CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 120 : SIARAN ULANG


__ADS_3

Siska mana mau melewatkan kesempatan, saat tangannya di tuntun pada benda yang baru saja melesat paksa ke inti tubuhnya. Yang membuatnya kini meringis, perih masih terasa sakit. Maka, ia mencengram benda yang baru di kenalkan Asep padanya bernama oppa. Oh, tidak... hancur luluh harapan siska menikah dengan pria berwajah Korea itu, dan ingin beromantis ria, hidupnya akan seindah drakor. Di mana memanggil pria kesayanangan dengan panggilan oppa. Tapi Asep malah menamai, burungnya dengan sebutan oppa. Kebayangkan jika Siska panggil opaa, maka Asep nantinya akan dengan suka rela menyodorkan burungnya agar segera berkicau di beranda goa miliknya, buseeet dah.


Heeii, cengkraman tangan Siska sungguh membuat oppa salah kaprah. Oppa kembali berkedut-kedut. Terbangun merasa bukan tangan yang biasa mengelusnya di kamar mandi. Tangan yang mencengkramnya kali ini berukuran lebih kecil dan halus. Belum lagi gerakan memeganggnya kadang kuat kadang melemah. Oppa tidak hanya terbangun, namun justru lebih galak, tegak dang mengeras sendiri.


"Oh... Tidak Nyai. Kamu harus tanggung jawab. Oppa minta siaran ulang." Celetuk Asep melorotkan celananya sehingga nampaklah kini, oppa sudah lebih mirip tugu Monas yang menjulang tinggi dan kokoh.


"Oppa... masih sakit." Rengek Siska manja sekaligus taku untuk mengulang peperangan kembali.


"Ga sesakit tadi Nyi. janji pelan pelan." bela Asep untuk oppa yang sudah semakin siap untuk bertempur.


"Ga mau... beneran masih sakit banget pa." tolak Siska pada suaminya.


"Yeobo..." bisik Asep di telinga Siska.


Rontok.


Pertahanan Siska rontok jika sudah mendengar panggilan sayang dari Asep begitu.


Itu bagai mantra perunduk baginya. Membuat hatinya ketar ketir, tak kuasa bertahan dengan pendiriannya untuk selalu menolak ajakan lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya.


Apa lagi tubuhnya masih telan jang. Apa Siska mampu untuk katakan tidak untuk permintaan lelaki pujaannya tersebut.


Tadi bisikan Asep bagaikan azimat di telinganya, kini tangannya yang sudah mulai menggerayang lembut daerah rawan candu di bawah bawah tubuh Siska.


Seketika siska bergeli njang kegelian. Belum lagi sosoran bibir Asep sungguh tak dapat ia tolak, selain mengikuti ritme syahdu yang tiba-tiba tercipta dengan sendirinya.


Lidah keduanya terbelit satu sama lain. Tangan Siska selalu di antarkan Asep untuk terbiasa memijat oppa dengan lembut. Asep terbuai dengan elusan yang kadang kuat kadang  melemah di batang oppa yang memang sudah sangat tegang.

__ADS_1


Asep melepas pagutan bibir mereka, merangkak turun ke area leher, namun tak berani memberikan tanda merah di sana. Kejadian barusan saja sudah pasti akan membuatnya malu, saat lampu terang ia melihat jika jahitan bajunya berada di bagian luar. Dan itu sempat di lihat ibu dan ayah Siska. Pasti mereka tau jika anak dan menantunya baru saja berusaha membobol gawang untuk melanjutkan keturunan keluara Herman.


Benda berjajar di hadapannya mencuat ke atas, pucuk coklat kemerahmudaan itu terlalu sayang untuk tidak di lumuri air liur. Parahnya, suara desa han siska benar benar mampu membuat Asep semakin merasa tertantang untuk terus menyusuri lekukan pahatan tubuh indah ciptaan Tuhan tersebut.


Asep tidak hanya berlama-lama di pucuk berjajar itu, tapi sudah semakin turun ke perut bumi. Dan kali ini, Asep memilih untuk membuat cetakan kemerahan itu tepat di area paha bagian dalam tak jauh dari mesin pabrik pembuatan anak itu.


Satu, dua, tiga ... lebih dari satu.


Kepalanya sibuk kadang di sebelah kiri kadang di sebelah kanan.


Oooh tidak, bahkan Kevin yang cassanova pun tak pernah terdengar membuat tato di sana. Apalagi Gilang yang minim pengalaman.  Lalu, mengapa Asep se pro ini. Sungguh ternyata diam-diam selama ini Asep hanya sangat amat menahan diri untuk tidak berbuat senakal sekarang, saat mereka masih belum halal.


Siska sudah lupa tadi sempat menolak oppa. Buktinya kini saat kepala mereka kembali sejajar, dan oppa mulai merasukinya kembali, Siska sudah tak punya daya untuk bilang tidak.


“Oppa… pelan pelan.” Siska mengingatkan saat merasakan benda yang lumayan besar dank eras itu kembali terasa menumbuk numbuk intinya.


Bagaimana Siska bisa berdiam diri saat tumbukan itu terasa makin dalam dan kencang, kini nalurinya yang membuatnya mengerakan pinggul bagian bawahnya untuk ikut mengikuti ritme yang tercipta dengan alamiah.


Siska abai dengan rasa perih yang sempat ia rasakan tadi, ia merasa di bagian intinya melembab dengan sendirinya. Rasa ingin kencingnya datang pun tak ia hiraukan, ia terus mencoba untuk bertahan menikmati oppa yang sudah bagai penguasa di dalamnya. Intinya berkedut, menarik nafas dalam lalu menghembuskan untuk mengatur nafas bagi Siska adalah hal yang dapat ia lakukan di bawah kungkungan suaminya.


Namun celaka, hal itu justru membuat oppa merasa terjepit.  Membuat Asep yang kini mengeluarkan suara anehnya, langsung dari kerongkongannya.


“Akh…”


Siska bingung dengan ekspresi


suaminya sendiri. Tetapi makin aneh lagi saat iua merasakan intinya makin basah dan perihnya agak hilang. Mungkin karena gerakan oppa memang terasa lembut dan pelan, sehingga siska sungguh sadar jika ia sedang berada di nirwana bersama

__ADS_1


suaminya.


“Oppa… sarange.” Bisik Siska lembut


di telinga suaminya.


“Yeobo, nado saranghae.” Jawab Asep yang merasa ada sesuatu yang membuncah ingin keluar dari dalam dirinya.


Saat pompaan tadi terasa pelan,


Siska sangat dapat menikmatinya. Ia kadang menggigit bibirnya sendiri menikmati sensasi yang di berikan oppa. Sakit dan nikmat kali ini datang bersamaan dalam intinya, oh inilah surge dunia yang orang orang pendahulu rasakan.


Tapi kesininya, Siska dapat merasakan justru lebih dalam dan makin keras menguat menusuknya. Ia merasa agak basah, pikirnya mungkin ia sungguh sungguh sudah terkencing kencing karena ulah suaminya. Pun Ritme yang Asep suguhkan tak selambat tadi, saat ada jeda yang terasa melambat, namun syahdu. Gerakan bagai memompa yang Asep lakukan, sudah membuat Siska nyaman dan terhanyut dalam gelombang asmara yang dapat mereka nikmati bersama.


Lagi, Asep lupa pelan. Desakan


larvanya yang membuatnya tak bisa menunda untuk kembali melesat cepat. Dan hal itu membuat Asep tak bisa sepelan tadi, oppa mengamuk di dalam sana. Membesar, menguat dan menghentak semakin cepat, Kali ini Siska memilih menggigit bahu Asep saja. Sebab hanya itu yang paling dekat dengan bibirnya. Karena bibir Asep sudah tertempel sibuk pada salah satu pucuk benda berjajar di dada Siska.


Nyeess… bibit premium Indo-Korea itu pun tertumpah dengan sukses dan selamat tanpa gangguan.


Dan bukan kaleng kaleng. Ternyata


pergulatan itu terjadi hampir dua jam. Sebab saat oppa keluar dari liang surgawinya. Kumandang adzan subuh berkumandang yang artinya mereka harus segera bergegas mandi besar dan wajib melaksanakan ibadah yang sebenarnya.


Basah, basah, basah mandi madu.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2