
Gilang dan Gita sungguh tak ada tanda tanda akan menyudahi kisah Gibran. Gita bahkan kehilangan rasa kantuk demi mendapatkan akhir cerita itu hingga benar benar tuntas, Kini keduanya berada di atas ranjang, dengan posisi saling dekat, setengah duduk bersandar saja. Sebab perut mereka baru saja di isi nasi goreng ala paksu tadi.
"A'... artinya ayahnya Agi adalah suami yang tidak setia ya?" tiba-tiba resah hati Gita melandanya. Sudah cukup miris dan takut ia dengan masalalu ibunya yang seorang pelakor. Kini sebuah fakta bahkan merujuk jika ayah dari suaminya beristri dua. Khawatir itu pasti, sebab nasib manusia tak ada yang bisa di tebak.
"Hanya ayah yang tau bagaimana ia dan tante Lisa menjalani rumah tangga mereka. Karena walau bagaimana pun, mereka tetap bisa di sebut suami istri, sebab memang terikat dalam sebuah janji pernikahan."
"Hmm... ia a'..." Dengus Gita seolah kesal sendiri.
"Eneng kecewa...? Setelah tau ayahnya aGi beristri dua?" tanya Gilang tau jika istrinya agak cemas.
"Ga gitu juga sih, hanya ya... gimana ya a". Takut itu pasti lah. Secara bagaimanapun aGikan anak alm. Edy Sudrajat."
"Jangan berprasangka buruk. Selingkuh dan poligami bukan penyakit keturunan kok neng. Jangan kan aGi. Ayah saja menyesal tidak bisa menolak pernikahan itu dan seolah berkhianat dengan ibu. Tapi, seandainya kita mau per. AGi boleh cemas juga dong, akan masa lalu mama Indira." Ucapnya tertahan.
"Tapi neng, pernikahan bukan ajang balas dendam dengan ketidak sempurnaan masa lalu orang tua kita. Sebab kita tidak bisa memilih menjadi anak yang lahir dari keluarga mana. Tetapi kita bisa membangun keluarga yang lebih baik untuk masa depan kita dan anak anak kita kelak. Bukankah kita sudah dewasa, yang sudah tau mana baik dan buruk. Jadi, untuk apa kita menoleh bahkan meniru hal yang nyata salah dari kesalahan orang tua kita." Belai Gilang pada rambut Gita yang sudah ia tarik ke depan dadanya.
“Kenapa ker sininya aGi jadi kaya dukun sih. Yang tau saja jika eneng takut a’a akan berpoligami.” Ungkapnya
jujur.
“Hah… istriku. Dari raut hidungmu saja aGi tau, kalo eneng teh sedang cemas. Sama dengan deruan nafasnya eneng, aGi juga tau kalau eneng sudah lelah.” Kekeh Gilang mencubit pipi Gita.
__ADS_1
“Ha… ha… si a’a niih. Makin hari makin ngegemesin. Terus a’… setelah ayah kembali tante Lisa itu gimana?”
“Kata ayah… sejak nikah ia tau jika tante Lisa sudah hamil. Dan katanya ia juga tidak pernah tidur seranjang dengan tante Lisa. Jika mereka terlihat bersama, ayah hanya tidur di sofa. Dan tante Lisa memang sering keluar rumah, tanpa sepengetahuan kakek. Ia juga sering mendapati tante bertemu dengan lelaki. Yang kemungkinan besar adalah ayah biologisnmya Gibran. Tapi, ayah pura pura tidak tau saja. Dalam pengakuannya, ayah Gibran itu beda keyakinan, juga tak kaya. Intinya tidak di restui. Tapi mereka nekat melakukan perbuatan terlarang hingga hamil Gibran itu. Tapi kakek Sudrajat dan ayah tante Lisa sama gila harta dan gila hormat. Menikahi anak anak demi kepentingan perusahaan saja, tanpa peduli dengan perasaan anak anak mereka.”
“Lalu, setelah ayah tinggalkan mereka, apa tante Lisa menikah dengan ayah Gibran?”
“Ayah tidak tau akan hal itu. Sebab ayah hanya fokus mencari nafkah dan berkumpul dengan kami saja.”
“Apa kakek Sudrajat masih hidup a’…?” tanya Gita.
“Itu juga tidak kami tau. Terakhir bertemu saat pemakaman ayah. Dia datang dan marah marah pada ibu. Karena katanya gara gara ibu ayah jadi kecelakaan dan tak panjang umur. Ibu yang membawa kesialan dalam keluarganya. Karena itu ibu malu dan tak mau lagi tau kabar mereka. Bahkan ia pernah sekali lagi datang untuk mengusir kami dari rumah yang sekarang, tetapi tidak bisa. Karena rumah itu di buat ayah atas nama ibu, hingga ahli warisnya tertera nama teteh dan Agi. Jadi ia sama sekali tak punya hak untuk mengusir kami.”
“Di dunia ini macam macam neng. Kedengarannya lebay, tapi sungguh ada kok.” Gita mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apa karena itu aGi gam au kerja sama Gibran nanti?” tanya Gita langsung ke topic utama. Tapi Gilang hanya mengangkat bahunya, pun tak tau harus bersikap bagaimana nanti pada Gibran.
“AGi dendam dengan kakek?”
“Insya Allah tidak neng.”
“Gimana…?”
__ADS_1
“AGi, tidak secara langsung di sakiti oleh kakek Sudrajat. Tapi bagaimana dengan perasaan ibu? Ibu yang terdampak trauma langsung oleh tindakan mereka. Ibu sudah terlalu lama menderita dan sakit hati, apakah dengan memberi pekerjaan pada Gibran nantinya tidak runyam?” Gilang balik bertanya.
“AGi tidak tau apa yang ada dalam hati ibu sesungguhnya. Walaupun terlihat menrerima ayah kembali walau telah nyata berpoligami. Tapi, bagaimana perasannya saat melihat Gibran, ibu pernah mengurus anak itu. Memandiukan, membersihkan kotorannya. Semua itu pernah ibu lakukan, dengan wajah yang terlihat biasa biasa saja. Tapi bagaimana dengan perasaan sesungguhnya?” Gilang memberikan pandangan.
“Ia juga sih. Boleh eneng share ke Kak Kevin dan mamam Ay kak? Biar tau duduk permasalahannya, jika aGi mungki merasa tak nyaman jika nantinya Gibran yang akan di posisi eneng.” Tanya Gita yang tak bisa mengambil keputusan sendiri tanpa seijin suaminya itu.
“Nanti saja neng. Sebaiknya aGi bicara dulu dengan Gibran. Bagaimanapun juga, aGi harus professional dalam urusan pekerjaan dan keluarga. Soal di sampaikan atau tudak dengan pak bos, aGi rasa janganlah besar kecil masalah kita, selalu kita lapor pada mereka. Mereka juga pasti punya masalah sendiri, bahkan mungkin lebih berat dan besar dari masalah kita. Kita berusaha mendewasakan diri, sebab kemanapun nantinya, kita juga akan menjadi orang tua, yang di tuakan, menjadi panutan dan teladan.
Belajar saja mengatasi masalah kit sendiri, agar kita mandiri. Ada Allah neng, Lebih baik aGi menyerahkan semuanya pada Allah. Apapun petunjuk yang Allah berikan nanti, Insya Allah akan dapat kita jalani tanpa tapi. Sebab, rancangan Allah itu sempurna.” Jawab Gilang bijaksana.
Gita memeluk tubuh Gilang erat. Semakin bangga dan makin cinta pada Gilang Surenra, lelaki sempurna versi dia, versi dia saja. Sebab mungkin saja masih ada yang lebih baik dari Gilang, mungkin.
Penunjuk waktu hampir merujuk pada pukul 3 dini hari. Maka mereka bersepakat untuk melakukan sholat tahajud.
Sungguh memilih berpasrah saja. Meminta petunjuk pada Allah SWT, akan bagaimanakedepannya keputusan yang akan mereka ambil untuk menghadapi hidup dan kehidupan mereka berdua. Apapun itu nanti kedepannya, mereka memilih percaya saja, jalan Allah pasti akan indah.
Bersambung...
Maaf agak telat... asal tetap UP kan Readers tersayangku
Lop All❤️❤️❤️
__ADS_1