
Kunjungan Gita ternyata berhasil merubah pikiran Muna untuk melakukan perjalanan bisnis bersama Kevin itu hanya berdua saja.
“Bang … “ panggil Muna saat Kevin baru saja akan merebahkan tubuhnya di kasur empuk kamar mereka.
“Ada apa …?” tanya Kevin mengulurkan dua tangannya agar Muna merapatkan tubuhnya bergabung dengannya.
“Ke Turkinya, lama …?” tanya Muna mendongak ke arah kepala Kevin yang lebih atas darinya. Hal itu tentu saja di manfaatkan Kevin untuk mengecupnya sebentar pada dahi istri kesayangannya tersebut.
“Acaranya hanya 1 malam, Mae. Lama perjalanannya saja yang tentu memakan waktu, yang tidak mungkin hanya dua hari kan.” Jelas Kevin mengeratkan pelukannya.
“Kenapa …?” tanyanya lembut.
“Sepertinya … kita memang sebaiknya hanya pergi berdua saja ya …?” ucapnya pelan pada suaminya.
“Nah gitu donk. Walau sudah punya anak tiga. Kita tetap harus menjaga kemesraan Mae. Apalagi kita pacarannya lama berjauhan. Pas deket, jangankan cip0kan, pegang tangan saja, Mae udah main teriak saja. Ga seru tau.” Kevin mencubit hidung bangir Muna dengan gemas.
“Dosa Bang, dosaaa.” Kekeh Muna mengenang masa serseran mereka berdua saat menjadi OB di kantor suaminya itu.
“Tapi nikmat sayang …” timpal Kevin terkekeh ikut terbayang masa-masa perjuangannya. Antara keinginan untuk bertobat juga sangat menginginkan seorang gadis belia itu.
“Ya tetap saja dosa.” Bantah Muna ikut tertawa.
“Kenapa istriku berubah pikiran …? Takut abang selingkuh ya ?” Kevin sedikit penasaran.
“Sorry ya takut di selingkuhin abang. Ga kebalik?” Tantang Muna.
__ADS_1
“Emang ada yang lebih memesonakan dari abang …?” ucap Kevin dengan sombongnya.
“Pasti ada sih … kalo emang mau.” Ucap Muna lagi tak kalah menyombongkan diri.
“Mae … mau selingkuhin abang …?”pancing Kevin tentu dengan sengaja, walaupun telah tau jawabannya.
“Alhamdulilah. Terniatpun tidak. Malu juga sama buntut udah tiga.” Kekeh Muna memeluk suaminya.
“Amin. Ganti topic aja Mae. Ga asyik ngobrolnya masalah itu, unfaedah banget. Mending kita sepakati tentang realisasi anak ke empat kita.” Lanjut Kevin.
“Oh … penting banget yah punya anak empat?”
“Jelas. Penting banget. Kesannya kita ga adil sama keturunan Hildimar. Kalo Cuma Aydan yang nurunkan nama itu, sayang.” Kevin merayu lagi.
“Ga usah alasan itu deh bang. Yang hamil itu Muna. Yang ngejalaninnya juga Muna, nyerinya, mulesnya, perubahan hormonnya dan segala macamnya itu semua Muna yang ngerasain. Jadi pliish jangan teror Muna dengan permintaan egois abang lagi.” Ujar Muna dengan hati-hati dan lembut.
“Iya sih ga maksa, tapi berulang-ulang. Sama saja bohong.” Bantah Muna pada jawaban suaminya.
“Maaf. Ini akan menjadi ungkapan terakhir. Setelah ini abang janji ga akan ulangi minta Mae buat hamil lagi. Sesiap Mae saja, dan kapan Allah ijinkan kita di kasih ya sayang. Sekali lagi … maaf.” Kevin akhirnya agak merasa bersalah dengan permintaannya yang agak lain dari kebanyakan suami pada umumnya.
“Maafkan Muna juga ya bang.” Muna agak tak merasa nyaman.
“Belum lebaran kita kok udah maaf maafan ya, Mae …?” Kekeh Kevin melanjutkan aksi favoritnya.
Tidak usah di tanya mereka ngapain selanjutnya. Bukan Kevin jika membiarkan istrinya segera tidur tanpa ia ganggu terlebih dahulu. Anak yang Muna lahirkan memang tiga. Tetapi tentu Kevin yang lebih permanen menyesap manik kecil kecoklatan yang masih menjadi sumber kehidupan Adera sekarang. Tidak ada kata bosan. Baginya Muna selalu menggoda dan mengiurkan. Bahkan lebih dari santapan lezat manapun. Muna tetap selalu menjadi urutan teratas untuknya.
__ADS_1
Perjalanan bisnis pun tiba, Nyak dan babe sudah berada di kediaman Hildimar. Tanpa di minta kedua orang tua setia itu selalu dengan senang hati menjaga dan merawat cucu mereka. Bagi mereka Aydan, Annaya dan Adera adalah hiburan gratisan. Yang selalu menjadi sumber kerinduan pasangan Betawi tulen itu.
Muna seorang direktur, walau hanya masih berijazah strata satu namun itu jebolan Luar Negeri. Otaknya encer, bodynya tentu masih sangat langsing terjaga walau sudah beranak tiga. Warna bola mata yang tidak hitam tentu membuat rupanya terlihat menawan. Belum lagi tampilannya dengan pakaian mewah yang sudah Kevin siapkan untuknya. Membuat para mata yang melihat Muna memandang kagum pada istri seorang pengusaha sukses itu.
Kabar istri CEO yang seorang direktur itu memang jarang terdengar di khalayak ramai. Sebab, istri Kevin memang jarang mengikuti acara atau perkumpulan para istri pengusaha. Karena alasan klasik yaitu sedang repot dengan urusan anak mereka yang masih balita.
Namun penampilan Muna malam itu mematahkan segala ghibahan para relasinya. Mereka mengira istri Kevin adalah seorang wanita yang mungkin berpenampilan ambruradul mengingat usia anak mereka yang tergolong kecil dan jarak lahir yang sangat rapat.
Ada sepasang mata yang terlihat patah hati melihat tangan Kevin yang tak pernah lepas dari pinggang wanita cantik berpakaian mahal dan penampilan elegan malam itu. Dia adalah Triyas. Wanita yang memang sengaja di utus untuk membangun hubungan baik dengan perusahaan yang Kevin jalankan. Di utus dengan jalan yang di setting dengan tak sehat. Sebab Triyas di kemas dengan kesan yang apik. Tidak seperti perusahaan lain yang selalu menunggu keputusan Kevin dalam urusan membuat kontrak kerja. Kali ini, pihak Triyas yang ingin perusahaan Kevin yang mengikuti aturan mereka. Dengan cara penyampaian dan penawaran yang Triyas sampaikan dengan cara yang berbeda.
“Abang … ijin ke toilet.” Bisik Muna yang lumayan risih dengan tangan Kevin makin erat memeluknya.
Cup. Pipi Muna di cium Kevin sebentar.
“Abang antar.” Bisik Kevin pelan.
“Ga usah … Muna sekalian ambilkan abang minum ya.” Pamitnya sambil mengecup daun telinga Kevin.
Hal itu ternyata membuat geram Triyas yang melihat kemesraan pasangan relasi yang menjadi targetnya tersebut. Sehingga begitu Muna sudah melangkah menjauh dari Kevin. Ia pun memilih mendekati Kevin bahkan tangannya sudah melingkar di pinggang Kevin, so akrab.
“Haaiii … maaf terlambat. Apa bapak datang sendiri.” Ucap Triyas sedikit berbasa-basi.
“Oh … maaf. Saya datang dengan istri.” Ucap Kevin melepas tangan yang melingkar di pinggangnya tadi. Tangannya memang sudah terlepas dari pinggang Kevin, tapi tidaj dengan tubuhnya, pakaiannya sangat terbuka. Belahan garis dadanya sangat tercetak dengan jekas, dan kini buah itu hanya terlihat satu, sebab satunya ia tumpuk di belakang tubuh Kevin, ia buat menempel dekat tidak berjarak.
Muna sudah kembali dari toilet. Ia mengambilkan segela air terlebih dahulu untuk suaminya, tetapi ketika akan kembali pada posisi suaminya berada tadi, ia justru hanya melihat tubuh itu terlihat separuh, sebab separunya lagi sudah tertempel, dempet dengan tubuh seorang wanita yang memang tak berjarak dengan tubuh suaminya.
__ADS_1
Bersambung …