
Bohong saja jika hati Dian ntidak pernah luka oleh kehadiran Lisa dalam rumah tangganya. Walau berkali-kali suaminya berkata tidak pernah mencintai wanita itu. Tapi mereka pernah menjalani rumah tangga bukan. Walaupun Edy Sudrajat pernah bersumpah tak pernah berhubungan badan dengan Lisa. Tetap saja itu biarlah menjadi tanggung jawabnya pada sang pencipta.
Sehingga secara kasat mata, bagaimanapun. Lisa pernah menyandang status sebagai istri sah Edy. Bahkan Lisa yang di perkenalkan sebagai menantu di keluarga Sudrajat, Bahkan Gibran yang bukan anak biologis Edy pun, memiliki hak paten untuk menyandang nama Sudrajat di belakang namanya. Wajar bukan, jika kini mereka yang paling bertanggung jawab dalam urusan pengobatan pria tua yang pernah menyanjung wanita bernama Lisa itu.
Tapi nurani Dian menolak untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia juga pernah sakit. Bahkan parah, hampir mati. Bukankah hanya karena kemurahan Tuhan saja ia masih bisa merasa sehat sekarang. Lalu, apa haknya berbuat jahat pada orang yang sedang tertimpa musibah.
“Maaf jika gara-gara menemuiku, suamimu jatuh.” Lirih Dian, tiba-tiba merasa bersalah. Setelah tau, jika papa Gibran jatuh, saat di tinngal Lisa menemuinya.
“Tidak mbak. Aku tidak bermaksud menuduh begitu. Tadi hanya menceritakan kronologisnya. Dan maaf. Saya mohon. Untuk kerelaan hati mbak sekeluarga, agar dapat membantu meringankan beban saya. Tolong, bantu pembiayaan kakek Gilang.” Pintanya dengan penuh iba.
Gilang memandang tajam ke arah Lisa. Bagaimanapun wanita itu dulu sering memberi tulang ayam dan ikan yang banyak tulang padanya. Setelah memberikan semua dagingnya pada Gibran. Apa semudah itu, Gilang menghapus memori pahitnya? Gilang pernah luka melihat Gibran dengan lama dudk di pangkuan ayahnya, serta bermain dengan mainan yang mahal. Sedangkan dia, kadang hanya di lipatkan kertas buku saja untuk di jadikan peswat terbang. Yang pernah di remas hinggahancur oleh kakek Sudrajat, saat pesawat itu melesat cepat ke ruang tengah.
Bagaimana hati Gilang saat ini? Ketika di serahkan untuk membiayai kesembuhan seseorang yang pernah menjadi monster dalam hidupnya. Gita merasakan pergolakan hati suaminya. Ia tak pernah lepas mengelus pundak Gilang, agar suaminya tetap ingat. Jika ia selalu ada di pihak suaminya, mendukungnya, menjadi penawar rasa pahit yang masih melekat dalam hatinya.
__ADS_1
“Saya secara pribadi tidak bisa menjanjikan apa-apa. Sebab, saya adalah seorang janda yang tidak memiliki penghasilan apa-apa. Tidak ada warisan yang di tinggalkan almarum suami saya. Pekerjaan tetap yang memungkinkan saya mendapatkan uang jaminan hari tua juga, saya tidak punya. Sekarang nasib saya hanya bergantung dari pemberian dua anak saya. Teh arum yang juga seorang janda beranak dua, dengan usaha menjual air isi ulang dan warung kecil-kecilan. Yang hanya mampu untuk membiayai keperluan kami sehari-hari. Pun Gilang yang Alhamdulilah memiliki pekerjaan mapan, juga tidak bisa di pastikan bisa banyak membantu. Bukan karena dia pelit. Hanya, dia juga baru merintis usahanya. Dia juga memiliki keluarga yang harus ia nafkahi yang memang menjadi tanggung jawabnya. Walaupun, Pak Sudrajat juga kakeknya. Yang juga harus menjadi bagian nyang harus ia beri perhatian. Tapi tidak serta merta semua itu bisa menjadi tanggung jawab kami.” Panjang Dian berkomentar untuk menanggapi permintaan Lisa.
“Saya tau … secara kasat mata. Mbak dan anak-anak sudah tidak semestinya bertanggung jawab dengan kakek Gibran. Tapi, mungkin saya meminta lebih kepada sesama manusia saja mbak. Saya mohon belas kasihan kalian.” Ujarnya menunduk meraih kaki Dian.
“Astagafirullahalazim. Mama Gibran jangan begini.” Dian segera membuat tubuh Lisa setara dengan tubuhnya. Dia bukan Tuhan yang harus di sembah bukan. Mereka hanya sesama manusia yang sama-sama tak berdaya.
Mungkinn secara garis keturunan, benar saja. Gilang lah yang keturunan yang paling benar. Sungguh darah Sudrajat yang mengalir di tubuhnya. Hal itu yang menjadi dasar Lisa ingin menyerahkan segala biaya pengobatan Sudrajat. Tapi, bukankah selama ini Lisa yang menikmati semua harta kekayaan Sudrajat. Mestinya walau dalam tubuh Gibran tidak mengalir darah Sudrajat, tetapi warisan Sudrajat semua terwaris oleh mereka. Sehingga wajar, mereka yang membiayai pengobatan Sudrajat.
“Saya tidak tau harus minta tolong pada siapa, selain mbak dan anak-anak mbak. Sebab, mbak lihat sendiri bagaimana kondisi suami saya. Semuanya akan membuatku gila.” Tatapan Lisa kosong. Kalut dengan segala musibah yang menerpanya sekarang.
“Maaf kami tak sempat membawa buah tangan.” Pamit Gita memeluk Lisa ibu Gibran, sambil secara diam-diam meletakkan amplop yang ia isi dengan uang 5 juta tadi ke tangan ibu Gibran.
“Hah … terima kasih.” Ucap Lisa sedikit terkejut. Ini adalah kali pertamanya bertemu Gilang sejak di masa kecilnya dulu sering ia curangi. Dan malah sekarang, anak kecil itu sudah beristri, yang bahkan memberinya salam tempel.
__ADS_1
Ketiganya pulang dengan perasaan masing-masing. Ada luka yang ternganga akibat kenangan masa lalu kemabli menari-nari, ada iba yang tak di undang datang merayap pada buku-buku hati mereka. Dan ada doa yang terbentang panjang dalam saluran nadi mereka, untuk orang-orang yang memiliki pertalian darah dengan mereka. Siapakah Gilang yang ingin memanjakan dendam? Siapakah Dian yang ingin menjadi pahlawan saat ia pun tak mampu untuk menjadi relawan. Siapakah Gita yang selama ini hanya sebagai pendengar setia tentang masa lalu suaminya. Siapa mereka semua yang ingin melebihi Tuhan, jika tak memberi maaf pada masa lalu.
“Gibran … ini isinya lima juta rupiah.” Lisa terkaget-kaget saat menghitung isi amplop yang Gita berikan untuknya.
“Bukankah tadi istri Gilang bilang, tak sempat menyiapkan buah tangan. Lalu mengapa ampop dengan isi yang banyak ini bisa dengan mudah ia berikan untu mama. Apa Gilang sekaya itu ?” tanya Lisa ingin tau.
“Ma … kak Gilang itu CEO di perusahaan Gibran bekerja.” Jawab Gibran menanggapi pertanyaan ibunya.
“CEO artinya … Gilang pemilik perusahaan itu. Dan itu artinya, mbak Dian hanya merendah saja, saat berkata jika Gilang sedang merintis usahanya?” cecar Lisa tak sabar.
“Bukan … pemiliknya adalah Pak Kevin Sebastian Mahesa. Kakak dari Gita Putri mahesa, istri kak Gilang.” Jelas Gibran pada sang ibu yang seketika, menyulap mata sendunya dengan tatapan penuh binary kebahagiaan.
“Wooh … artinya Gilang itu mendapatkan jackpot. Beruntung sekali nasib anak itu. Kalau begitu, nanti mama tidak hanya meminta Gilang membiayai pengobatan kakekmu. Tapi, untuk biaya operasi dan pengobatan papamu juga, akan mama mintga Gilang saja yang bayarkan.” Ucapnya bersemangat.
__ADS_1
“Mama … kita ini siapanya mereka?” hardik Gibran pada sang mama.
Bersambung …