
Selang oksigen Sudrajat sudah di ganti dengan yang hanya tersalur langsung ke lubang hidung pasien itu. Sehingga mungkin Sudrajat sudah bisa berkomunikasi dengan lancar pada orang yang menjenguknya.
“Bapak … boleh kami pulang? Besok lagi kami akan kembali jenguk bapak.” Pamit Dian pada mertuanya.
Ada anggukan di kepala yang lemah itu. Dan kali ini mulutnya sedikit terbuka. Ingin berusaha berbicara.
“D … ii..” suara ringkih pun lemah itu terdengar sayup.
Ibu Gilang memperhatikan dengan seksama. Di ikuti Gilang dan Gita yang ikut tidak sabar ingin tau kata apa yang ingin Sudrajat ucapkan.
“Dih … di … aan.” Ulangnya terbata.
“Iya pak.” Ibu Gilang kembali memegang tangan mertuanya.
“Ma … af.” Ujarnya dengan air mata yang terdesak keluar Lagi. Reflek Dian menciumi tangan mertua yang sejak tadi di genggamnya.
“Bapak … saya juga banyak salah pada bapak. Cepat sembuh ya.” Kini, air mata ibu Gilang akhirnya luruh juga. Sejak tadi dengan susah payah ia tahan agar tidak keluar. Ia tak mau, mertuanya bersedih apalagi merasa bersalah. Tetapi, sepertinya pria tua itu sejak tadi memang menahan rasa penyesalan yang tidak bisa ia ungkapkan. Maka kalimat maaf pun dapat ia ucap di saat mereka akan beranjak pergi.
“Laaaang …” Sudrajat menoleh ke arah cucu yang pernah ia perlakukan semena-mena. GIlang hanya menatap sayu pada pria bernama Sudrajat itu.
“Ma…af.” Ulangnya lagi pada Gilang. Gemuruh dada Gilang mengalahkan debaran saat ia akan mengucap kalimat Qobul saat menikahi Gita. Bagaimana ia tidak terharu, orang yang paling ia benci justru kini mengucap maaf padanya. Orangutu lebih tua darinya, bahkan dalam kondisi lemah juga. Apa Gilang masih akan memelihara rasa dendam dan amarahnya pada lelaki tak berdaya ini.
“Segera sembuh saja … agar banyak waktu untuk kita bersama.” Gilang mengelus kaki Sudrajat yang ada di dekat tangannya.
Sudrajat menganggup pelan, berusaha melebarkan bibirnya ke kiri dank e kanan. Pertanda suasanan hatinya membaik dari sebelumnya.
“Pamit ya pak.” Ulang Dian mengakhiri pertemuan mereka. Anggukan kecil dan tangan yang terangkat sedikit melepas kepergian ketiga orang itu.
__ADS_1
“Titip mertua saya ya, sus. Dan ini untuk kalian semakin sehat dan bersemangat menjaganya.” Ibu GIlang pamit pada perawat yang menjaga ayah suaminya. Melihat kondisi mertua yang tidak mungkin mengkonsumsi buah-buahan yang ia bawa tadi. Maka, buah tangan itu hanya ia berikan pada para perawat yang berjaga dalam ruangan tersebut.
“wah … repot-repot. Terima kasih banyak bu.” Girang perwat itu menerima parsewl buahan yang lumayan banyak dari ibu Gilang.
“Maaf … jangan lupa besok konsultasi dengan dokter ya.” Ujar Perawat yang satunya mengingatkan. Menatap kea rah Gita dan Gilang.
“Iya … iya sus. Kami akan datang.” Jawab Gita cepat.
“Kalian membuat janji temu dengan dokter?” tanya ibu Gilang saat mereka berada di dalam lift akan turun ke lantai dasar.
“Oh … tidak juga. Hanya, tadi dokter ingin bertemu keluarga pasien. Ingin menjelaskan dengan detail keadaan kakek.” Jawab Gita, sedangkan Gilang hanya diam seribu bahasa.
“Lho … memangnya kemana Gibran dan ibunya?” tanya Ibu Gilang yang merasa aneh. Bukankah mereka hanya menjenguk. Dan bukankah ibu Gibran yang menjadi penanggung jawab masuknya Sudrajat ke rumah sakit ini.
“Ayah Gibran jatuh di kamar mandi dan harus di operasi. Ini baru saja keluar dari ruang operasi.” Jawab Gita lagi memberi informasi pada mertuanya.
“Iya bu. Tadi kami tak sengaja bertemu Gibran waktu memnebus obat untuk kakek.” Jelas Gita lagi.
“Boleh kita jenguk sekalian?” kalimat tanya itu jelas ia tujukan pada Gilang anaknya. Yang ia lihat dari tadi memasang wajah dingin saja, mirip kanebo kering. Dian tau, hati Gilang belum baik-baik saja, atas segala yang ia temui hari ini.
“Ibu siap ketemu tante Lisa ibunya Gibran?” tanya Gilang memastikan ketabahan hati sang ibu.
“Bukannya kemarin Lisa sudah datang ke rumah untuk menyampaokan informasi kakekmu yang sakit ini.” Ibu Gilang mengingatkan. Yang artinya ini nanti bukanlah pertemuan pertamanya dengan ibu Gibran.
Gilang sendiri yang menekan tombol angka di dinding. Tanpa menunggu pintu lift terbuka. Ia masih ingat di lantai berapa ayah Gibran di rawat sekarang.
“Benar di sini?” tanya ibu Gilang.
__ADS_1
“Ini namanya …” tunjuk Gita pada nama yang tertera di depan ruangan.
Dian mengangguk, dan kemudian mengetuk pintu.
Gibran yang berada di dalam, segera membuka dan mepersilahkan tamunya masuk.
Tampak bengkak dan sembab mata Lisa ibu Gibran. Bagaimanpun, tak ada yang dapat mewakilkan perasaan pedihnya terhadap kondisi suaminya.
Dian mendekat dan memeluk Lisa. Wanita yang pernah menajdi madunya tersebut. Nantilah bicara tentang bagaimana perasaan Edy suaminya terhadap wanita bernama Lisa ini. Yang pasti, wanita yang berada dalam pelukannya ini, pernah sah menjadi istri suaminya. Saat iapun masih terikat pernikahan dengan orang yang sama. Apa namanya kalau bukan madunya?
“Bagaimana kejadiannya?” tanya Dian tanpa menyebut nama atau panggilan pada wanita yang ia sendiri bingung di panggil dengan bagaimana.
“Papa Gibran memang stroke sebelumnya mbak. Dan hari itu, Gibran sedang di rumah sakit menjaga kakek. Dan sa … ya …. Hiks .. Hiks”tangisnya keluar lagi, tak bisa dengan lancar melanjutkan ucapannya. Dian mengelus punggung Lisa memberi ketenangan, pada ibu Gubran tersebut.
“Hah … “ Desahnya membuang nafas.
“Papa Gibran memang tidak pernah kami tinggal sendiri di rumah. Kami berdua selalu bergantian menjaganya. Tapi, hari itu …” lagi, ucapannya terhenti. Lalu melangkah mendekati suaminya yang belum sadarkan diri, akibat obat bius masih berlaku dalam tubuhnya.
“Tapi karena keadaan ekonomi kami yang menipis. Tidak mungkin kami harus menanggung biaya papa Gibran dan kakeknya secara bersamaan kan. Maka, saya ke rumah mbak Dian.” Ujarnya tanpa jeda juga melepaskan rasa malu. Saat mengakui ketidak mampuan keluarganya dalam hal finansial.
Gibran sudah tidak perduli akan wajahnya, rasa malunya sudah ia letakkan di bawah kakinya. Percuma berlagak di hadapan pimpinan perusahaan tempatnya bekerja. Walau ia masih ingat, dulu ia sangat di manja dan di anak emaskan pihak keluarga Sudrajat.
“Jadi … saat kamu tinggal menemuiku. Papanya Gibran jatuh ?” ulang Dian menuntasakn dengann jelas kata per kata yang Lisa sampaikan.
“Iya mbak. Mas Reza jatuh di kamar mandi. Aku hanya terlambat sedikit ketika tiba di rumah. Tepat saat ia baru tergeletak, tapi kepalanya memang sempat terbentur dengan keras. Sehingga … ya beginilah.” Ucapnya mengusap kepala yang di lingkari perban itu.
Bersambung …
__ADS_1