
Gilang tampak begitu piawai saat beraksi di dapur mereka. Sedangkan Gita seolah memang terlahir menjadi penonton yang baik pada sebuah tontonan reality show di dapur, saat suaminya Gilang
menjadi pemeran utamanya di sana.
Nasi goreng rendang plus telor ceplok saja, makanan yang di buat oleh sang suami. Dengan tampilan sedrhana bahkan tanpa toping, garnis apapun, namun cukup membuat Gita ngiler, dan ikutan lapar. Belum lagi pas itu di sendok kedalam mulutnya oleh suami. Tentu saja cita rasanya naik ke level maksimal. Sebab rasa nasi goreng buatan suaminya, tak kalah dengan buatan kang nasi goreng gerobakan yang biasa nongkrong pengkolan, dan akan segera bubar jika ada petugas datang mengamankan area umum tersebut.
“A… dulu selain jadi tukang kebun. Apa aGi jadi tukang penjual nasi goreng juga?” tanya Gita di sela kunyahannya.
“Hah… kenapa?” tanya Gilang heran dengan pertanyaan sang istri.
“Enak beeut ini a’… sempurna.” Puji Gita menganga mulutnya lagi minta di suap.
“Ya gak, atuh neng. A’a teh, gak pernah jualan nasi goreng. Karena itu pekerjaan yang cukup aneh neng.” Ujarnya terus berganti ganti menyuap nasi goreng kemulutnya dan mulut istrinya.
“Kenapa?”
“Ya aneh aja gitu neng. Katanya teh, jualan nasi goreng mah, untuk mencari sesuap nasi. Laaah, kok nasinya udah ada malah di jual. Kan mestinya tinggal di suap saja, beres.” Jawab Gilang dengan
cuek.
__ADS_1
“Otak a’a dari apa sih, kok bisa bisanya berpikir sesomplak itu?” kekeh Gita.
“Otak a’a teh tadinya terdiri dari lemak mengandung DHA dan O-mega yang menghasilkan neuron yang bisa menangkap informasi dengan cepat dan akurat. Tapi kesininya malah terkontaminasi dengan sekitaran a’a yang selalu manis dan menginspirasikan hidup aGi untuk terus bisa buat dia tersenyum.” Ea… ea…ea. Gula lagi turun harga niih. Jadi obral saja dengan yang manis manis.
“Ya Allah, terima kasih engkau berikan aku jodoh yang tampan, baik dan lucu ini. Semoga kami panjang jodoh ya Allah Amiin.” Doa Gita yang kemudian juga di aminkan oleh Gilang.
“AGi yang harusnya sangat amat bersyukur bisa dapat eneng yang super baik hati, cantik, rendah hati sekali. Tetap bersahaja ya neng. Agar kelak jalan kita lapang menuju janah.” Ujar Gilang serius.
“BTW… gimana kehidupan aGi, ibu dan teteh saat hidup bersama ayah di rumah kakek Sudrajat?” Gita sama dengan readers semua, masih Kemal ya kan? kepo maksimal dengan cara hidup mereka tinggal dalam satu rumah dengan satu suami dan dua istri di dalamnya.
“Kami tinggal dalam satu kamar yang cukup besar, ada kamar mandi di dalamnya. Jadi aktivitas kami lebih banyak di dalam kamar tersebut saja. JIka ada ayah, kami di perlakukan baik, di ajak makan bersama dan tidur bersama ayah, berempat. Tapi jika tak ada ayah, kami. Eh, terutama ibu. Di suruh kakek melakukan pekerjaan layaknya pembantu, mulai dari membersih rumah, mencuci hingga memasak. Para ART, segera di istirahatkan. Dan anehnya, jika ayah tidak ada, tante Lisa pasti tak ada juga di rumah itu. Gak tau kemana. Yang tersisa hanya Gibran. Yang kadang memang sengaja kakek ajak bermain di luar dan dalam rumah dengan sandal atau sepatu yang tidak di lepas. Keluar masuk sesukanya, sengaja mengotori rumah besar itu. Belum lagi mainan yang sengaja di obrak abrik, bahkan juga kadang kamar kami di masuki oleh Gibran, untuknya mengambil mainan yang di belikan ayah khusus untuk aGi, neng.” Kisah Gilang lirih mengingat masa masa itu. Masa di mana ia pun butuh bermain, berkumpul dengan ayahnya tanpa berbagi. Hanya Gilang tak mengerti saat itu apa hubungan mereka. Ia tau jika Gibran anak tante Lisa, tapi tak pernah tau siapa ayah Gibran. Mestinya pasangan tente adalah om. Tapi, entah dengan Gibran. Di mata Gilang saat itu, Gibran adalah saudara laki laki yang harus di lindungi, di sayang dan mengalah saja padanya, sebab ia jauh dari ayahnya.
“Saat Gibran berulang tahun, aGi masih ga ngerti kenapa ayah harus berdiri menemaninya meniup lilin. Sebab selama ini, ayah yang berdiri di belakang a’a untuk tiup lilin. Walau hanya kami lakukan dalam kamar kami. Sehingga a’a berpikir, artinya ayah aGi dan Gibran adalah orang yang sama. Sejak itu, aGi minta penjelasan pada ibu. Tapi ibu hanya bisa menangis. Tak bisa menjelaskan apa apa.” Gita menepuk pundak suaminya pelan, ia tau Gilang sesak mengisahkan masa lalunya ini.
“Entah apa yang ibu dan ayah sepakati, sehingga keesokkan harinya. Kami pergi dari rumah besar itu. Lalu pindah ke rumah yang sekarang ibu tempati. Sejak itu, kami hanya tinggal bertiga, warung teh Arum sekarang, dulunya adalah warung makan kecil kecilan. Jual aneka menu sarapan dan kue.” Ceritanya.
“Ayah… tidak ikut?” penasaran Gita.
“Ayah hanya mengantar awalnya. Merapikan rumah, memasukan beberpa perabotan untuk menunjang kehidupan kami di rumah penuh kenangan tersebut.” Jawab Gilang datar.
__ADS_1
“Apa ayah dan ibu bercerai a’…? tanya Gita pelan.
“Itulah luar biasanya ibu. Walau pernah di madu, walau tak sekali ditinggalkan oleh ayah. Kata itu tak pernah sekalipun ia ucapkan pada ayah. Doa ibu kuat neng, sabar ibu luas menantikan suaminya kembali. Hanya setahun lebih kami hidup di sana tanpa ayah. Selanjutnya ayah datang kerumah kami. Dan tak pernah pergi pergi lagi meninggalkan kami. Hingga maut menjemputnya, saat a'a selesai ujian SMP. Ayah tak lagi bekerja di perusahaan manapun. Ia lagi lagi memilih hidup sederhana bersama kami. Usaha warung ibu bergerak lancar dan maju, sedangkan ayah menjadi tukang ojek kadang di pinjam jasanya menjadi seorang supir oleh para tetangga. Hidup kami dari nol neng, tapi tetap selalu bersama. Memiliki keluarga lengkap terdiri dari ayah, ibu dan kakak itu sangat membahagiakan neng, walau dengan sedikit uang. Semunya terasa berbeda dengan suasana saat di rumah gedongan, tapi bagai di neraka.” Lanjut Gilang lugas.
“Apa sekarang aGi tau, kenapa ayah bisa kembali pada ibu?”
“Cinta… neng. Karena Cinta. Nenek meninggal tak ada alasan bagi ayah terus bertahan dalam ikatan perkawinannya dengan tante Lisa yang sama sekali tidak ia cinta. Ayah yakin tak pernah menggauli tante Lisa sebelum resmi menjadi suami istri. Maka diam diam dia melakukan tes DNA terhadap Gibran. Dan saat hasil tes itu sudah ia ketahui, ia mengajak tante Lisa berbicara dari hati ke hati.” Ujar Gilang lagi.
“Lalu…?”
“Dan tante Lisa mengaku, jika Gibran sungguh bukan anaknya dengan ayah. Lisa juga di paksa menikah dengan ayah. Padahal ia sudahn hamil dengan kekasihnya. Kakek sudah terlanjur bangga memiliki menantu se-kaya Lisa, sehingga lebih rela mengusir ayah dan mempertahankan menantunya itu ketimbang anak sendiri. Pun Gibran yang terlanjur ia sematkan dengan nama belakangnya, tetap ia akui sebagai cucu yang harus terus ia bela.”
Bersambung…
Maaf ya readers… bukan maksud mau jual bawang hanya merasa perlu mengisahkan semuanya agar tak ada vespa eh dusta di antara kita.
Makasih timpikan mawar, kopi dan votenya ya
Lop All❤️❤️❤️
__ADS_1