CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 87 : TERBUKA


__ADS_3

Sebelumnya Gilang tak pernah bersikap seromantis itu pada kekasih kekasih sebelumnya. Sikapnya biasa bahkan terkesan acuh saja, danbiasanya memang para wanitalah yang selalu menempel padanya. Mengejar dan


mencari perhatiannya. Tetapi pada masa itu, siapalah Gilang. Hanya seorang pria beranjak dewasa berprofesi sebagai tukang kebun dengan gaji pas pasan yang harus bisa mengatur keuangannya agar cukup untuk membayar kuliah dan memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari hari.


Sungguh jauh berbeda dengan masa kini, yang sudah jauh lebih mapan, bahkan  memiliki istri sah. Yang sudah halal untuk di apain juga. Tentu saja Gilang tak risau lagi untuk melakukan hal hal yang mungkin ia pendam selama ini. Tak seperti masa berpacaran, yang mungkin saja akan membuatnya kebablasan jika terlalu mengikuti kata hati. “Terima kasih makan siangnya istriku.” Ujar Gilang mengambil piring yang telah kososng di depan Gita, lalu menumpuknya menjadi satu dengan piring miliknya. Kemudian mengantarkan ke wastapel cuci piring. Ah, Gilang perhatian sekecil itu sudah bikin hati para emak emak meronta lho.


“Jangan di cuci a’.” Ujar Gita mendekati suaminya.


“Iya… itu tugas bi Inah. A’a Cuma meletakkan di tempat yang seharusnya.” Jawab Gilang sambil mencuci tangan. Dan saat Gita hendak mencuci piring bekas makan mereka pun, Gilang memegang tangannya untuk tidak mencuci piring kotor tersebut.


“Ga usah di cuci. Bi inah besok ga ada kerjaan. Kalo semua eneng yang kerjakan.” Ujarnya membilas lagi tangan mereka berdua. Huh… sampai kapan sih mereka semanis ini. Semoga selalubegitu ya.


Gita tersenyum saja mendengar dan melihat tingkah manis suaminya tersebut. Mana Gita pernah melawan sesuatu yang suaminya katakana jangan. Tentu saja ia patuh, dan lebih memilih duduk berselonjoran di sofa, untuk sekedar mengendurkan otot otot yang sedari tadi belum beristrirahat.


“A’… kita belum selesai bicarakan tentang calon pengganti ku lho ya. Tadi mau di bahas, tapi kita belum makan siang. Apa sekarang sudah boleh di lanjutkan?” tanya Gita yang ternyata masih ingin dapat kepastian tentang sekretaris penggantinya.


Gilang melihat arloji di tangannya, memastikan ada berapa durasi waktu yang tersisa untuk mereka saling bertukar kisah.


“Udah hampir setengah dua neng, kita balik ke kantor saja. Dan soal pengganti eneng, nanti kita bahas. Mau di tempat tidur atau di café sambil nongkrong.” Gilang memberi pilihan pada istrinya.


“Terniat banget sih ngebahasnya sampe sigitunya milih tempat, hanya untuk bahas masalah kacangan gitu. Melebihi seriusnya aGi mau lamar eneng ta ga?” bibir kiri Gita tertarik ke atas sedikit, agak merasa lucu dengan suaminya yang memiliki ide yang baginya berlebihan.


“Udah… jawab aja mau pilih di mana?”


“Ya… di café dong. Lama ga kencan ini.” Jawab Gita menentukan pilihannya.


“Oke. Setelah magrib kita kencan ya neng.” Jawab Gilang yang sudah mematutkan dirinya di depan cermin. Akan bersiap ke kantor kembali.

__ADS_1


Komunikasi yang baik adalah kunci langgengnya sebuah hubungan. Dalam pertemanan maupun keluarga, tak terkecuali suami istri. Banyak yang mengira semua akan baik jika finansial yang lancar dan banyak sebagai barometer, padahal tidak itu hal utamanya. Kevbetulan saja Gilang dan Gita memang di takdirkan menjadi pasangan yang berpendapatan lebih bahkan mapan, sehingga pikiran mereka tidaj terkontaminasi dengan berbagai tagihan utang piutang dan segala kebutuhan hidup yang menjelimet.


Mereka sudah berada di sebuah tempat nongkrong khas anakmuda. Suasana romantic sangat kental menyambangi mereka, aneka pilihan menu dari yang ringan sampai yang berat ada di sana, juga pilihan minuman pun beragam. Mereka sudah memesan makanan dan minuman yang menarik selera untuk menjadi santap malam mereka malam itu.


“Neng… sebenarnya. Kalo soal sekretaris pengganti eneng. A’a teh maunya Haikal saja sudah cukup. Lagi pula Siska masih kerja juga kan walau nanti sudah nikah?” Gilang tanpa basa basi merujuk pada masalah yang sejak kapan sudah ingin mereka bahas.


“Wah… lupa tanya a’, setelah nikah Siska masih mau kerja atau ga?”Jawab Gita serius.


“A’a sih merasa cukup saja dengan adanya mereka berdua di sana untuk membantu kerjaan a’a di kantor.”


“Iya… memang selama ini aGi juga ga pernah keteteran kerjanya. Tapi, kan kantor kita mau buka cabang di Cisarua. Eneng tuh, curiga Haikal yang akan di minta handel di sana, sebab Haikal kan berpengalaman a’.” Terang Gita memberikan asumsi.


“Huum… ia juga ya neng. Berarti karena itu pak bos keukeh cari tambahan di bagiann sekretaris.”


“AGi… tidak sedang bercanda kan mau pilih Melani saja yang di terima dibagian itu?”


“Mana eneng tau, kan aGi juga termasuk dalam Tim. Jadi eneng rasa, aGi justru lebih banyak tau dari eneng alasannye, mengapa hanya mereka berdua yang menjadi kandidat kuat. Memangnya ada apa sih a’ dengan Gibran. Kan dia laki laki, untuk kedepannya. Jika dia yang jadi sekretarisnya a’a. Hati eneng tuh ga was was dan curiga. Eneng sih percaya dan belajar yakin pada a’a. Bahwa sekali berjanji setia, akan selamanya berusaha membuktikan hal itu. Tetapi, jika bisa kita hindari peluang itu. Tak salah bukan.” Papar Gita.


“Sebenarnya Gibran itu secara administrasi adalah saudara sedarahnya a’a neng.”


“Gimana?” kejut Gita khawatir salah dengar.


“Eneng lupa, nama almarhum ayah a’a teh. Edy Sudrajat.”


“Dan Gibran itu Gibran Sudrajat… artinya itu Sudrajat yang sama a’…?” Potong Gita menautkan nama tersebut.


“Iya. Secara surat dan keterangan lahir Gibran itu adalah anak ayah. Tapi hingga menghembuskan nafas terakhir juga tes DNA pun terbukt jika Gibran bukan anak ayah.”

__ADS_1


“Eneng ga ngerti a’. Bisa lebih jelas ga ngomongnya.”


“Oke. Jadi dulu, ayah dan ibu adalah sepasang kekasih layaknya muda mudi di mabuk cinta. Menjalin hubungan berpacaran seperti pada umumnya. Dan masalahnya klasik neng. Ayah adalah golongan orang berada, dan ibu orang biasa. Sebut saja miskin. Mereka menjalin hubungan saling suka itu sejak sekolah seragam putih abu. Tetapi jaman dulu beda kan dengan jaman sekarang. Ga ada ponsel dann sebagainya. Jadi, fix waktu itu hanya cinta cinta monyet yang tidak kesampaian saja.”


“Terus a’…”


“Ayah anak orang mampu, sehingga bisa melanjutkan sekolah lanjutan di jenjang Universitas. Sedangkan ibu hanya sampai lulus SMA saja. Yang kemudian memilih bekerja di sebuah warung makan, sebagai buruh cuci dan pelayan.”


“Lalu…”


“Ayah serius memiliki rasa pada ibu… sehingga walau telah berstatus mahasiswa. Beliau tetap setia pada ibu. Ia tetap gencar mendekati ibu dengan segala kesungguhannya. Hingga nenek dan kakek aGi teh resah melihat keseringan ayah mendekati ibu yang makin sering.”


“Bentar a’… waktu selalu dekat itu. Apa ayah aGi teh sudah lulus kuliah?”


Bersambung…


Santuui atuh bacanya readers


Jangan di gaspool, sabar.


Kita lanjut ke part berikutnya ya


Biar mawar kopinya makin terkumpul.


Bagi yang udah nyawer  nyak, makasih banyak yaa


Lop All

__ADS_1


__ADS_2