
Entah selain efek ngidam, Gita kena sindrom apa? Sehingga pagi itu, ia seolah amnesia jika sedang berada di Desa Cikoneng dan memang di larang banyak bergerak dan bekerja berat. Bahkan ia lupa jika tengah berbadan dua, sehingga setelah mendengar kata ‘Ngidam’ yang ia dengar dari suaminya mendadak ia kembali heboh.
“A’a … bau jigoooooong.” Mendadak sadar jika ia sedang hamil dan dalam masa ngidam. Maka, mulai celakalah nasib Gilang suami siaga itu.
“Iis … ish, ga usah treak-treak. Iya … iya nih. A’a sikat gigi.” Rutuk Gilang beranjak bangun untuk menyikat gigi dan menguras aroma basi dalam mulutnya.
“Dasar ibu hamil, labil. Biasanya mau-mau aja tuh di cip ok, bangun tidur aja bisa tahan ga nafas 15 menit, engap-engap dah. Wanita oh, wanita. Aku makin cinta padamu.” Batin Gilang di dalam hati sambil memandang wajahnya di cermin wastafel di kamar mandi. Mana berani ia keluarkan uneg-unegnya, sebab istrinya sekarang lebih mirip bom molotop yang kapan saja siap meletup. Jika ia salah bicara saja apalagi bertindak.
Selama Gilang di kamar mandi, Gita hanya berdiri ke arah luar jendela. Memandang bunga dan dedaunan hijau yang tumbuh menyejukkan samping rumah Kevin. Pikirannya ikut sejuk, saat melihat pekarangan kecil yang tertata rapi di sana. Tapi entah, ketenangan pikiran itu tahan untuk berapa lama.
“Eneng … udah wangi niih. Haaaah.” Entah apa Gilang sudah memikirkan efek dari perbuatannya barusan. Apa dia ikut lupa jika ibu hamil muda itu sensitive level 30. Dengan percaya dirinya, Gilang memeluk tubuh Gitadari belakang, dan berani memamerkan wangi mulut, yang menurutnya sudah segar itu.
“Hoeek … hoeek.” Mendadak perut Gita mual. Ingin muntah, tapi tak tau memuntahkan apa. Sebab ia baru bangun tidur bukan, terakhir makan pukul 3 dini hari sebelum tidur semalam. Setelah mereka pesta makan ikan bakar di tengah malam.
“Eneng kenapa …?” Gilang berlari menyusul Gita yang segera menuju wastafel, berusaha memuntahkan apa saja yang bisa keluar dari dalam perutnya.
Gita menggeleng-geleng dan memegang dada Gilang agar tak dekat dekat dengannya.
“Uwek … uwek.” Sampai keluar air mata pun, yang keluar hanya cairan kuning yang dapat Gita keluarkan. Sungguh menyiksa.
“Neng. A’a bisa bantu apa?” Gilang sedikit memelas. Tak tau salahnya di mana.
Gita hanya menggelang, sama-sama tak tau maunya apa dan bagaimana.
“Nak … jangan siksa bunda ya. Ayah sama bunda belum pro dengan seleramu. Ga ngerti nak, kamu maunya apa.” Gilang mengelus perut Gita, berharap janin itu dapat mengerti mereka.
Tangan Gita menunjuk-nunjuk gelas di depan meja rias.
__ADS_1
“A’a … tolong itu. Uwweek …, a … air. Wuuueeek.” Gita terbata di sela hebat muntahnya pagi ini.
“I … ya. Sebentar Neng. A’a ambilkan. Eneng yang sabar ya.” Gilang meloncat demi meraih gelas berisi air di meja rias itu, lalu menyerahkannya pada Gita.
Gleeek… pruuush. Gita meminumnya, namun kemudian menyemburnya kembali.
“Kenapa Neng …?’
“Dingin.” Jawabnya singkat sambil masih memegangi perutnya.
“Sebentar a’a ambil yang hangat.” Tanpa menunggu persetujuan Gita, Gilang melesat persisi Gatot Kaca menuju dapur.
Saaat seeet, tara. Gilang sudah kembali menjulurkan segelas air putih hangat untuk istri tercinta dan terrewelnya itu.
Gita dapat menenggak minuman itu hingga habis. Dan sungguh merasa lebih nyaman. Tak ada lagi gejolak ingin muntah. Namun, tubuhnya seketika lemas. Persendian lututnya bergetar, bahkan ia hampir ambruk, terduduk. Gilang belum kemana-mana. Masih menjadi ayah siaga, berdiri bak patung Pancoran yang tak pernah lelah untuk menjaga.
Lemas, itu penampakan Gita sekarang.
“Udah enakan Neng?” tanya Gilang tak berjarak di dekat wajah dan sekitaran hidung Gita.
Istrinya segera memegangi hidungnya, menggeleng-geleng tak jelas.
“A’ … jangan deket-deket. Bau.” Rengek Gita mendorong tubuh suaminya.
“Oke … oke. Selow. Eneng udah ga papa? Eneng mau makan apa?”
Gita menggeleng.
__ADS_1
“Ga laper, cuma mual.”
“Iya … Eneng mual karena perutnya kosong.” Gigih Gilang menciptakan suasana nyaman istrinya.
“A’a mandi aja. Bau apek a’ . Sumpah.” Gita masih memegangi hidungnya.
Gilang menarik nafasnya kasar, baru ingat kemarin habis sepedaan juga istrinya mual. Sepertinya anaknya suka ayahnya yang resik resik. Alias wangi dan bersih.
“Maaf ya … bentar ayah mandi, Nak.” Gilang segera masuk kamar mandi. Entah itu mandi bebek, mandi kambing atau mandi kucing. Pokoknya ga sampai 5 menit, Gilang sudah keluar lagi dari kamar mandi, dengan handuk terlilit di pinggang, rambut basah netes-netes akibat kurang di gososk. Juga sekitaran dadanya masih terlihat mengkilap, karena belum kering sempurna.
Gita tertegun, melihat pemandangan yang sudah sering ia lihat. Tapi berbeda dengan kali ini. Ia semacam terpesona maksimal, dengan rupa suaminya sendiri.
“A’a … sini sebentar.” Sayu mata Gita meminta suaminya mendekatinya yang masih berbaring di atas tempat tidur.
“Heeem, sebenatar. A’ pasang baju dulu.” Sahut Gilang memilih pakaian yang akan ia kenakan.
“Nanti saja, sini sebentar.” Kalimat itu mirip sebuah perintah yang memaksa. Gilang tak berani melawan, ia segera melangkah menuju sisi ranjang, dekat istrinya.
“Nunduk dikit.” Pintanya. Gilang pun mencondongak tubuhnya ke arah Gita.
Apa urusannya dengan tombol kecoklatan dua, di dada Gilang? Awalnya Gita hanya memeganginya, tapi setelah itu ia justru mengulumnmya, sebentar. Hanya sebentar membuat tombol itu lebih basah, tidak hanya sekedar lembab seperti habis mandi tadi. Dan kalian tau, yang merespon itu adalah Jaka. Mendadak bangun, sebab masih satu aliran kabel dengan tombol dua tadi. “Bencana apa lagi ini Tuhan?” Batin Gilang terguncang. Istrinya lemah kandungan gaiish, tapi kenapa begitu nakal menggodanya dengan bermain-main dengan tombol yang tersambung dan masih satu saklar dengan si Jaka. Tak salah semua orang ingatkan dia untuk sabaaaar.
“Makasih a’a. Eneng udah jauh lebih enakkan. Tapi, beliin Eneng choc0 ch!p yang semuanya coklat ya, jangan yang warna warni. Biar mirip sama ini.” Dengan santai dan cerianya Gita menyamakan tombol di dadanya itu dengan choco chip. Bukan masalah harus membeli pesananya itu, selusin juga dia mampu. Tapi apa menurut kalian Jaka mau ikut cari kidaman Gita, saat ia sudah berdiri tegak. Dan itu harus di tidurkan terlebih dahulu bukan.
“Eh … siap Neng. Nanti a’a cari. Tapi, setelah a’ a konser tunggal dulu ya.” Gilang berlari ke kamar mandi. Di sini ujian bagi para suami, saat ingin menjaga kehamilan untuk menghindari keguguran. Namun juga memiliki hasrat kelelakian yang juga harus di tuntaskan. Konser tunggal adalah solusi, sabun adalah sahabat sejati para lelaki.
Bersambung …
__ADS_1