
Setelah acara resepsi usai, Gita dan Gilang sungguh hanya tertidur lelap. Tak ada suara decakan bersahutan, ataupun le nguhan luck nad menguar di kamar spesial untuk pengantin baru. Senyap. mungkin hanya ada dengkuran halus yang Gilang ciptakan sebab selalu demikian jika ia tidur dalam keadaan lelah.
Mereka memang tidur cepat. Sama dengan bangunnya. Selain akan melaksanakan sholat subuh, keduanya pun sudah tau, sama tau sesi berikutnya adalah persatuan Indonesia. Hanya mereka alihkan waktunya saja menjadi siaran tunda. Di saat fajar mulai menyingsing.
Decitan bersahutannya pasti udah saingan deh sama kokok ayam yang tugasnya ngebangunin manusia yang sedang bobo nyenyak, lupa waktu mengais rejeki.
Tidak mungkin kan mereka melewati indahnya kamar pengantin hanya untuk tidur tanpa bercinta. Rugi banyak modal udah M - M an keluar.
Jadilah beberapa cap stempel pun terbubuhi di area dada keduanya. Di dada ya, tidak lagi di leher. Mereka memang melakukannya penuh gelora, tapi tetap saling mengingatkan untuk tidak membuat tanda plat merah itu di leher atau di tempat yang mudah di lihat orang lain. Takut kejadian di Swiss terulang kembali. Malu, parah.
"A'a..."
"Hmm..."
"Kita pulang hari ini?" tanya Gita masih dengan tangan yang melingkar di atas perut Gilang. Keduanya masih tak berbusana, masih melungker lingker dalam selimut yang sama. Nempel sulit pisah.
"Iya, besok senin sayang. Kita ga ada ambil cuti kan, dan emang ga bisa cuti bareng." Jawab Gilang mengingatkan.
"Gimana kalo pulangnya kita pake mobik eneng aja, A'...?" usul Gita yang sesungguhnya cendrung meminta dengan penuh harap untuk di setujui oleh suaminya itu.
"Kenapa ? malu pake mobil yang a'a beli, karena hanya mirip Alpard?" telisik Gilang menuduh Gita tak bisa menerima mobilnya yang termasuk biasa sajam
"Ga gitu a'. Sayang aja ga di pake. Masa cuma jadi pajangan di garasi." Gita memberi alasan yang logis.
"Kalau mobil eneng di bawa ke Bandung, garasi kita yang kepenuhan. A'a ga merancang garasi itu, untuk memuat mobil lebih dari satu lho." ungkap Gilang lembut agar Gita tidak salah pengertian.
__ADS_1
"Mobil a'a, taroh aja di rumah ibu. Biar di pake teh Arum, jadi kan mereka mudah kemana-mana sama ibu. Teh Arum di khusrusin dulu biat bisa nyetirya." Gita memberi masukan lagi.
"Hmmm... boleh deh. Ga usah khursus, teh Arum waktu punya suami juga sempat kemana mana pake mobil, nyetir sendiri kok. Tapi eneng bener ijinkan teh Arum pake mobil a'a...?" tanya Gilang lagi.
"Masalahnya di mana? timbang mubazir ga ke pake kan." Gita memang baik hati dan tidak sombong. Jika beberapa orang harus sibuk mengamankan hartanya, juga tidak sedikit wanita yang ingin merangkum semua harta suaminya, tidak bagi Gita. Sungguh ia tak suka dengan kesenjangan, maka sedapat mungkin pelan pelan ia setarakan.
"Makasih ya neng. A'a tambah deh sama istri sholehah ini." Peluknya yang selalu gemes dengan Gita. Makin hari makin bijak dan dewasa.
"Jangan di gempur lagi. A'a yang nyetir pulang. Ntar kecapean lho." Gita mengingatkan.
"Iya... nyicip doang." Isapnya nakal pada printilan merah jambu berlingar kecoklatan di dada Gita.
Matahari di Jakarta sudah berarak menuju barat pertanda senja akan menghiasi langit. Mengiringi ke pulangan Gita dan Gilang kembali ke Bandung. Tempat mereka selanjutnya membina biduk rumah tangga mereka yang di dasari saling cinta.
Dengan mobil sport hitam Audi R8.
Gilang tampan, punya jabatan pula. Di tambah lagi di fasilitasi mobil mewah walau milik istri. Semoga Gilang tetap rendah hati, dan tidak jumawa.
Tamatlah riwayat Gilang jika ia berani macam macam pada Gita. Jangan lupa Gita punya Kevin, Daren juga Diendra yang siap merujak bebeg jika berani mengkhianati Gita. Belum lagi para emak readers setia di serial ini. Bahkan ada yang siap menyantet online ke Gilang. Ujung ujungnya, nyak othor yang di salahkan kalo sampai ini terjadi.
Untuk itu, kita usahakan agar Gilang tetap memiliki ahklak mulia berbudi pekerti yang luhur, berkarakter sempurna, karena tipe lelaki seperri ini hanya ada di dunia halu. Sebab di dunia nyata, orang macam ini umurnya ga bisa panjang. Cepet di bil Tuhan, takut kelamaan hidup malah tercemar dosa dosa dunia. Ini ngomong opo seeeh."
Ibu Gilang, Arum dan kedua anaknya. Sudah pulang lebih pagi dengan pesawat. Jadi tak kenal rasa capek. Yang ada hanya sisa rasa kikuk, menyadari betapa megah dan antusias besannya menerima anak lelaki kesayangannya.
Ibu Gilang sesungguhnya minder. Merasa tak sepeserpun uangnya keluar untuk membantu pernikahan anaknya tersebut. Hingga sebelum di rias oleh MUA ia menangis sesungukan di dada Ali, adik kandungnya yang datang dari Lampung.
__ADS_1
"Sudahlah teh, apa yang membuatmu sesedih itu. Anakmu bahagia, menantumu menyayangimu, besanmu juga tak pernah menghinamu. Apa yang teteh risaukan?" Ali menenangkan kakaknya tersebut.
"Banyak macam yang menjadi sumber ketakutan teteh, Li. Kami orang tak punya."
"Tapi Gilang pekerja keras, teh." Potong Ali dengan cepat.
"Besanku sangat kaya raya, aku takut Gilang akan lupa diri. Dan melupakanku sebagai ibunya." Resah ibu Gilang yang tidak percaya diri terutama setelah melihat kemegahan acara resepsi itu.
"Teteh, bahkan aku. Pamannya yang tidak pernah punya waktu lama bersamanya pun masih sangat ia hargai. Apalagi teteh, adalah wanita yang telah melahirkan, merawat dan mendidiknya selama ini." Ali selalu meyakinkan dan mematahkan ketakutan ibu Gilang.
"Uang bisa mengubah karakter seseorang Li." Isaknya pecah. bukiran kristal itu terus saja membanjiri pipi keriputnya.
"Allah. Allah satu satunya tempat mengadu, mengiba dan bermohon. Hanya Allah yang mampu membolak balikkan nasib seseorang. Bukan uang. Tangismu itu, hanya menghalangi kebahagian yang telah menjelang masa depan Gilang yang makin gemilang. Apa teteh sudah tak punya Tuhan. Tak punya tempat untuk bersandar? Gilang hanya menikah, bukan kiamat. Bukan akhir dari kisah dunia. Ikhlaskan ia telah memiliki istri. Doakan rumah tangganya agar ia tetap seimbang membagi kasih sayangnya pada kalian. Doamu yang di ijabah Allah. Untuk itu, hapus keraguan, ketakutan bahkan prasangka burukmu pada Allah." Panjang dan lebar Ali menasehati kakaknya yang sangat melankolis, hanya karena anak laki-lakinya telah resmi menikah.
Dian, ibu Gilang menarik nafas panjang. Memelintir biji tasbih. Beristigfar, memohon ampun akan dosanya telah berprasangka buruk. Dalam hatinya menyetujui, jika dunia belun berakhir hanya karena Gilang telah beristri.
Berbesar hati, menerima takdir dan yakin jika Gilang adalah anak laki-laki yang akan bertanggung jawab terhadap istrinya juga tetap berbaktu pada ibunya.
Bersambung...
Nih nyak tambah lagi pic yang bisa porak porandakan hati readers.
Biar kita ngiri berjamaah🤭
Audi R8 yang mulai besok selalu di pakai Gilang kemana mana.
__ADS_1