
Gibran tak hanya menghentikan langkahnya, melaInkan sungguh terhenyak dengan suatu kenyataan jika Gilang Surenra adalah anak dari Edy Sudrajat yang sempat ia kira ayahnya, dan memang cukup banyak menghiasi hari harinya di masa ia berusia balita.
“Mah… Jika itu adalah Gilang yang sama. Apa ia tidak menaruh dendam pada kita? Sebab, kakek memang sangat tidak adil memperlakukan mereka saat kita tinggal serumah waktu itu, menurut cerita mamah.” Ucap Gibran agak cemas.
“Saat itu kamu masih sangat kecil, kamu mana tau jika berebut mainan dan sebagainya adalah tindakan tidak terpuji. Semua itu di luar kehendakmu, dan kamu juga tak sadar melakukannya. Maka, berbesar hatilah jika kita di beri ksempatan untuk bertemu dan meminta maaf pada mereka. Sebab waktu yang telah berlalu tak bisa di ubah, kesalahan yang telah di buat tak bisa di hapu. Yang dapat di lakukan sekarang ialah, berbenah diri. Karena semua perbuatan ada komsekuensinya masing-masing.” Tanggap Lisa dengan bijaksana. Gibran hanya mengangguk,
“Sudahlah, hadapi semuanya dengan tegar. Posisi kita sekarang di bawah, kamu butuh pekerjaan. Rendah hatilah, jika dia adalah Gilang anak mbak Dian, sampaikan permintaan maaf mama dan kakek Sudrajat pada mereka.” Lanjut Lisa kembali.
“Baik mah, Gibran jalan dulu. Doakan Gibran ya mah.”
“Iya sayang. Semangat.” Ujarnya menatap haru pada sang anak yang harus gigih mencari pekerjaan. Paling tidak untuk menghidupi dirinya sendiri. Sebab, keuangan mereka sedang tidak baik-baik saja, karena uang mereka terpakai untuk biaya pengobatan suaminya.
Sejak Edy Sudrajat yang tidak lain adalah ayah Gilang. Pergi untuk kembali pada Dian, Arum dan Gilang. Lisa dan Gibran tetap bertahan di rumah keluarga Sudrajat. Betapa kuat rasa sayang kakek Sudrajat pada menantu pilihannya tersebut.
Hingga lulus Sekolah Dasar Gibran merasakan kasih sayang dari sang kakek dan ibu tunggal baginya. Namun, lama kelamaan Kakek Sudrajat bemakin berubah tak lagi manis pada mereka, atas hasutan istri mudanya yang tak suka akan kehadiran Lisa dan Gibran di rumah itu. Sedapat mungkin istri mudanya mencari cela untuk mengusri Lisa dan Gibran. Hingga hubungan Lisa dan Reza, dapat ia buktikan.
Amima janda muda, yang tentu masih haus akan harta juga licik. Dengan bantuan kekasih gelapnya, ia mampu mengulik bahkan melakukan tes DNA bahwa benar Gibran bukan cucu kandung suaminya Sudrajat. Ia ikuti dan mata-matai gerak gerik Lisa yang telah lama tersimpan rapi. Hidup layaknya suami istri bersama Reza Hanggito, bahkan rela pindah agama demi cintanya pada Reza, Tapi tidak dengan kepercayaan yang di anut Gibran. Lisa tetap memberikan kebebasan pada anaknya untuk melanjutkan kepercayaan, sama seperti agama yang di anut ayahnya secara administrasi.
Lisa dari awal tau ia hamil atas perbuatannya dengan kekasihnya Reza, dan itupun diketahui oleh orang tuanya. Tapi keegoisan merajai dirinya, yang tak sudi merestui pernikahan putrinya dan Reza karena berbeda keyakinan. Tadinya Lisa mengira, jika ia hamil, maka Mereka memang menjebak Edy sehingga berhasil menikah dengan Lisa yang juga terjebak dalam pernikahan yang tak seharusnya terjadi, bahkan tanpa cinta.
__ADS_1
Sejak menikah, bahkan di malam pertama mereka. Edy sudah mengatakan pada Lisa jika ia bahkan sudah memiliki anak dua. Ia tak ubahnya berstatus bagai duda. Secara tegas dan terang ia mengatakan, bahwa ia tak bisa menjalankan tugasnya sebagai suami secara batin. Sedangkan untuk menolak pernikahan itu pun, Edy mengakui tak bisa. Sebab, itu paksaan sang ayah. Dan berimbas pada ibunda nya yang sakit.
Edy tak sanggup melihat airmata yang tumpah karenanya lagi. Ia hidup terlunta demi bersatu dengan Dian bahkan putus kuliah saja, telah membuatnya sakit. Apalagi jika hal itu ia ulangi. Edy bukan anak durhaka, ia sangat menyayangi dan hormat pada sang ibu.
Kadang tanpa sepengetahuan kedua istri sahnya, Edy lebih memilih tidur bersama ibunya. Ingin masik berlama lama di kamar Dian, tentu hanya mencuri curi dari sang ayah. Sedangkan berlama-lama di kamar bersama Lisa pun, tak membuat hatinhya nyaman. Ada sepotonghati yang harus selalu ia jaga. Hanya ia dan Lisa yang tahu bahwa sungguh, mereka terikat dalam pernikahan hanya karena selembar surat nikah, tetapi tidak dengan hubungan layaknya sumi dan istri.
Edy tau, Lisa intens bertemu dengan ayah biologis Gibran. Tapi, ia hanya pura-pura tak tau. Sehingga Lisa mengira, ia terlalu cantik menutupi permaianannya. Maka Edy membiarkan saja, Lisa tetap menjalin kemesraannya pada kekasuhnya tersebut. Namun, berbeda perlakuan jika pada Gibran. Bagaimanapun dalam akte ia tercatat sebagai ayah Gibran. Baginya, menyayangi titipan Allah yang tak berdosa itu wajib hukumnya. Maka, Edy memang sempat memperlakukan Gibran dengan baik, yang ia rawat sedapat mungkin seperti menyayangi Arum dan Gilang anak kandungnya.
Jangan tanya betapa sakitnya hati Dian, ibunya Gilang. Yang harus menerima kenyataan jika ia di madu. Walaupun Edy selalu meyakinkannya bahwa hanya Dian yang di cinta. Dan ia hanya pernah berse tubuh hanya dengan Dian, wanita yang sangat ia cinta setelah ibunya. Dian sedapat mungkin memilih percaya dan tidak berburuk sangka saja. Selain itu, ia pun tak pernah sekalipun melihat kemesraan suaminya dengan madunya tersebut.
Kecuali perlakuannya pada Gibran yang memang terlihat penuh sayang. Namun, Edy selalu beralasan jika Gibran berhak mendapat kasih sayang, sebab ia hanyalah korban.
Tok
Tok
Tok
Pintu ruangan Gilang di ketuk dari luar. Segera suara menyilahkan masuk pun terdengar dari dalam, membuat Gibran memberanikan diri untuk memutar gagang pintu untuk membukanya.
__ADS_1
“Selamat siang pak Gilang.” Sapa Gibran dengan sopan.
“Oh… Gibran. Iya selamat siang, silahkan masuk.” Jawab Gilang berdiri untuk menyambut uluran tangan Gibran.
“Silahkan duduk, santai saja. Maaf menyita waktumu.” Ujar Gilang berbasa basi.
“Tidak pak. Samasekali tidak menyita waktu, bahkan saya senang sekali mendapat ajakan bertemu oleh orang kedua di perusahaan ini.” Jawabnya.
“Pengumuman memang belum dinyatakan secara resmi. Tetapi namamu masuk dalam kategori. Hanya Pak Kevin selaku CEO di sini, meminta saya untuk menginterviewkamu kembali. Terkait kemungkinan di mana penempatanmu, jika di terima.” Jelas Gilang yang sesungguhnya telah nyata jika Gibran dan 20 nama lainnya memang sudah di terima. Gibran tidak menyahut. Mendengar kemungkinan di terima saja hatinya sudah melenyot, apalagi dapat kesempatan untuk memilih bidang mana.
“Boleh saya tau apa motivasimu bekerja di perusahaan ini?” tanya Gilang lagi.
“Klasik pak. Saya sudah 2 tahun lulus dari sebuah perguruan tinggi. Lowongan pekerjaan dari yang negeri sampai swasta sudah sering saya ikuti, tetapi belum ada yang nyangkut.” Jawab Gibran apa adanya.
“Selama dua tahun sebagai Sarjana Kominikasi, kamu bekerja di mana?” tanya Gilang yang tiudak membaca ada pengalaman apapun pada CV Gibran.
“Saya bekerja sebagai crew store di sebuah minimarket pak.” Jawabnya jujur.
Bersambung…
__ADS_1