
Tiada kata terindah yang dapat di lukiskan untuk manisnyakisah hidup pasangan Muna dan Kevin yang kini sudah memiliki tiga buntut. Pertautan usia yang cukup jauh membuat Kevin merasa wajar untuk menuntutistrinya segera memberikannya banyak anak. Dan yang maha kuasa pun berpihak pada perjalanan hidup mereka. Sehingga tak menemukan masalah yang sulit dalam mendapatkan kepercayaan tersebut.
Jalan hidup tak selamanya indah, itu adalah realita kehidupan. Di Jakarta ada pasangan mantan Cassanova yang sedang berbahagia tak terkira. Berbanding terbalik dengan pasangan gulali di Bandung. Siapa lagi kalau bukan duo G kesayangan bersama. Usia kehamilannya dengan Muna beriringan. Sehingga saat Muna sudah melahirkan bahkan Adera sudah memasuki usia 30 hari. Maka tibalah kini, giliran Gita yang akan bertarung nyawa. Berpegang pada sehelai rambut untuk berjuang melahirkan bayi kembarnya.
“Ini sudah masuk pada masa akhir masa kehamilan ya, pak, bu. Dan mereka memang belum ada tanda-tanda mau keluar. Apa sebaiknya kita lakukan operasi Caesar saja. Saya khawatir asupan air ketuban dan lainnya akan membuat keadaan mereka tidak baik.” Dokter Kandungan itu memindai alatnya di atas permukaan kulit perut yang sudah semakin besar itu.
“Lakukan saja yang terbaik dokter, Yang penting istri dan anak-anak kami selamat.” Gilang mengelus rambut Gita pelan, memberikan efek tenang pada istrinya. Dan meyakinkan wanita itu, bahwa dia selalu ada di masa senang sampai masa pahitnya jalan takdir mereka.
“Bagaimana jika hari ini kita segera lakukan operasinya? Lahir batin bapak dan ibu siap?” tantang Dokter yang lebih tau kondisi janin juga rahim pasiennya.
“Insyaallah. Kami siap. Yak an sayang …?” Gilang tak lupa menanyakan kesiapan istrinya. Bagaimanapun ia kokoh dan teguh berdiri mendukung. Toh tetap Gita yang akan menjalaninya sendiri.
“Harus operasi dokter …?” tanya Gita dengan nada cemas yang tak dapat ia tutupi.
“Tidak harus. Tapi sebaiknya. Sebab ini sudah 40 minggu. Tanda-tanda kelahiran belum muncul. Kemungkinannya mereka bisa keracunan di dalam, dan itu sangat berbahaya untuk kondisi selanjutnya saat mereka sudah di lahirkan.” Terang dokter yang tidak bermaksud mengancam Gita.
“A’a … Gimana?” entah apa yang di pikirkan Gita, sehingga dia setakut itu mendengar kata operasi yang di rujuk padanya.
“Iya Neng. Ikuti saja saran dokter. Mereka lebih tau yang terbaik untuk kita dan anak-anak kita. Ada Allah sayang, yang maha baik mengatur semuanya. Berprasangka baiklah pada-Nya. Insyaallah ini jalan terbaik yang bisa kita lakukan.” Gilang meyakinkan istrinya.
“Tapi kalo operasi, pulihnya lama kan Dokter …? Tidak seperti melahirkan normal.” Gita ternyata masih ngeyel.
“Ibu … apapun metode melahirkan itu semua memiliki resiko. Melahirkan normal memang membanggakan. Sebab itulah jalan keluar masuknya yang benar. Tetapi sesuaikan dengan situasi. Jangan memaksakaan keadaan. Memang pulihnya cepat, sebab lukanya alami dan kecil. Tidak seperti operasi yang memang di buat luka besar dengan sengaja. Tapi semuanya tergantung kasusnya. Apalagi, bayi ibu kembar. Jika tidak memiliki kekuatan penuh, kemungkinan untuk menyerah di tengah jalan saat proses pengeluaran, malah akan lebih berbahaya lagi.” Dokter it uterus saja memberi pengertian.
__ADS_1
“Anak-anak bunda … mau keluar hari ini ?” Gita mengelus perut besarnya. Sulit baginya berpikir jernih dalam hal memutuskan cara melahirkan anak-anaknya. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya akan melahirkan secara Caesar. Setelah banyak membaca artilel juga melihat pengalaman Muna dan orang sekitarnya. Ia sangat berkeinginan besar untuk melahirkan secara normal.
“Bismilahirahmanirahim. Baiklah, silahkan persiapkan semuanya saja dokter.” Putus Gita kemudian.
“Alhamdulilah, terima kasih Neng.”
“Kami siapkan segala sesuatunya dulu ya.” Ijin dokter itu. Lalu memberi kode pada perawat untuk menyiapkan semuanya.
“Bapak bisa ke ruangan saya …? Ada beberapa dokumen yang
harus di setujui.” ajak dokter kandungan itu pada Gilang.
“Neng … a’a. Menemui dokter dulu ya. Berdoa Neng.” Pinta Gilang yang sebenarnya tak tega meninggalkan istrinya bersama beberapa perawat.
“Permisi dokter …” Ijin Gilang saat sudah di ambang pintu ruangan khusus dokter yang merawat Gita tadi.
“Iya silahkan duduk Pak.” Dokter itu mempersilahkan Gilang dengan ramah.
“Iya … terima kasih.” Gilang menarik kursi dan mendududkkan b0kongnya di kursi tepatr berhadapan dengan dokter yang siap memnyampaikan keadaan Gita pada Gilang.
“Maaf … saya merasa tidak pantas jikamenyampaikan ini di hadapan pasien. Dengan putusan harus melakukan operasi saja, sepertinya ibu sudah cemas.” Ungkapnya dengan manik mata yang menatap serius pada Gilang.
“Ada apa sesungguhnya dokter ?” Gilang curiga, ada hal lain yang tersirat dari perkataan dokter itu.
__ADS_1
“Begini pak. Kasus ini memang jarang terjadi, tetapi ini bukan kasus luar biasa. Rata-rata pasien selamat asalkan melakukan operasi pada proses persalinan. Jadi, usia rahim istri anda itu tidak sesuai dengan usia yang sebenarnya.” Jelas Dokter itu membuat Gilang tak mengerti.
“Gimana …?”
“Usia pasien adalah 31 tahun. Tapi tidak dengan rahimnya. Keadaan rahimnya lebih tua seolah sudah seperti 40 tahun ke atas. Resiko rapuh sangat besar. Maka sangat tidak di anjurkan untuk melahirkan secara normal, bisa terjadi sobek dan pendarahan yang hebat saat proses itu di jalani. Itulah alasan sebenarnya, mengapa pasien harus di Caesar saja.” Jelas dokter itu secara gamblang.
“Saya tidak mau memaksakan keadaan dokter. Bagi saya keselamatan mereka yang utama. Bukan maksud tidak mendengarkan kehendak istri, tapi saya lebih percaya saran dokter yang terbaik.”
“Baiklah. Saya mengatakan ini hanya, agar bapak bisa memberi pengertian pasca melahirkan nanti. Tidak sedikit kasus yang terjadi. Ibu mengalami baby blush. Penyebabnya kompleks, bisa karena kaget siklus tidurnya
berubah, belum siap dengan waktunya yang tidak seperti masa gadis. Gelambiran, guratan peregangan pada tubuhnya juga akan menjadi pemicu ketidak siapan para ibu pasca melahirkan. Sayatan luka bekas operasi pun kadang bisa menjadi masalah bagi beberapa orang tertentu.” Jelas dokter begitu panjang untuk Gilang.
“Siap dokter. Paham. Saya mengerti yang dokter maksudkan.” Ucap Gilang pasti.
“Nanti untuk program anak selanjutnya. Minimal 5 tahun pasca operasi ini. Agar bekas lukanya benar pulih juga mengingat kondisi rahim pasien yang seperti saya sampaikan tadi. Sebaiknya di konsultasikan sebelum akan hamil lagi.” Begitu detail dokter itu menyampaikan informasi seputar keadaan Gita pada Gilang.
“Ah … belum ada rencana untuk menambah momongan lagi, dok. Bukankah hari ini kami akan langsung mendapat dua anak. Saya rasa, mensyukuri kehadiran mereka ini saja sudah cukup.” Ucap Gilang penuh percaya diri.
“Baiklah … tanda tangan di sini. Kita akan segera melakukan operasi. Dan pasien sudah mulai berpuasa.” Tegas dokter itu menyodorkan beberpa kertas yang harus Gilang tanda tangani.
Bersambung …
Deg-degan donk.
__ADS_1
Yuuks, doa berjamaah buat kesuksesan lahirannya si kembar.