
Gilang dan Gita memang pasangan pengantin baru. Satu purnama sudah mereka lalui bersama. Sedikit demi sedikit sifat dan karakter yang tak terlihat pada saat berstatus teman dekat dan berkomitmen berpacaran tentu berbeda dengan posisi mereka sekarang.
Gita kesininya terlihat makin cerewet dan sangat tegas terutama dalam hal keuangan. Banyak yang mengira karena ia anak orang kaya, hobbynya adalah belanja dan travelling. Ternyata hal itu tidak semuanya benar. Gita lebih suka menabung uangnya.
Dan hari itu adalah kali pertamanya mendapatkan gajih suaminya. Sebab bulan sebelumnya ia tak mendapatkan secara jelas, karena pernikahan yang mendadak juga pengeluaran mereka banyak tak terduga.
"Ini jatah istri tercinta. Di hitung di depan kasur, eh kasir... jika kurang bisa a'a tambah dengan ciuman." gelagak Gilang menyodorkan sebuah amplok berisi uang tiga juta lima ratus ribu rupiah, sesuai kesepakatan mereka.
"Widiiih enak bener kalo kurang tinggal cium. Jangan jangan sengaja nih di buat kurang biar dapat ciuman terus." kekeh Gita yang langsung menghitung uang dari suaminya itu.
"Huh... istri PMS begini amat ya neng, suka sewot gitu. Ga bisa di ajak becanda dikit." Umpat Gilang merebahkan tububnya di tempat tidur.
"Perasaan a'a aja kali. Hm... oke. Cukup nih. Makasih ya a', nafkahnya. Semoga bisa neng gunakan dengan cermat, dan rejeki yang masih tersisa pada a'a bisa manggil temennya lagi, ngumpul di rekeningnya a'a." Doa Gita saat selesai menghitung uang dari suaminya.
"Amiin. Terima kasih istriku sayang." Jawab Gilang mengecup kening Gita.
"Sayang aja A'... ga cinta?" pancing Gita manja.
"Di atas cinta ada lagi ga?" tanya Gilang pada istrinya yang akan bergegas ke luar kamar.
"Hmm... ga tau." Jawabnya cuek.
"Neng rasa cinta dan sayang a'a sama eneng teh, bagaikan metabolisme, yang gak akan berhenti sampai mati." Gilang menarik Gita tuk duduk di pangkuannya.
"A'a tau gak apa persamaan a'a sama AC?" Gita ga mau kalah gombal dong.
"Apa emang?" endus Gilang pada belakang leher Gita.
"Sama-sama bikin eneng sejuk, A'..."
"Ea... ea... eaa. Istri siapa sih ini...? makin pinter ngagombalna..." Gemas Gilang.
"Istri si raja gombal laah." Kekeh Gita lalu berdiri dan melangkah meninggalkan Gilang.
"Eneng mau kemana?"
__ADS_1
"Mau buatkan kopi buat a'a. Soalnya kalo lambat bikin kopi. Suami eneng teh maunya nyu su." Cibir Gita senang.
"Ga usah kopi neng, coklat hangat saja. Atau teh kamomile aja."
"Kenapa?" Gita mengurungkan niatnya untuk terus keluar kamar mereka.
"Takut ga bisa tidur. Istri a'a belum bisa di garap. Jadi, mau minuman yang bikin cepat ngantuk aja neng." Papar Gilang menuju kamar mandi.
"Garap garap. Emang sawah." Dengus Gita kesal.
"Kan sarana bercocok tanam neng." Ledek Gilang langsung ngacir ke dalam kamar mandi, sebelum kena timpukan dari istri garangnya itu.
Rumah tangga baru ya gitu, kalo ga saling ledek, ya adu gombal. Saat masih baru nikah, maunya pake banget punya anak. Mereka belom tau, bahwa dunia mereka akan berubah drastis jika sudah punya anak nanti.
Mana sempat adu gombal, B.A.B aja durasinya berkurang. Ga bakalan punya waktu banyak untuk sekedar berendam di bath up, atau hanya ingin bermeditasi untuk menjaga kewarasan.
Syukur syukur dapat anak yang anteng, ga cengeng dan ga rentan sakit. Tapi, mereka turunan sultan ya. Ga mungkin ga pake jasa baby sitter, minimal bi Inah si ratu onar itu mungkin bisa di pekerjakan jika pasangan itu punya bayi nanti.
Gilang sudah rapi, ia dan Gita sudah sepakat akan kerumah ibu untuk mengantar uang jatah belanja bulanan untuk ibu Gilang.
Saat mereka tiba, ibu, Arum dan dua anaknya akan makan malam.
"Om Laaang." Rengek Haniyah manja langsung menghadang tubuh Gilang nemplok di dada bidang kesukaan Gita.
"Uummmmaaah... Hani wangi udah mandi sayang?"
"Udah om." Balas Haniyah mencium pipi kiri dan kanan kesayangannya itu.
"Udah sholat sama ibu?"
"Iya... tudah, sama kang Wan dan nini." Jawabnya antusias.
"Pintar... cium anty Gita dulu." Sodor Gilang ke arah Gita. Agar keponakannga itu juga menyayangi istrinya.
"Lang... sudah makan? Ayo gabung sini, ibu masak banyak nih. Ada petai goreng lho." Tawar ibu ramah dari meja makan.
__ADS_1
"Iya bu, Gilang cuci tangan dulu." Jawabnya sambil melepas Haniyah dari gendongan.
"Aaaa...aa da mau di lepas. Gendong om Lang lagi." Rengek Haniya manja.
"Cih, begini nih. Kalo keponakan terlalu di manja. Ga tau orang lapar juga, maunya gendong aja." Batin Gita agak kesal melihat ke manjaan anak kecil itu.
"Hani...!! Duduk sini. Makan...!" Untuk pertama kalinya Gita mendengar suara kakak iparnya Arum, sangat tegas dengan anaknya. Tadinya Gita khawatir, tidak ada yang bisa bersikap tegas dengan bocah usia 5 tahun yang memang tak mengerti apa apa.
"Sini om yang dudukin di tempat makan ya." Gilang masih saja ramah dengan Haniyah. Tak pernah tega hatinya menyakiti atau berkata kasar dengan anak tak pernah dapat kasih sayang dari sang ayah sejak bayi itu.
Walau merengut, Haniyah tetap saja berusaha menelan makanana yang berhasil ia suap sendiri. Akibat dapat pelototan dari ibunya. Kasihan sih, tapi itu wajar di lakukan padanya. Agar sifat manjanya tidak berlarut-larut.
"Ibu... ini uang jatah bulanan untuk ibu. Gajih Gilang sekarang 17jt bu. Untuk ibu 5 juta saja ya. Sisanya untuk neng Gita, dan keperluan kami sehari hari, juga Gilang mau nabung persiapan kuliah lagi ya bu. Maaf tidak bisa memberi ibu banyak seperti biasanya." Gilang menyampaikan hal itu saat dia, ibunya dan Gita dalam ruangan yang sama.
Artinya baik Gita maupun ibu. Sama sama bisa mendengarkan hal yang Gilang sampaikan.
Ibu mengulurkan dua tangannya pada Gita, ingin meminta Gita masuk dalam pelukannya. Gita tanggap pada respon ibu mertuanya, lalu menyambut uluran tangan itu dan masuk dalam dekapan sang mertua.
"Terima kasih, mau berbagi nafkah dengan ibu. Maaf, ibu sudah tua dan tak berguna. Bahkan untuk makan sehari-hari saja masih harus diberi oleh anak lelaki ibu. Mohon ke ikhlasanmu ya Git. Kita sama sama mendoakan agar pintu rejeki Gilang di lancarkan untuk dapat selalu membahagiakan mu." Serak kata itu ibu Gilang sampaikan pada Gita.
"Dan membahagiakan ibu juga." Gita pun berkaca-kaca mendengarkan kalimat yang ibu mertuanya sampaikan. Sungguh ibu mertuanya itu bukan lah monster. Bukan pula momok yang menakutkan dan harus di musuhi dan waspadai. Ia hanyalah seorang janda yang hidupnya ketergantungan dengan anak lelakinya. Yang sempat resah, jika saja istri anaknya itu abai padanya.
Bersambung...
Memasuki awal ramadhan ya
Nyak usahakan ga ada adegan mesum di pagi hari ya..
Tapi pindah ke malam setelah buka.
Sama aja bohongπ
Makasih dukungan kalian semua
πΉπΉββππππ
__ADS_1