CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 72 : SUDAH SUCI


__ADS_3

Sudah berkali kali Muna melakukan panggilan pada ponsel milik Kevin. Tetapi sampai Muna tiba di tempat yang ia dan Erwin janjikan pun, panggilannya tidak mendapat respon.


"Abang... Muna makan siang dengan pihak kantor akuntan di resto ABC. Kalo ga sibuk, susul ya. Love You." Sebelum menemui Erwin, Muna menyempatkan untuk mengirim chat. Berharap suaminya nanti akan menyusul juga agar Kevin tidak salah paham. Walau chatnya tersebut hanya centang satu abu abu.


"Haii miis." Sapa Erwin yang ternyata bersama Sisil siang itu. Kehadiran Sisil sangat membuat Muna sedikit lega. Tadinya ia mengira akan makan berdua saja dengan Erwin. Tentu Muna tak ingin jika nantinya hal ini akan berbuntut panjang, jika Kevin mengetahuinya.


"Haii... siang. Maaf membuat kalian menunggu." Sahut Muna pada sapaan Erwin tadi.


"Oh..., tidak. Kami juga baru tiba." Jawab Erwin.


"Bu Mona sendiri?" tanya Sisil memastikan, sebab biasanya Muna selalu bersama Nia.


"Iya... kebetulan tadi dari rumah orang tuaku. Dalam perjalanan balik ke rumah, pak Erwin menelpon, saya langsung merubah arah saja," Muna ramah dan sungguh terlepas dari dialeg Betawinya saat bicara dengan orang dalam urusan kantor.


"Oh... orang tua Miss Hildimar juga tinggal di Jakarta?" tanya Erwin berbasa basi.


"Orang tua angkat saya tinggal di Jakarta Barat. Kalau orang tua kandung masih di Cina, abah masih pemulihan pasca operasi transplatasi hati di temani mama di sana." Jelas Muna apa adanya.


Erwin dan Sisil mengangguk, sembari memilih menu makanan yang akan mereka santap bersama.


"Maaf Miss, kita makan dulu ya sebelum membahas urusan pekerjaan." Ujar Erwin sopan dengan mimik wajah yang selalu mempesona lawan jenisnya.


Muna hanya mengangguk, sambil memegang ponselnya. Ia belum sepenuhnya tenang, sebab Kevin belum menerima kabar darinya.


"Permisi, aku ke toilet sebentar." Pamit Erwin pada Sisil dan Muna.


Keduanya hanya mengangguk, sebab sudah tampak sibuk dengan obrolan seputar anak dan wanita.


Bukan hanya centang dua berwarna biru yang Muna terima sebagai bukti jika kabar Muna di respon oleh Kevin. Melainkan kini icon biru berlambang camera yang sedang meronta di ponsel Muna.


Sontak Muna menerima panggilan Video Call dari Kevin tersebut.


"Assalamualaikum, abang di mana?" sapa Muna segera.


"Wallaikumsalam, di rumah Mae." jawab Kevin yang terlihat menggendong Annaya.


"Kenapa ponselnya sulit di hubungi?" tanya Muna agak protes.

__ADS_1


"Lupa mengembalikan ke pengaturan biasa yank, tadi ada meeting." Cengir Kevin.


"Abang sudah makan?"


"Sudah, tadi kak Ay ngajak makan bareng. Sebelum pulang, abang ke ruangan Mae. Kata Nia, Mae ke rumah nyak, babe. Abang kira lama di sana, jadi abang pulang." Jelas Kevin.


"Iya... tadi memang di sana. Waktu di jalan di hubungi pak Erwin, ngajak ketemu dan makan di sini."


"Sama siapa?" Kevin baru mendengar nama itu Muna sebutkan.


"Sekarang sama Sisil." Muna mengarahkan kamera ke arah Sisil berada. Yang kebetulan sedang tak ada Erwin di sebelahnya.


"Heem... sekarang masih makan?"


"Lagi nunggu pesanan datang."


"Oke... lanjutkan saja. Abang mau main sama Naya." Ujarnya seolah mengijinkan Muna melakukan pertemuan tersebut.


Makanan belum tiba tapi, giliran ponsel Sisil yang berbunyi. Segera Sisil merespon panggilan itu, tamoak perubahan raut di wajah itu, mendadak panik dan memutuskan akan segera ke sana.


Muna tidak sempat bicara apa apa, untuk merespon ke resahan yang muncul pada wajah Sisil tadi. Bahkan ia hampir bertabrakan dengan Erwin yang baru akan duduk kembali ke meja mereka.


"Kenapa Sisil terburu buru?" tanya Erwin agak heran melihat Sisil yang berjalan cepat tadi.


"Katanya anaknya di bawa ke IGD." jawab Muna.


"Oh... pasti Epan." Tebak Erwin yang memang tau jika keponakkannya itu sakit sakitan.


"Memang sering sakit?" tanya Muna.


"Ya... Epan memiliki kelainan jantung bawaan sejak bayi. Hanya karena Sisil ibunya, yang begitu telaten merawatnya sehingga bisa bertahan hidup hingga sekarang. Dengan biaya yang tidak sedikit juga." Muna mengangguk angguk mendengar penjelasan itu.


"Itulah sebabnya, Sisil memilih bergabung kantor denganku. Padahal dari segi kemampuan ia mampu menjadi owner sebuah Kantor Akuntan Publik. Tapi kesibukannya dalam hal merawat anak keduanya itu, yang kadang menyita waktunya." Jelas Erwin lagi tanpa di minta oleh Muna.


Dan obrolan terhenti saat hidangan makanan mereka tiba.


Muna sedari tadi melirik steak daging yang tidak tersentuh. Di sebelah Erwin. Sebab itu pesanan Sisil yang terlanjur di pesan dan tak sempat di cancel tadi.

__ADS_1


"Miss yakin hanya makan siang dengan sop iga, bahkan tanpa nasi?" tanya Erwin yang sedikit bingung dengan menu makanan Muna yang low karbo.


"Ah... iya. Memang begitu seleraku."


"Kenyang?"


"Kenyanglah."


"Tapi... steak ini sayang untuk di lewatkan. Makan saja." Dengan mata berbinar Muna menyambut sodoran piring steak tadi dari Erwin.


"Baiklaah." Jawab Muna tanpa malu akan memulai melahap steak tadi.


"Nah kalau gitu kan porsi makan kita jadi imbang. Aku makan berat dengan suguhan makanan full karbo dan protein. Sedangkan kamu, makan dengan dua porsi protein." Kekeh Erwin yang memang terlihat akrab pada Muna.


Sesi makan mereka selesai, pelayan segera membereskan meja mereka atas permintaan Erwin. Sebab selanjutnya, laptop Erwinlah yang bertengger di atas meja itu. Keduanya tampak serius membahas masalah keuangan di rumah sakit milik Muna tersebut.


Tidak tanggung tanggung, hampir dua jam mereka membahas dan mencocokan semuanya. Hingga Muna gelisah waktu bahkan hampir menunjukan pukul 3 sore.


"Maaf miss, kalau urusan pekerjaan. Aku suka lupa waktu, seperti sekarang." Erwin bari sadar jika ia kini sudah menghabiskan banyak waktu bersama Muna.


"Yang penting beres. Saya juga tipe seperti itu, menghabiskan masalah hari ini dalam hari ini juga. Sebab beban besok hari siapa yang tau." Jawab Muna mulai berkemas.


"Oh... syukurlah." Senyumnya kembali terkembang di wajah itu.


"Untuk dua minggu kedepan. Kalau ada apa apa, tolong hubungi Nia ya Pak Erwin. Karena sore ini kami akan bertolak ke Bandung. Kami harus menyeleksi pegawai baru di perusahan suami. Juga ada acara pernikahan keluarga. Jadi, sedikit tidak mau di ganggu dulu dengan urusan rumah sakit." Muna memberi informasi pada Erwin.


"Oh... iya siap. Baiklah Miss. Semoga lancar semua rencana kerja dan pernikahannya. Sampai jumpa."


Muna sudah berada di rumah, segera masuk ke kamarnya dan mandi langsung berwudhu. Sebab waktu Asar sudah tiba.


Cup


Pipi Muna sudah di serang Kevin dengan tiba-tiba, saat Muna baru saja keluar di ambang pintu kamar mandi dalam kamar mereka.


"ABAaang... Muna sudah wudhu." Teriak Muna yang kaget sekaligus kesal sebab Kevin mencium pipinya saat tubuhnya sudah suci.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2