. Belum isya." Pamit Asep pada Siska. Paham jika Siska perlu waktu berdua dengan Miska untuk berganti pakaian dan mungkin menyeka tubuhnya yang sudah melewati peluh dengan wangi yang bercampur baur akibat sakitnya.


Miska benar telah meninggalkan ruang rawat inap Siska itu, setelah berhasil membantu Siska membersihkan tubuhnya dengan air hangat, juga mengganti pakaiannya dengan piyama beraih yang rumah sakit itu siapkan untuk pasien VVIP tersebut.


Siska tidak lagi duduk di atas ranjang pesakitannya. Pusing, mual dan demamnya sudah tidak terasa lagi. Berganti dengan perasaan senang sebab mimpinya menjadi kenyataan. Ia duduk di atas sofa sambil melihat televisi. Hanya melihat ya, bukan menonton gambar yang silih berganti berubah ubah di layar kaca tersebut. Sebab pikiran Siska lebih sibuk memflashback segala kata yang Asep rangkai untuknya.


Untuk meyakinkan Siska jika sesungguhnya iapun menyimpan rasa yang sama terhadapnya. Ruang rawat inap itu, bagi Siska bukanlah ruangan yang menyeramkan. Melainkan baginya tempat itu lebih mirip taman bunga yang merekah indah dengan beragam jenis dan bentuknya. Bahkan di penuhi jutaan kupu kupu beterbangan kesana kemari menghinggapi kelopak bunga warna warni. Itu yang ada dalam benak Siska saat ini.


Asep sudah kembali dari musholla. Dan sepertinya tidak hanya dari musholla. Tetapi ada membawa sebuah bungkusan entah isinya apa.


"Waah... segarnya kekasihku." Celetuk Asep setelah mengucapkan salam saat masuk ke ruangan Siska berada.


"Oppa... pliis deh. Radang usus ku kayaknya sudah membaik. Jangam buat aku lumpuh dong..." ujar Siska memanyun manyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Kok lumpuh, kaki neng sakit?" bingung Asep tak mengerti.


"Iya... berasa ga napak di bumi habis denger oppa bilang kekasih tadi." Goda Siska.


"Ehh... suwee ni anak. Jangan bikin sholatku tadi sia sia ya. Gegara geregetan sama rayuan penuh pemanis buatanmu itu." Asep tak kalah usil menggoda Siska.


"Siapa yang ngerayu. Sumpah rasanya tuh kayak mimpi kalo kamu beneran udah jadi kekasihku."


"Masaa..."


"Kalo penyakit radang ususku ini paling baru beberapa bulan terakhir aku idap. Tapi kalo jatuh, dan nyungsep dalam cintamu. Kayaknya udah akut. Masuk fase stadium akhir tau gak." Kekeh Siska malu malu tapi jujur.


"Sebegitunya neng... gombalin a'a maah." Ungkap Asep pelan hampir mendesah.


"Ga mau ah. Panggilnya A'a sama eneng. Ntar kalo pas jejer sama Gita dan Gilang, bingung kan yang di panggil yang mana?" Siska merengut lagi.


"Maunya di panggil apa? ayang...? bebebph? honey?" beberapa panggilan sayang sudah Asep tawarkan untuk Siska pacar barunya itu.


"Eeem... Laela kemarin di panggil apa?" telisik Siska.


"Dia manggilnya ya a'a lah." jawab Asep jujur.


"Apa ya... La aja siih."


"Bo'ong. Masa dua tahun pacaran masih panggil nama." Cecar Siska penasaran sekaligus kepo.


"Eeh... cin."


"Hah...?? mesra benget sih." ledek Siska merasa geli.


"Dia kadang merajuk kalo ku panggil nama. Mintanya di panggil gitu." Asep memang kada mentah banget ya. Seenak udelnya Laela, mau mau aja.


"Jadi ke paksa ya manggil gitu. Ya udah... terserah deh, besok manggil aku apa. Yang pasti aku panggilnya oppa aja ya. Biar sesuai wajah."


"Heeemm. Padahal maunya di panggil akang." Celetuk Asep dengan alis yang di buat ke atas ke bawah, menggoda Siska.


"Hah... akang? Pasanganya apa dong kalo akang?" tanya Siskan agak geli dengan panggilan yang Asep mau.

__ADS_1


"Nyai lah...."Jawabnya cepat.


"Whaaatt. Plis deh. Cermin coba... wajahmu itu Korean beeeuut, masa di panggil akang sih?" Siska masih belum bisa terima dengan saran panggilan dari Asep.


"Kenapa? kan Indonesia banget nyaiii."


Asep terkekeh sendiri dengan usul yang tiba tiba saja melintas di pikirannya beberapa menit yang lalu.


"Aduuh... kok berasa kita hidup di jaman Jaja Miharja deh." Umpat Siska agak kurang setuju.


"Cintailah produk Indonesia." Kekeh Asep lucu.


"Iya... aku cinta. Tapi manggilnya ga ke daerahan gitu juga kali." Protes Siska keukeh.


"Maunya panggil apa?"


"Oppa..." jawab Siska cepat.


"Youbu..." sahut Asep dengan kerlingan mata indahnya menatap penuh cinta pada Siska


"Naah... gitu keren kan." Siska kiblatnya memang drakor ya gaes. Jadi, begitu kata youbo tertangkap rungunya. Siska ketar ketir sendiri kesenangan. Berasa jadi Go Ah-Jung di drama Korea, Lie To me.


"Akang sukanya yang ke daerahan saja, Nyi." Peluknya pada tubuh yang dari tadi sudah ia pepet hampir tak berjarak.


"Tapi... iih. Geli ah dengernya. Ga biasa." Siska masih merasa kurang sreg dengan panggilan kampungan itu.


"Cinta datang aja karena terbiasa, masa manggil akang ga bisa?" Oh... Asep walau pendiam ternyata juga suka ngatur dan maksa ya ternyata. Mungkin karena kelamaan hidup sama ambu. Yang harus selalu taat menuruti aturannya. Tapi itu aturan minum obat dan mematuhi segala pantangan makannya, biar panjang umur. Laah, sekarang. Sepertinya Siska harus siap siap mematuhi segala permintaan Asep dan menjauhi segala larangannya. Kaya Allah aja, kamu Sep.🤭


"Bukan ga bisa..., tapi"


"Hanya belum di coba menjalaninya saja." Potong Asep tanpa menunggu lanjutan alasan Siska.


"Heeemm. Iya deh. Pelan pelan ku coba. Untung aku cinta kamu, kala ga. Huh mana sudi aku manggil begituan." Umpat Siska dengan suara agak pelan. Tapi masih di dengar oleh Asep.


"Maaf. Ga harus kok. Senyaman kamu ajalah. Lupakan saja, aku pernah memberi usul." Ujar Asep kemudian. Haiiiis, kenapa hati Siska sakit mendengar kalimat terakhir Asep.


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2