CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 70 : BUKAN SULTAN


__ADS_3

Hai readers


Terima kasih sudah secara tak sadar kita masuk dalam flasback panjang, asal muasal kisah cinta Asep dan Siska bersama. Jangan tanya kenapa lempeng dan kurang greget. Sebab saat bulan suci otak author rada jernih tak ternoda dari hal yang bisa membuat kita travelling bersama.


Sekarang waktunya kembali ke alur sesungguhnya, di mana pasangan ini tengah berada di Korea untuk melakukan pre wedding, berkenalan secara langsung. Juga akan pulang bersama ke Indonesia untuk menghadiri acara pernikahan yang sudah Asep dan Siska persiapkan dengan matang.


Waktu 2 tahun cukup bagi mereka untuk lebih mengenal karakter masing masing lebih dalam lagi. Sejak Siska wisuda, ia tak lagi tinggal di Jakarta. Melainkan pindah ke Bandung. Tinggal di kost bersama Gita dan Ninik. Juga bekerja di MK Farma, perusahaan milik Kevin dan Muna.


Sehingga ia dan Asep memang lebih dekat, tentu lebih sering bertemu. Cinta mereka bukan lagi Bandung - Jakarta. Tetapi hanya seputar antar kota. Merancang masa depan, untuk mereka tapaki bersama.


Untuk tempat tinggal, baik Siska maupun Asep tak perlu memikirkannya lagi. Sebab Dadang sudah buatkan sebuah hunian untuk Asep berbonus ambu di dalamnya.


Asep ingin menolak rumah tersebut, tapi tak tega, jika ambu nanti akan tinggal sendiri di rumah tersebut.


Asep memang sudah berjanji menjaga Siska hingga halal. Bahkan itu ia pintakan di hadapan bu Nirmala. Tapi, bukankah dosa itu nikmat, sehingga mencicipi bibir Siska, kini sudah seperti menu wajib saat mereka saling bertemu.


Jangan salahkan Asep, sebab itu terjadi atas ijin Siska. Yang hampir saja ingin melaporkan bibir Asep ke BNN. Sebab bibir itu terindikasi mengandung zat adiktif yang membuatnya candu, ah. Lebay.


Jangan lupa... Asep hanya pendiam saat tak kenal dekat. Bahkan hanya cashingnya yang kaku, jangan tanya tingkat ke kreatifan tangannya yang terbiasa melayani Ambu dalan urusan pijat memijat. Asep ahlinya. Mereka sering hampir ke bablasan, yang kadang berakhir candaan akan menikah siri terlebih dahulu agar segera halal. Setan selalu ada di mana mana dan dalan bentuk kemasan apa saja yang menarik. Jangankan dengan pakaian minim. Siska yang selalu berpakaian sopan dan rapi saja, selalu membuat Asep gagal fokus dengan bentuk sempurna tubuh Siska yang tersembunyi di dalamnya.


Oh iya... panggilan akang dan nyai itu masih kerap mereka gunakan di kala saling canda. Sebab akhirnya Asep memang lebih nyaman memanggil Siska dengan panggilan 'eoma' sebab ia terlalu yakin Siska lah kelak yang akan menjadi ibu dari anak anaknya. Dan Siska kadang memanggil Asep dengan panggilan 'appa'. Bukankah Siska yang lebih dahulu bucin pada Asep. Terlalu frontal menghalu jika Asep itu lelaki satu satunya yang ia cinta dan tak ingin yang lagi.

__ADS_1


Kini keduanya sudah berada dalam pesawat, arah pulang menuju Indonesia. Tangan Asep mengalahkan sabuk pengaman, yang selalu erat melingakar di pinggang Siska. Semacam takut, Siska akan di curi orang. Bucin part tiga ya gaes. Sebab yang part satu jatuh pada pasangan Kevin dan Muna. Yang kedua adalah Gita dan Gilang. Maka peringkat ke tiga di sematkan pada Asep dan Siska. Menurut versi nyak othor.


"Eoma... Tahu ga? Satu-satunya orang yang memenuhi syarat untuk menjadi istriku adalah kamu. karena, syarat pernikahan yang langgeng adalah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Will you marry me?" tiba-tiba Asep berbisik di telinga Siska. Saat mereka masih di atas pesawat yang akan mendarat.


"Oppa... norak. Undangan kita tuh sudah di cetak. Siap edar juga. Masa ia aku nolak kamu jadi suamiku sih?" logika Siska masih jalan dong. Ia sudah lama dekat dengan Asep, mana hubungan mereka sudah kaya foto close up lagi, ternoda setengah badan walau tidak langsung. Dari luar saja, SekWilDa. (Sekitar Wilayah Dada___ Ga usah di jelasin juga kali thor. Mulai ngeres deh. Alakazaaam🤧)


"Ga romantis banget sih. Akukan juga mau melamarmu ala ala romantis gitu nyi..." Umpat Asep dengan wajah masam. Tak suka dengan respon Siska yang tak sesuai ekspektasinya.


"Trus aku harus terperanggah gitu, mataku berkedip kedip kaya kelilipan. Tangan ke mulut yang menganga, seolah takjub dan bilang. Yess, I am ready to marry you." Jawab Siska dengan polah lucunya menghadap Asep. Dan saat tangan Asep melambai ke atas, beberapa menit kemudian. Seorang pramugari datang dengan sebuah nampan kecil berisi kotak bentuk segi lima penuh bunga berisi sepasang cincin sederhana.


Asep mengambil kotak itu dari tangan pramugri, tak lupa bilang terima kasih dengan senyum ramah, manis dan tampannya pada pramugari tadi.


"Jangan senyum semanis itu sama cewek lain, oppa milikku." Ujar Siska agak berang. Tak suka calon suaminya di pandang cewek lain juga berprilaku ramah padanya.


"Nyaiii cemburu...." goda Asep. Dengan cepat tanpa perintah dan bertanya, Siska penuh percaya diri mengambil salah satu cincin dalam kotak segi lima tadi.


Meraih tangan kiri Asep dan menyematkan di jari manisnya, sembari berkata.


"Cincin ini ku pasang di sini, untuk ingetin. Kalo oppa itu hanya milik aku. Ga boleh di lirik juga melirik wanita lain. Sekali oppa mengkhianati aku, maka selamanya oppa tak akan melihat aku bernafas lagi. Camkan itu...!!!" Lantang Siska menyampaikan isi hatinya sekaligus peringatan dan ancaman yang hanya mereka berdua mendengarnya.


Asep mengambil sisa cincin yang tersisa. Meraih tangan kiri Siska, lalu melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Cincin ini hanya simbol pengikat di jarimu. Sebab sesungguhnya, hatiku yang telah lebih dulu terpikat pada hatimu. Bentuknya bulat, sama seperti tekadku yang kuat, hanya ingin membuatmu bahagia selama hidup denganku." Asep mengecup tangan yang telah ia sematkan cincin pertunangan antara mereka.


Keduanya saling pandang setelah sama sama mengikrarkan janji, yang hanya Tuhan sebagai saksinya.


Tatapan mata keduanya mengandung magnet, memiliki daya tarik menarik, membawa mereka pada suasana romantis tiada terperi. Membuat kepala keduanya tanpa di perintah saling mendekat, rapat, hanya isyarat mata Asep meminta. Dan tatapan sendu Siska seolah mengijinkan untuk bibir keduanya saling bertautan. Cukup lama, organ kenyal milik Asep melesak lesak di dalam rongga mulut Siska.


Di dalam sana seolah ada pertarungan sengit bermain pedang tumpul. Cinta itu buta, tak peduli dengan beberapa mata yang mungkin, eh pasti. Melihat jika keduanya bertindak mesum, masih dalam kabin pesawat.


Rasa malu keduanya hilang, entah meluap kemana. Mereka tak sadar hanya orang biasa, yang hanya mampu kemana mana dengan pesawat komersil. Bukan sultan seperti Kevin yang telah mampu membeli jetts pribadi untuknya hilir mudik.


Bersambung...


Senin yaaak


Ini senin sayang sayangku


Sedekah VOTE boleh...?


Makasih keikhlasannya 🙏🙏🙏


__ADS_1


__ADS_2