
Gilang beraksi di dapur layaknya cheft handal. Bahkan kadang bernarasi dengan hal-hal yang tidak penting, tetapi itu yang di sukai oleh istrinya.
“Bahannya adalah 2 kaleng ikan Sarden dengan ukuran kecil. Yang kecil aja ya yang penting ada. Lalu, 2 bungkus mie keriting, harus yang keriting. Sebab kalo ga keriting namamya mie lurus alias spagethi. Dan itu akan menghasilkan cita rasa yang berbeda dari permintaan bumil tercinta.” Cuap-cuap Gilang tak berhenti membuat senyum Gita semakin melebar.
“Lalu ini ada 5 batang kacang panjang. Kenapa Cuma lima? karena hanya ini yang ada di kulkas tetangga, saat ayah akan pergi ke pasar tapi, sudah pada tutup. Sepi mirip kuburan di masa hari biasa, bukan sedang akan jelang hari Raya di mana orang-orang pada datang untuk nyekar.”
“Ceriwis banget sih tuh mulut…” Akhirnya Gita berkomentar di balik kamera yang tentu saja ikut terekam.
“Ga papa asalkan eneng bahagia dan senang. Lanjut neng?” tanya Gilang.
“Lanjut dong a’…” Jawabnya sambil terkekeh.
“Oke… kacang panjang. Jangan lihat Cuma lima batang, tak tak tak tak tak… tuuh. Prok-prok-prok jadi banyak kan, ga lima lagi. Dan gaiish… jangan takut jangan kuatir. Ini kacang panjang, walau kita potong-potong dia akan tetap di kasih nama kacang panjang, bukan kacang pendek. Ajaib kan...” Entah jiwa gokil Gilang bersumber dari mana. Ia Nampak sungguh-sungguh memainkan perannya sebagai koki gombal cap kecap demi istri yang masih hamil muda itu.
“Lanjuut aGi sayang…” Kekeh Gita memegang perutnya merasa sangat terhibur.
“Siaap permaisuri hatiku, cintaku, sumber nafas hidupku dan bunda dari calon buah hatiku.” Sapanya dengan wajah tampan penuh senyum.
“Selanjutnya kita akan mengupas Revalina S. Temat dan Nia Ramadani.” Celetuknya asal.
“Apaan sih bumbu baru ya?” tanya Gita agak heran.
“Bukannya, pemeran bawang merah dan bawang putih dalam sinetron tahun kapan itu mereka?” tanya Gilang mengingat-ingat.
__ADS_1
“Ya ampun, nak. Ayahmu pemerhati sinetron di zamannya.” Hah… yang pernah nonton sinetron di perankan oleh mereka ini, berarti satu frekuensi sama author ya.
“Lanjut ga niih, nengGi sayang?” tanya Gilang yang mulai berkeringat.
“Iya dong… masa udahan. Belum apa-apa ini.” Jawab Gita dengan nada yang di buat-buat.
“Siap nyonya kesayangan.” Jawab Gilang mengirimkan ciuman jauh ke arah kamera. Sweet banget ga sih mereka berdua, norak juga.
“Nih… bamer dan baputnya sudah telan jang. Lalu kita cuci, mandiin bareng aja sama temennya yang lain. Cabai, tomat dan daun yang selalu bolos.” Lanjut Gilang lagi.
“Apaan lagi tuh bawang bolos?” tanya Gita heran.
“Bawang prey.. yang selalu libur alias bolos.” Jawab Gilang cengengesan.
“Hap… love yu tu, Neng.” Balas Gilang menyambut lemparan kiss jauh dari istrinya mesra.
“Okeh semua bahan sudah di cuci ya, kecuali si ikan yang pasti sudah bersih di dalam kaleng. Sebelum di masak, kita muti lasi dulu bamer baputnya. Tipis dan kecil kecil saja, setipis harapan ayah dulu mengharapkan bunda mu, mau terima ayah jadi suaminya nak. Soalnya ayah sama bunda dulu bagaikan langit dan bumi. Bunda mu tinggi sekali, di awang-awang, sedangkan ayah tuh nyungsep di bumi. Sebagai rakyat jelata. Rakyat jelata yang tak tau diri, berani menginginkan anak raja yang kaya raya.” Celetuk Gilang sambil memotong bawang merah dan bawang putih hingga habis.
“Bohong nak. Ayah bohong. Ayahmu cuma sedang merendahkan diri. Ayahmu bukan rakyat jelata, melainkan cowok tampan, dia lelaki pemberani, pria sejati yang dengan ketulusan hatinya, membuat bunda ga bisa liat pria lain, selain dia. Bunda yang udah jadi budak cintanya ayah nak.” Gita membalik arah kamera agar mengarah ke wajahnya.
Dan ternyata Gilang meninggalkan arena syuting masaknya, untuk berlari mengecup kening Gita.
“Istri siapa siih, gemes banget.” Ucap Gilang yang tak luput dari rekaman kamera itu. Kebayangkan bagaimana reaksi anak mereka kelak melihat kebucinan orang tua mereka saat melakukan syuting memasak sarden kidaman ini.
__ADS_1
“Iiih… Kok lari dari arena syuting sih.” Ujar Gita sewot saat suaminya masih di sampingnya.
“Gemes neng.” Jawab Gilang kembali ke depan meja masaknya.
“Oke lanjut gaiish. Kita potong tomat dan cabai. Untuk cabai kita ga pake yang rawit ya, tak baik untuk kesehatan Karena pedes, sebab omongan tetangga tempat nenekmu di Bandung tuh pedesnya udah mencapai level 30 lho kalo udah nge ghibah. Bunda mu sampai terurai-urai airmata waktu itu.” kilas balik Gilang ke masa itu.
“Iissh… skip urusan yang itu aGii. Merusak momen.” Bantah Gita yang tak suka mengingat masa-masa baru nikahnya bersama Gilang. Readers tentu masih ingat dong.
“Ahh siaaap. Jadi kita pake cabe besar saja, ada yang merah,ada yang hijau, fungsinya apa? Hanya untuk pelengkap warna masakan nanti, agar lebih cerah ceria, mirip orenamen pohon natal yang di pasang setiap sebulan sekali dalam setahun bagi umat yang merayakannya.” Kekeh Gilang sendiri yang terkagum-kagum dengan otak encernya di saat syuting memasak.
“Lanjut ya… semua sudah ke potong kecuali tangan dan jari ayah yang masih berguna untuk membelai dan memijit punggung bunda mu yang nanti pasti lebih sering minta di sentuh, karena kelelahan tapi bahagia ada kamu ikut hidup bersamanya di dalam perut, sehat-sehat terus sampai masa lahiran ya anakku sayang.” Celoteh Gilang makin tak terkira oleh Gita.
Cletak. Suara kompor sudah berbunyi, pertanda sudah menyala.
“Door.. api sudah menyala. Kita letakan wajan legend ini dulu ya?” Kenapa legend? Karena warnanya hitam. Konon kabarnya, semakin hitam pantat wajan, semakin banyak jasanya dalam hal menjaga kelangsungan hidup
manusia yang sering menikmati makanan yang di masak dengan ini.” Alis Gilang naik turun minta persetujuan Gita. Dan istrinya mengangkat jempol setuju.
“Kita masukan minyak goreng dua sendok makan saja, jangan banayk-banyak. Selain kolesterol juga migor masih saingan harganya sama cabe. Mahal gaish, jadi harus hemat.” Bibir Gilang naik satu agak mirip segitiga siku-siku menandakan ia tak suka dengan keadaan pasar yang kadang seenaknya menaruh harga barang jualan.
Gilang menengadahkan telapak tangannya ke atas permukaan wajan yang ia isi minyak goreng tadi. Memastikan minyak itu sudah panas.
“Sudah panas ya, ingat tunggu panas saja, bukan hangat apa lagi gosong, sebab akan mengurangi cita rasa masakan yang akan di masak. Pertama kita masukkan bamer baput yang sudah di potong tadi. Sreg osreg, osreg. Sampai wangi ya, sewangi rambut bunda yang baru kelar keramas di pagi hari. Uuunnch seger banget. Eiit,, ingat jangan sampai gosong. Jangan sampai kecoklatan, cukup ke emasan. Sebab emas melambangkan kemurnian, ya semurni cinta ayah pada bundamu nak..” Gita sampai geleng-geleng dengan narasi gombal yang di ucapkan Gilang makin akut.
__ADS_1
Berambung ….