
Gilang dan Gita pamit keluar dengan ibu. Untuk menebus resep obat untuk kakek Sudrajat. Sedangkan Dian, ibu Gilang sudah duduk di tepian ranjang itu sambil mengusap tangan mertuanya. Masih dalam mode diam. Tidak berani berbicara apa-apa. Takut salah. Pun dengan mertuanya. Hanya terlihat mengerjab-ngerjabkan kelopak matanya. Mungkin pikirannya sedang melayang terbang ke masa kejayaannya. Masa di mana ia dengan angkuhnya memisahkan anak dan menantunya ini. Masa kekejamannya di masa mudanya.
Entah apa salah Dian di matanya di masa itu, hingga restu saja tidak ia berikan pada anaknya Edy Sudrajat. Tapi lihatlah sekarang. Bukankah wanita pilihan anaknya itu, yang kini berada di sisinya. Menemaninya dengan rasa yang juga baru pulih dari kepahitan, kebencian juga amarah.
Tentu saja hal itu tidak mudah bagi Dian untuk tabah. Bohong saja jika ia tidak pernah membenci ayah suaminya ini. Dian adalah korban pertama yang pernah di sakiti pria lemah tak berdaya ini bukan.
“Gibran …” Panggil Gilang saat mereka berselisih di koridor menuju apotik.
“Pak Gilang … bu Gita.” Dengan sopan Gibran menyahuti dengan anggukan hormat pada dua orang yang ia temui.
“Kamu bilang kakekmu sakit. Tapi, mengapa sejak kemarin pagi kamu tidak di sana?” cecar Gilangmerasa Gibran sedang membohonginya saat ijin kemarin.
“Maaf pak. Awalnya saya memang menunggui kakek. Tapi, saat saya tidak di rumah. Papa jatuh di kamar mandi. Ada pembekuan darah di otaknya. Dan harus di operasi. Walau hasilnya fifty-fifty. Tapi mama tetap akan berupaya semaksimal mungkin untuk papa.” Ada kesan jujur sekaligus putus asa di wajah polos Gibran. Lelah juga ada pada raut yang ia pasang di wajahnya.
“Oh … di mana ruangannya? Boleh kami jenguk?” tanya Gita cepat untuk merespon penjelasan Gibran.
“Iya boleh buk. Satu jam lalu, papa sudah di pindah keruangan. Setelah melewati masa kritis pasca operasi.” Jawab Gibran cepat.
“Terima kasih, nanti kami ke sana.” Jawab Gita kemudian.
Mereka terpisah, Gibran membawa obat yang akan di konsumsi ayahnya. Gita dan Gilang melanjutkan tujuan mereka ke apotek untuk menebus obat kakek Sudrajat.
“Kasihan Gibran … harus menjaga pasien dua sekaligus. Mestinya a’a kurangi bebannya. Biarkan dia menjaga ayahnya, dan a’a yang urus kakek. Amalnya sama dengan menjaga ayahnya a’a. Lagi pula, a’a kan sudah tidak punya ayah. Mungkin Allah sedang memberi kesempatan untuk a’a berbakti pada orang tua.” Celetuk Gita tanpa di minta, juga tanpa mau memikirkan apakah Gilang baik-baik saja setelah mencerna pembicaraanya. Gita tidak peduli, baginya berbuat baik pada sesama manusia harga mati.
Gilang diam saja, sambil menunggu proses obat yang mereka beli di proses oleh petugas.
“Pasien atas nama Sudrajat.” Panggil petugas.
“Iya …” Jawab Gita sembari berdiri menghampiri loket.
“Pasien umum ya mbak. Jadi bayar di tempat.” Jawab Petugas di balik kaca itu memberi keterangan.
“Berapa … ?” tanya Gilang langsung mengambil alih.
__ADS_1
“Dua juta tujuh ratus delapan puluh tiga ribu, Pak.” Jawab petugas itu dengan lugas.
Gilang segera merogoh dompetnya, mengeluarkan uang merah sebanyak 30 lembar untuk membayar obat untuk kakeknya.
“Kelebihan pak.” Petugas itu mengembalikan dua lenbar uang merah pada Gilang.
“Ini kembaliannya, dan obatnya lewat pintu samping.” Lanjutnya ramah menujukkan pintu di sisi kanannya.
“Baik, terima kasih.” Jawab Gilang dan Gita yang kemudian berjalan kea rah pintu yang di maksudkan.
Ternyata obat itu tidak sedikit. Lebih dari sepuluh botol infus yang mereka susun di dalam kotak lumayang besar. Ada beberapa ampul injeksi juga di dalamnya. Juga beberapa obat dalam jumlah banyak tentu ada di dalam kardus itu.
“Berat a’ …” Gita memecahkan keheningan saat mereka berjalan kembali ke ruangan kakek Sudrajat di rawat.
“Masih berat Eneng.” Jawab Gilang mencoba bercanda pada istrinya.
“Eneng tambah gendut …?” tanya Gita mengerling pada sang suami.
“A’a sukanya gimana? Yang berisi seperti sekarang atau harus di kempesin kaya masih gadis?” tanya Gita saat mereka berada di dalam lift.
“E m … gimana ya Neng?” Kalimat Gilang menggantung untuk beberapa detik memandang tubuh Gita dengan seksama.
“Jujur aja A’ …” Gita tak sabar mendapat jawaban dari Gilang.
“Sebenarnya ga jauh beda sih ukurannya. Sepertinya ada sedikit kenaikan bobot tubuh Eneng. Tapi, menurut a’a sih di tempat yang benar.” Jawab Gilang meletakan satu tangan di depan dadanya dan satunya lagi di bawah dagunya dengan mata yang masih memandang Gita.
“Gimana …?” tanya Gita bingung.
“Ini … di sini. Ukuran ini membesar dan a’a suka.” Hey, telunjuk Gilang persis di atas dada Gita sekarang.
“Putar.” Perintahnya pada Gita yang seperti kambing congek mengikuti perintah suaminya.
“Nah … ini. Ukuran bemper ini nih, yang makin bikin a’a suka, dan selalu gemesh.” Oh … Gilang Oke nih, Fix ke omesan Kevin sudah nurun 100% ke Gilang. Dia udah main remas saja, pada bagian pipi belakang tubuh Gita.
__ADS_1
“Eh … ini tuh jatuhnya pelecehan di tempat umum lho, a’” Gita baru sadar sudah di perdaya oleh suaminya. Kebayang ga sih, mereka berdua yang sedang berada di dalam lift, itu b0kong udah di remas-remas saja, kaya nasi remes tau ga. Untung mereka hanya berdua dalam kotak persegi itu.
“Pelecehan itu hanya di lakukan oleh orang asing Neng, Kalo suami yang melakukannya. Jatuhnya jadi amal.” Kekeh Gilang memeluk Gita dari belakang.
“Amal … amal apa?” tanya Gita berbalik memghadap Gilang.
“Amal gairah Neng.” Bisik Gilang di telinga Gita.
“Huuuhft, punya suami kok mesum gini.” Gita pura-pura ngambek.
Ting.
Pintu lift terbuka. Keduanya kemabli ke mode serius.Tidak bisa lagi melanjutkan sesi tanya jawab yang hanya berakhir mesra. Gilang sudah kembali mengangkat dus berisi obat tadi,. Menuju ruang rawat kakek Sudrajat.
“Ini suster.” Gilang meletakan di atas meja perawat.
“Ada semua obatnya?” tanya perawat mencocokan resep dan kertas yang ada dalam kardus tadi.
“Tidak tau.” Jawab Gilang polos.
Ia lupa bertanya pada pihak apotik tadi, apakah obat itu semua ada.
“Oh … oke. Semua ada kok. Terima kasih.” Perawat itu tersenyum senang.
“Itu obat buat berapa lama?” tanya Gita yang penasaran dengan kisaran biaya yang harus mereka siapkan setiap kali akan menebus obat untuk kakek Sudrajat.
“Huum … dua mungkintiga hari akan habis lagi.” Jawab perawat menjawab tanpa melihat ke arah Gita.
“Apa keadaannya akan terus begitu?” tanya Gita lagi.
“Huum. Sebaiknya, besok pagi bapak dan ibu datang lagi. Untuk berkonsultasi pada dokter yang menangani. Tadi siang dokternya ada, tapi pihak keluarga tidak ada menjaga pasien.” Jawab perawat itu pada Gita.
Bersambung …
__ADS_1