CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 39 : LEMBUT NAMUN NUSUK


__ADS_3

Kalibrasi merupakan proses pengecekkan dan pengaturan akurasi dari alat ukur dengan cara membandingkan suatu standar yang tertelusur standar Nasional maupun Internasional dan bahan bahan acuan yang tersertifikat. Dan hal tersebut sebaiknya di lakukan satu kali dalam setahun. Jika lewat tentu akan berpengaruh dengan hasil analisa yang tentu juga akan mempengaruhi daya baca dan daya tafsir oleh yang berkepentingan.


Tentu saja Muna gusar, saat tau peralatan laboratorium di rumah sakitnya sudah lama tidak di kalibrasi. Itu akan mempengaruhi analisa para dokter dalam mendiagnosa dan menangani penyakit yang di derita oleh pasiennya. Bukankah ia sudah membayar dengan gaji dan tunjangan yang tinggi untuk dokter dokter hebat yang bekerja di rumah sakit itu, tapi bagai mana jika alat acu di rumah sakit itu justru sudah sangat bobrok.


Muna menyempatkan dirinya untuk pulang di jam makan siang. Untuk menyu sui Anaya, juga memastiakn jika Aydan sudah menyelesaikan makan siangnya. Dan pukul 2 siang, saat Nia menelponnya mengatakan jika laporan dari pihak manager Lab dan keuangan sudah siap di mejanya, pun segera kembali ke ruangan direktur tersebut.


Muna meneneliti dengan cermat dengan bantuan Nia, dan sebelumnya ada bagian bagian yang sudah di tandai oleh Nia dengan stabilo. Penanda bahwa bagian tersebut memang ada terdapat kejanggalan. Ketidak cocokan antara laporan lab dan keuangan.


Dalam laporan keuangan, jelas tertera jika setahun lalu ada di lakukan kalibrasi. Namun, dari pihak Lab. Tidak bisa menunjukkan bukti sertifikatnya. Namun, biaya pengeluaran untuk kegiatan tersebut sangat jelas sudah di keluarkan dari pihak keuangan.


“Minta pak Mahmud ke ruangan saya.” Pinta Muna pada Nia. Dan asisten itu pun segera mengangguk serta beringsut memanggil orang yang Muna maksudkan.


“Selamat siang bu Mona.” Sapa Mahmud agak bergetar.


“Siang. Pa Mahmud, ada yang ingin bapak sampaikan sebelum saya menyampaikan paparan laporan ini.” Muna belum mengeluarkan taringnya. Ia masih memberi kesempatan untuk kepala Lab itu mengakui perbuatannya terlebih dahulu.


“Maaf. Saya salah bu.” Akunya tiba tiba.


“Apa salahmu?” pancing Muna tenang.


“Tidak melakukan kalibrasi sesuai ketentuan.” Jawabnya mengaku perbuatan salahnya.


“Bapak tau efek perbuatan bapak?”


“Tau bu.”


“Jadi menurut bapak sebaiknya bagaimana?”


“Siap, akan segera melakukan kalibrasi tersebut.”

__ADS_1


“Dalam laporan keuangan, jelas tertera bahwa dana untuk kegiatan tersebut sudah keluar, benar?”


“Benar bu.”


“Artinya…?” Muna sengaja melemparkan jawaban itu pada yang bersangkutan. Belum mau menghakimi kesalahan itu, masih menunggu niat baik Mahmud untuk mengakui perbuatannya.


“Artinya dalam waktu dekat hal itu akan segera kami laksanakan.”


“Kapan?”


“Besok bu, kami akan datang mendaftar pada pihak berwenang.”


“Sekarang…!! Dihadapan saya.” Ucap Muna dengan nada meninggi.


“Ba..bbaaaik bu.”Gugupnya terbata. Dan mengambil ponselnya untuk menghubungi pihak yang akan melakukan pengecekkan tersebut.


“Siap, ibu memanggil saya.” Sapa Sinta datang dengan ramah pada Muna tanpa beban. Muna mengerti dengan bahasa tubuh orang yang baru masuk ini. Bukan orang yang bisa di hadapi dengan keras.


“Iya. Ini di tahun lalu sudah ada pengeluaran dana untuk melakukan kalibrasi. Tapi dari pihak laboratorium belum melaksanakan hal tersebut. Anggap saja pelaksanaannya hanya tertunda, jadi nanti jangan ada pengeluaran sepeserpun untuk biaya kalibrasi yang akan di lakukan dalam waktu dekat. Jika tarif tahun ini berbeda dengan tarif tahun lalu, pastikan tidak ada pihak yang memanfaatkan kita dengan semena-mena. Mengerti?” Panjang lebar Muna menyampaikan kalimat penjelasan pada Sinta.


“Siap, baik bu. Akan kami pastikan tidak ada biaya keluar tanpa pertanggung jawaban.” Jawab Sinta tegas.


“Bagaimana pak Mahmud? Kapan di mulai?”


“Siap, besok akan segera di mulai dan mungkin akan berlangsung kurang lebih 7 hari.” Jawab Mahmud dengan wajah agak bingung.


“Oke… baik. Saya sendiri yang akan ikut memantau kegiatan tersebut secara langsung.” Jawab Muna, membuat hati Mahmud makin resah. Bagaimana ia menjelaskan jika uang yang akan di gunakan untuk membayar kegiatan itu sudah ia gunakann untuk membeli mobil untuk gun diknya. Kebayangkan bagaimana reaksi Muna jika tau alasannya, melakukan korupsi itu.


“I…iiya bu.” Jawabnya masih dengan rasa gugup yang menyelimuti pikirannya. Dalam ruang berAC pun peluhnya sebesar biji jagung. Tampaknya saja ia berdiri tegak, aslinya lututnya sudah bergetar lemah, hampir ambruk.

__ADS_1


“Pak Mahmud, silahkan siapkan hal yang perlu di siapkan untuk besok.” Jawab Muna yang sesungguhnya tau jika Mahmud dalam mode resah dan gelisah.


“Bu Sinta, silahkan duduk. Mau minum apa?” tawarnya ramah dan mengajak Sinta duduk di atas sofa.


“Oh… air putih saja bu.” Jawab Sinta pelan agak sungkan.


“Nia, tolong air mineral dua botol ya. Eh Tiga. Sekalian untukmu.” Perintah Muna pada Nia yang selalu siap sedia. Dan ia pun segera melaksanakan printah tanpa menjawab lagi.


“Bu Sinta, terima kasih. Laporan keuangan yang kalian buat rapi. Dan sudah sesuai dengan acuan standart penggunaan dana. Tetapi, sebaiknya lain kali jangan teledor dalam hal pengeluaran yang belum tentu kebenarannya. Seperti dana Kalibrasi tahun lalu, mengapa ibu keluarkan hingga seratus persen. Sedangkan pertanggung jawabannya tidak ada?” Muna lebih melakukan pendekatan secara face to face dengan bagian ini. Sebab, ia tidak ingin di anggap sebagai pimpinan yang arogan. Ia ingin di anggap patner dalam hal memimpin rumah sakit ini.


“Oh untuk itu. Saya mengakui kesalahan saya. Sebab pak Mahmud sangat meyakinkan sekali, bahkan waktu itu sempat datang beberapa orang yang kami kita itu adalah TIM penguji. Karena itulah saya tidak ragu dalam hal mengeluarkan dana hingga lunas. Tetapi, hingga sekarang saya minta sertifikatnya. Tak kunjung selesai. Saya sangat berterima kasih atas kejelian ibu dalam hal ini. Tadinya saya mau melapor pada pak Kevin. Tapi masih sungkan dan merasa tak berani melaporkan ini.” Papar Sinta jujur. Dan benar saja dengan pendekatan begini bawahannya justru merasa nyaman dalam hal menyampaikan laporannya pada ibu direktur.


“Sebenarnya, kesalahan pak Mahmud fatal bu. Dan ibu pun teledor dalam hal mengeluarkan dana, bisa jadi kecurigaan lho, mungkin ada konspirasi antara ibu dan pak Mahmud. Tetapi, saya sedang tidak berminat membawa hal ini ke ranah hukum. Saya masih ingin memberi kepercayaan kepada kalian dalam hal menjalankan pekerjaan sesuai tupoksi kalian. Jadi, waspadalah sebab ini adalah peringatan pertama. Semua sudah dapat saya baca, maka pesan saya berhati-hatilah dalam bekerja. Tugas kita mulia di sini, dan pekerjaan adalah lahan amal untuk kita. Tak perlu takut pada pak Kevin, juga tak usah sungkan pada saya. Sebab ada Tuhan yang senantiasa melihat dan menghitung amal budi baik kita dalam menjalankan tugas. Anak kita yang memakan uang yang kita peroleh dari pekerjaan ini, maka berikan nafkah halal untuk mereka.” Sinta tertunduk mendengar ucapan lembut namun menusuk di kalbu. Bagaimana tidak, jika sesungguhnya ia pun sudah menerima uang, sebagai bonus dari Mahmud atas dana yang berani ia keluarkan tersebut.


Bersambung…


Hari ini kasih double up deh


Mulai besok ga nemenin sahur ya


Karena upnya setelah berbuka puasa saja 🙏🙏🙏


Happy reading.


Okeeeh


Lop Yu all


🌹🌹☕☕👍👍🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2