
Diam diam hati Gita lega mendengar keputusan Muna. Dan kini portalnya hanya Gilang. Bukan sesuatu yang sulit bukan, hanya merengek pada suami dengan alasan cemburu saja, pasti sudah di ACC.
"Kamu sangat beruntung Git. Punya kakak, yang sayang dan perhatian sekali denganmu, juga rumah tanggamu. Kamu taukan, papap Ay, kalo udah bilang A mana bisa di ubah. Kecuali atas permintaanku. Tapi, kali ini, aku kalah sama abang. Semalem, aku di ceramahin hampir ngalahin dosen pembimbing yang lagi revisi tugas akhir lho Git." Jelas Muna mengenang betapa tadi malam ia dan Kevin beradu argumen tentang kelemahan dan kelebihan sekretaris cewek dan cowok. Tapi, emang Melani lagi ga hoki atau Muna memang sudah menurun kesaktiannya, sehingga ia kalah adu argumen, juga kalah di atas tempat tidur tadi malam saat nego selesai di bahas. Hah..., untuk urusan itu Kevin selalu juara dan punya seribu satu cara jitu untuk menaklukan istri yang kadang jual mahal tapi butuh itu.
"Masa siih kak?" tanya Gita penasaran.
"Iya. Abang bilang... masalah ga usah di cari cari. Bisa dateng sendiri. Sekretaris cewek memang teliti, kerjaan juga rapi. Tapi kadang tak sadar bisa saja memberi peluang untuk menggoda lelaki. Kamu dan Siska bisa jadi sekretaris di sini kan, hanya karena rekom dariku. Kamu sodara sama abang, ya ga mungkin dong godain dia. Dan Siska sudah terbukti dan teruji, kayak mati rasa sama abang. Sejak aku kenal sama Siska, matanya udah ga bisa liat cowok lain, selain yang mirip cowok Korea. Dalam otaknya cuma drakor dan segala cowok di dalamnya. Ga tau gimana nasibnya, kalo aja ga ketemu Asep. Sampai Daren, setampan itu saja. Ga ngaruh lho, kaya ga bikin dia berdebar gitu." Papar Muna panjang.
"Masaaa kak?" Gita baru tau, jika Siska sefanatik itu dengan orang yang ala ala Korea.
"Ya gitu deh."
"Pas satu kost, kok ga nampak ya?"
"Ya iyalah ga kelihatan. Kan udah jadian sama Asep. Jadi ga ngehalu lagi, udah dapat yang KW gitu." Tawa Muna yang selalu bilang jika Asep Suparta, sepupunya itu adalah Korea KW. Tapi Asep, mana pernah perduli dengan segala olokan yang di tujukan padanya. Ia sadar wajahnya ngoreah banget. Dan ia juga tau, itu adalah wajah hoki yang ia miliki.
Tok
Tok
Pintu di ketuk pelan.
"Ya... masuk." Jawab Muna sembari melangkah mendekati pintu.
"Permisi bu, ada pesan makann layanan pesan antar?" tanya petugas cleaning servis laki laki di depan pintu.
"Iya... sudah datang ya?" tanya Muna sumringah.
"Ini bu." Jawabnya sopan.
__ADS_1
"Baik, terima kasih." Pesanannya belum di buka tapi Muna sudah tersenyum senang membayangkan pesanannya tersebut sudah tiba.
"Pesan apa tadi, mam?" penasaran Gita.
"Oh... pesan buah Git. Kayaknya enak dan seger banget. Kita makan bareng ya." Muna tak sabar membuka box yang datang tersebut.
"Yakin isinya cuma buah? Kotaknya segede gitu." Ujar Gita yang merasa aneh dengan pesanan Muna.
"Niih... taaaraaaa. Keren kan." Tunjuk Muna pada dua buah piring berbentuk hati warna putih, berisi potongan buahan segar. Keren benaran keren, bahkan mampu membuat air liurnya hampir jatuh.
"Iih... lucu dan seger banget sih mam." Puji Gita mulai ngiler.
"Ga tau kenapa, tadi pas liat postingan orang yang jual. Aku langsung jatuh cinta liat sajiannya di dalam piring ini. Ciamik." Jawab Muna sambil membuka plastik warpnya.
"Jadi kak Mun langsung beli sama piringnya?" tanya Gita agak heran.
"Huh... dasar. Mamam Ay udah ketular kak Kevin nih, ada yang di mau. Udah langsung beli sama gerobaknya sekalian mam." kekeh Gita setengah mengolok, sebab telah hapal dengan sikap Kevin yang memang selalu begitu.
"Hah... iya ya. Kok, ke sininya aku gitu. Perasaan dulu ga gini deh. Penyakit bukan ya?" Ujar Muna kembali meletakan piring buah, kemudian membuka bungkusan garpu dan akan segera melahap potongan buah anggur hijau, stroberi, kiwi, pir, melon jingga dan buah yang tidak manis itu lainnya.
"Bukan penyakit... bagus lagi dagangan penjual kan jadi laris. Kalo ketemu pembeli kaya kak Muna." Jawab Gita yang selalu bijak.
"Udaah... yuk di makan Git. Enak klo, siang siang gini makan buahan seger."
"Ga ada pilihan yang manis manis gitu mam, buahnya. Semua kecut lho itu. Kenapa ga sekalian mangga muda aja, atau kedondong gitu." saran Gita.
"Mangga muda...? hah. Seleramu kaya ibu ibu hamil muda aja. Eh... tapi Amin aja deh kalo emang kamu hamil ya Git." Lanjut Muna sambil terus menikmati sajian aneka buah di depannya.
"Amiin." Ujar Gita mengusap perut langsingnya.
__ADS_1
"Eh... beneran seger ternyata. Dan ga se asem yang ku kira. Waah, bakalan ketagihan nih." Gita pun mulai menikmati aneka buahan segar tadi mengikuti Muna.
"Kurang? Mau tambah, biar ku pesan lagi."
"Ga... jangan. Kita belum makan siang, ntar keburu kenyang ga ada masuk karbo, mam."
"Ga papa low karbo. Sambil jaga timbangan badan Git, biar ga melar."
"Oh... iya. Pas hamil berat badan mamam Ay naik banget ya. Gede banget ga sih?"
"Pas hamil Ay, naiknya 15 kilogram. Besar banget badanku, selera makanku ningkat. Karena memang ga ngalami morning sicknes. Yang mual muntah kan abang, waktu itu. Jadi aku makannya bebas. Kaya jalan tol." Cerita Muna pada Gita sembari melayangkan ingatannya saat ia baru hamil.
"Waah... enaknya. Trus, kalo hamil Naya?"
"Nah, kalo pas hamil de Naya. Mabuk parah Git. Sampe beberapa kali opname. Udah kerja di sini belom ya? kamunya. Kan Gilang aja yang urus kantor sampe 5 bulan abang ga pulang dari Apeldorn. Manja banget akunya. Berat badan sampe lahiran cuma 6 kilogram." Kisah Muna, pada perjuangan masa masa kehamilan yang memiliki kisah berbeda pada tiap kepala yang lahir.
"Aku besok gimana ya pas hamil...?" tanya Gita bergumam sendiri. Namun tetap masih bisa di dengar oleh Muna.
"Ya... minta di mudahkan aja sama Allah. Yang pasti sesakit sakitnya masa ngidam juga lahiran nanti. Semua akan terbayar saat pertama kali denger suara tangisan bayi yang baru kita keluarin Git. Rasanya tuh amazing banget. Seandainya ga punya cita cita jadi wanita karier, aku sih mau lho punya banyak anak. Empat, lima atau enam sekalian." Ujar Muna lagi.
"Eh... segitunya. Malaikat lewat ntar kejadian lho, mam." Kekeh Gita menertawai keinginan Muna mau jadi ibu beranak enam.
"Jadi anak tunggal itu sepi Git. Ga ada teman curhat, ga bisa berantem, ga ada saingan, juga ga ada yang bisa di percaya untuk bantu kelola warisan kan. Untung aku punya nyak babe, selain mama dan abah. Jadi lumayan rame kan, ga punya sodara tapi punya banyak orang tua." pungkas Muna lagi.
"Wah... kalo nyak babe sih, ga ada lawannya. Ortu kesayangan semua umat, mam." Puji Gita yang juga sayang pada babe Rojak dan nyak Time.
Bersambung...
__ADS_1