CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 116 : BUKA KARTU


__ADS_3

Kaki Gilang serasa tak berpijak di lantai. Bergeser pelan memeluk Gita istri tercinta.


Adegan drama teletubies berpelukan pun terjadi, tanpa rasa canggung dan malu lagi. Pucuk kepala Gita berkali kali di kecup oleh Gilang.


"Neng... selamat ya udah mau jadi bunda. Haii anak ayah, kuat dan sehat di dalam ya." Gilang terduduk menghadap perut Gita. Kebiasaan yang telah lama ia lakukan, namun baru kali ini ia mendapat kepastian, bahwa di dalam rahim Gita istrinya, sungguh telah di buahi benih cinta mereka selama ini.


Gita tak bisa menjawab, hanya tetes air mata haru yang mengalir dari dua bola matanya, sungguh terharu biru. Mimpinya menjadi nyata.


"Boleh permisi kita periksa kondisi lainnya?" tanya bidan itu, memecah euforia pasangan duo G tersebut.


"Oh iya, silahkan bu." Ujar Gita berubah semangat.


"Tadi waktu cek, ada liat noda lagi ga di dalan celananya?" tanya bidan sambil memasang alat bantu untuk memeriksa Gita.


"Tidak ada, bersih saja." Jawab Gita seolah baru sadar jika flek itu tak keluar lagi.


"Baiklah. Tapi, akan tetap saya berikan obat penguat kandungan ta bu. Biar kokoh nempel di dalam." Terangnya kembali.


"Iya... minta yang bagus ya bu." Antusias Gilang mendekati sang istri.


"Pak... ijin ya. Acara nengok jabang bayinya di tunda dulu untuk 2 sampai 3 minggu ke depan. Takutnya, kandungan lemah. Karena garis duanya pun masih agak remang tadi. Bukan melarang, hanya sekedar menganjurkan." Ucap Bidan itu dengan tenang dengan kata yang sangat santun.


"Kami terima kasih sudah di kasih saran begitu bu. Siap, di jamin ga berani towal towel si eneng dulu kalo begitu bu." Tawa Gilang mengembang.


"Eh, jangan salah. Ibu hamil wajib di sentuh dan di manja. Hanya jalan lahirnya yang di blokir." Giliran ibu bidannya yang terpingkal dengan bahasanya sendiri.


"Iya... siap bu, paham." Ujar Gilang mendudukkan Gita dari posisi rebahannya.


"Bapak sama ibu ke sini, hanya sebagai tamu pernikahan ini kan?"


"Iya... kenapa bu?"


"Rencana pulang, kapan?"


"Jika sesuai rencana pasti besok. Tapi, karena ada dede bayi. Kita tunda ya bunda?" Ujar Gilang sumringah menyebut Gita dengan panggilan sakralnya. Membuat jantung Gita meletup letup, seolah baru kemarin ia di tembak Gilang untuk jadi kekasihnya.


"Kami akan kembali ke Bandung, sampai mendapat ijin dari ibu bidan saja." Jawab Gita lembut sambil mengelus perut ratanya.

__ADS_1


"Mantap. Baiklah, jika bapak tidak keberatan, bisa ikut ke rumah saya. Untuk mengambil obat yang akan di konsumsi oleh bunda." Ujar Bidan tak lepas tersenyum, turut bahagia akan berita kehamilan pasiennya tersebut.


"Neng... aGi tinggal lagi ga papa ya. Ambil obat buat dede bayi." Gilang menepuk perut rata Gita dengan lembut.


"Iya... pulangnya bawakan pisang goreng ya A'...." pinta Gita tiba-tiba


"Hah...? cari di mana atuh neng?" Kejut Gilang tak menyangka.


"Sabaaaar. Selera ngidam ngidamnya udah mulai tuh. Jadilah bapak siaga." Tepuk bidan itu di bahu Gilang dengan akrab.


"Oh... ii... iya. Nanti aGi carikan." Gilang menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tak bisa memastikan apakah akan mendapat pisang goreng pesanan ibu hamil muda tersebut.


Tak henti-hentinya Gita mengusap perut ratanya, sambil terus memandang tespack bergaris dua di tangannya, sepeninggalan Gilang tadi..


Pelupuk matanya basah, sembab akibat air mata haru setelah tau, sungguh rahimnya telah berbuah. Entah terlalu lebay atau wajar, pokoknya hari itu Gita sangat bahagia. Merasa hidupnya sempurna, saat mengetahui sebuah kebenaran tersebut.


"Gita... selamat ya." Teriak Muna tanpa mengetuk pintu kamar, langsung menerjang ke atas ranjang Gita.


"Iya... makasih ka Mun." Balas Gita sambil memeluk Muna.


"Ternyata tafsiran abang bener ya. Udah lama kayaknya dia curiga kamu hamil Git. Bahkan abang bilang, nanti anak kalian cewek. Karena kamu suka makan ikan. Kamunya nyadar ga sih?" tanya Muna pada Gita.


"Ya gitulah, kakak mu itu. Sangat detail memperhatikan sampai hal kecil." Lanjut Muna memuji suaminya.


Gita tersenyum, mengangguk sambil mengerjabkan matanya.


"Kak Mun, kami boleh ijin ga masuk kerja ga ya?"


"Boleh... boleh banget. Tinggal saja di rumah ini, atau di resort. Biar ada yang bikin makanan buat kalian berdua. Anggap berbulan madu saja, walau cuma di Desa." Ujar Muna antusias.


"Iya kak Mun kasih ijin, bosnya kan kak Kevin."


"Tenang... nanti aku yang jamin."


"Beneran ya."


"Iya... kamu wajib istirahat dulu. Jangan anggap sepele kehamilan. Kita mungkin merasa kuat, dan selalu mampu. Tetapi janin di dalam sini, kita tidak bisa tau kondisinya. Tak semua orang berkesempatan mengandung. Karena itu, bersyukurlah dengan cara menjaganya." Usap Muna pada perut adik iparnya tersebut.

__ADS_1


Reet. Suara pintu kamar Gita terdengar terbuka melebar.


"Giit... apa kakak bilang. Kamu hamil kan." Suara Kevin tanpa permisi memasuki kamar yang di huni oleh adiknya itu.


Gita tersenyum sambil mengangguk. Dan menerima pelukan dari sang kakak yang selalu baik padanya itu.


"Jaga calon keponakan kakak ya. Itu anugrah." Ujar Kevin mengelus sayang pucuk kepala Gita.


"Siap. Tapi, kami boleh nambah cuti ya kak. Sampai bidan ngebolehin kembali ke Bandung." Gita tak mau menyianyiakan kesempatan untuk ijin dengan CEO di kantornya.


"Boleh dong. Asal di ijinkan oleh ibu dewan komisaris." Jawab Kevin menjawil dagu Muna.


"Kenapa aye, bang?" tanya Muna lucu.


"Kalo Gilang sama Gita di sini, abang harus di Bandung mam."


"Ya ga papa." Jawab Muna langsung.


"Ga papa gimana? Rumah sakit apa kabar?" Celetuk Kevin memeluk istrinya.


"Ya... biar Muna yang pantau rumkit. Biar abang fokus di Bandung dulu, sama Cisarua juga sudah akan produksi kan." Pasangan suami istri itupun berdemokrasi, membagi tanggung jawab pekerjaan mereka.


"Yakin, sangguo pisah dari abang, Mae?" goda Kevin pada Muna.


"Ga ke balik nih? Abang kali yang ga bisa pisah jauh dari Muna?" balik Muna menggoda suaminya itu.


"Jadi... kami ga boleh cuti nih?" celetuk Gita, merasa bersalah. Jika pasangan itu akan di repotkan olehnya.


"Oh tidak. Kami hanya bercanda, ya kan bang?" jawab Muna cepat.


"Iya Git. Ga usah sensi gitu. Mamam Ay tuh, badannya bisa biduran kalo sehari saja ga kakak goda, Git." Kekeh Kevin.


"Biduran...? Apaan sih?" tanya Muna bingung.


"Itu ruam di kulit. Banyak merah merah, kayak gatelan. Biasa banyak di sekitar leher gitu." Entah sejak kapan Kevin jadi orang yang seolah ahli di bidang kesehatan.


Plakh, Muna langsung memukul paha Kevin pelan.

__ADS_1


"Itu bukan biduran atau ruam. Tapi, emang abang aja yang trampil buatnya." Ujar Muna buka kartu.


Bersambung...


__ADS_2