
Asep tertegun dengan nama yang Siska sematkan untuknya di ponsel itu. Asep bukan orang udik yang buta Korea. Ibunya bahkan menikah dengan lelaki berkewarganegaraan Korea. Masa ia tidak bisa membedakan arti opa dan oppa.
Bukankah itu adalah panggilan sayang untuk saudara laki laki di dalam bahasa Korea. Lalu, apa selama ini Siska menganggapnya saudara laki laki atau lelaki kesayangannya.
Lamunan Asep terusik karena panggilan perawat yang memintanya menggiring bed Siska menuju ruang rawat inap. Sementara Siska masih terlihat tertidur tenang dan nyenyak.
"Pak... pasien sudah kami berikan obat pereda nyeri, dan sepertinya rasa sakitnya mereda, sehingga pasien bisa tidur nyenyak. Tolong, pencet bel ini jika pasien bangun ya pak. Untuk kami periksa kembali." Ramah perawat itu dengan mata berbinar berbicara dengan Asep, seperti tatapan orang jatuh cinta.
"Iya terima kasih." Jawab Asep cuek dan singkat. Yang kemudian melepas tas Siska yang dari tadi secara tak ia sadari menyilang di dadanya.
"Ada yang di tanyakan lagi pa?" tanya Perawat tadi masih dengan gaya dan polah agak genit, kelebihan ramah.
"Oh tidak ada, terima kasih." Ulang Asep mengucapkan kata terima kasih.
"Baiklah... permisi." Pamitnya dengan langkah agak berat dan terus memandangi wajah tampan Asep.
Asep bingung harus berbuat apa? merebahkan diri di kasur besar di ruangan VVIP itu, tapi takut tidurnya ke bablasan. Nanti bisa bisa, Siska yang menungguinya tidur. Ingin pergi dari ruangan itu, tapi nurani dan jiwa kemanusiaannya tak setuju untuk meninggalkam Siska sendiri di sana.
Akhirnya mengambil sebuah kursi makan yang terdapat di ruangan itu, lalu duduk di samping tempat tidur Siska yang tangan kanannya tertancap selang infus itu.
Lama Asep mengamati wajah sendu nan ayu di depannya. Berkali kali Asep bertanya pada hatinya. Sepenting apa Siska dalam hidupnya, sehingga ia tadi bahkan sempat rela akan menyerahkan kartu debitnya untuk membiayai pengobatan Siska di sini.
"Apa iya hanya karena ia sahabat baik Muna?" tanya Asep dalam hati.
"Tapi kenapa juga akhir akhir ini kami sering saling dukung terutama urusan kuliah dan pekerjaan?" Telisiknya lagi pada hatinya.
"Sepertinya... Siska tak begitu gencar mendekatiku. Tetapi kenapa ada yang kurang dalam sehari jika tak saling sapa dengannya, walau hanya lewat room chat?" Asep mengingat kesehariannya bersama Siska yang selalu dan terus terusan mereka lakukan.
Tanpa Asep sadari room chat di aplikasi WAnya di penuhi obrolannya dengan Siska saja. Dari hal penting sampai yang tidak penting semua mereka jadikan topik pembahasan.
__ADS_1
Asep lebih tergelitik lagi soal gelar Siska sebagai calon istri keponakan Dadang. Apa itu artinya, ia sudah di jodohkan dengan Siska oleh tantenya yang tidak lain adalah mamanya Muna . "Ah... mungkin akunya saja yang merasa sebutan calon istri itu berlebihan, mungkin tante Rona hanya bercanda. Agar terlihat ada relevamnsinya jika biaya Siska di tanggung semua olehnya." Pikir Asep kemudian. Dan pikiran ini lah yang membuat para readers gemesh bahkan ada yang bilang Asep satu frekuansi sama kanebo kering, kaku kaya wajah pocong yang masih ke iket. Datar gaes.
"A'Asep...?" Siska sudah tadi bisa membuka matanya. Tapi karena Asep fokus pada lamunannya, sampai tak sadar jika yang ia pandangi, matanya melek segede mata sapi.
"Eh... udah bangun." Jawab Asep agak terbata.
"Kita di mana?" tanya Siska yang sebenarnya tau jika ia berada di rumah sakit, sebab tangannya berinfus. Tapi rumah sakit mana, itu yang ia tanyakan.
"Taman Safari, Sis." Jawab Asep sambil nyengir.
"Pantesan ada monyet nyengir di sini." Jawab Siska mengedarkan tatapan matanya ke sekeliling ruangan untuk mencari identitas tempat itu.
"Kita di Hildimar Hospital, A'...?" tanya Siska saat melihat mug yang ada di nakas sebelah bednya.
"Iya..." Jawab Asep agak pelit bicara. Sembari memencet bel, sesuai perintah perawat tadi. Jika Siska sudah bangun, agar memencet bel itu.
"Astagafirullahalazim. Kamu kok lebay banget siih bawa aku sampai di rawat di sini. Aku tuh cuma demam tadi, ga parah juga. Bawa ke rumah sakit daerah kenapa...? ni... tau di rawat di sini, kayaknya ajalku malah makin deket A'... ga bisa bayarnya." Siska sudah berangsur pulih, buktinya dia sudah mengeluarkan jurus dumel dumelnya.
"Iya sih makasih. Tapi... hmm. Semoga sakitku ga parah, jadi bisa bayar biaya selama di rawat di sini." Siska memilih mengalah saja, tak melanjutkan omelannya untuk menyalahkan Asep yang sudah membantunya.
Jika tidak ditangani dengan baik, radang usus bisa menimbulkan sejumlah komplikasi yang berbahaya. Komplikasi yang dapat muncul antara lain: Dehidrasi dan kekurangan gizi. Peradangan pada kulit, mata, dan sendi saat radang usus kambuh.
"Selamat sore menjelang malam bu... Siska." Eja dokter yang segera melakukan visite pada Siska.
"Iya dokter." Jawab Siska dengan ramah pada dokter yang lumayan ganteng itu.
"Gimana ... masih pusing?"
"Agak berkurang dokter."
__ADS_1
"Ada rasa mual ingin muntah lagi atau ingin BAB...?" tanya dokter mulai memasang alat bantu dengar untuk memeriksa pasiennya.
"Ga ada dokter."
"Syukurlah kalo dengan obat obatan bisa mereda."
"Saya sakit apa dokter?" tanya Siska penasaran dengan sakitnya.
"Yang pasti tidak hamil, sebab memamg belum nikah. Ya kan pak." Goda dokter tadi masih ingat wajah panik Asep saat mengantar dan menjaga Siska selagi di IGD.
Asep hanya buang muka, tau. Di goda begitu saja ia tiba tiba merasa butuh oksigen lebih, sebab merasa ruangan itu semacam kedap udara. Hah... ada apa dengan Asep.
"Jadi bu, usus anda mengalami peradangan. Penyebab paling umum dari radang usus adalah infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau pun parasit. Jenis virus yang dapat menyebabkan radang usus adalah cytomegalovirus, yang biasanya menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Mungkin akhir akhir ini anda terlalu sibuk sehingga sering mengabaikan jadwal makan?" panjang lebar dokter itu menjelaskan pada Siska. Ia hanya melongo, mengingat ingat semua beban tugas kantor juga kuliahnya yang memang membuatnya agak keteteran.
"Tapi ga parah kan dokter?" tanya Siska memastikan keadaannya.
"Kita lihat perkembangannya dulu. Semoga tidak terjadi komplikasi." Jawab dokter sambil memperhatikan laju tetesan infus dan memberikan kode kode pada perawat di sampingnya.
"Kali komplikasi gimana?" tanya Siska agak khawatir.
"Ya... operasi saja. Kita potong bagian usus yang rusak itu." Jawab dokter dengan santainya. Siska merengut, menyesal dengan pola makannya yang sembarangan bahkan cendrung irit super irit. Demi menghemat waktu pikirnya.
"Assalamualaikum." Suara laki-laki nyelonong masuk ke ruang rawat inap Siska.
Bersambung...
Hayooo siapa kira kira
Makasih buat yang selalu setia nungguin kelanjutannya.
__ADS_1
Sarangeee