CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 95 : HANYA KEBETULAN


__ADS_3

"Saya bekerja sebagai crew store di sebuah minimarket pak.” Jawab Gibran Jujur.


Gilang menemukan sebuah raut keputusasaan di wajah itu. Ia tau,. bagaimana rasanya bekerja hampir setengah hari dengan pendapatan minimum.


"Sudah berkeluarga?" lanjut Gilang menelisik urusan pribadi Gibran.


"Belum pak." jawabnya singkat.


"Maaf, tinggal sendiri?" tanya Gilang lagi.


"Tidak pak. Saya masih tinggal dengan kedua orang tua saya." Jawabnya.


Membuat Gilang sedikit penasaran, mengapa Gibran mengaku masih memiliki orang tua, bahkan dua.


"Oh... artinya. Gajimu masih cukup untuk hidup sehari hari ya?" pancing Gilang lagi.


"Kalau urusan ekonomi, banyak selalu kurang pak. Dan sedikit, akan cukup. Hanya, jika terus bekerja di bidang yang tak sesuai bidang ilmu itu rasanya tidak puas di hati." jawab Gibran pelan.


"Jika di terima di sini, maunya di bagian apa?" tanya Gilang.


"Apa saja, insya Allah siap pak."


"Jika sebagai cleaning servis?" cecar Gilang lagi.


"Jika itu sesuai prosedur dan tes yang sudah di jalani mungkin bisa." Jawabnya tegas.


Diam-diam Gilang dapat menilai, jika Gibran orang yang idealis, jujur juga teliti. Mungkin itu poinnya. mengapa pilihan Kevin dan Muna pada nama Gibran.


"Lalu menuritmu. Menjadi Sarjana Ilmu Komunikasi yang kamu sandang, cocoknya dapat di terima di bagian apa?" tanya Gilang mengukur pengetahuannya.


"Jika di lihat dari pilihan bagian yang di cari pada perusahaan ini. Mungkin di divisi pemasaran saja. Sebab di sana lebih banyak menggunakan ilmu komunikasi itu sendiri. Juga mendesain dan melakukan terobosan untuk terus menginovasi produk agar lebih laris dan di beli konsumen." Jelasnya panjang.

__ADS_1


"Iya... tapi yang kita jual adalah obat lho. Bukan produk kecantikan, skin care atau apapun yang harus susah payah meyakinkan pembeli agar jualannya laku." Bantah Gilang.


"Setidaknya... kita bisa membuat terobosan atau perjanjian kerjasama pada apotek atau rumah sakit yang akan membeli prodak kita." Gibran sudah membayangkan saja, seolah ia benar di terima di perusahaan milik Kevin tersebut. Gilang mengangguk-angguk.


"Bagaimana dengan posisi di bagian sekretaris?" pancing Gilang.


"Ha... ha... Maaf pa. Bermimpi saja saya tidak berani, apalagi mengandaikan diri di bidang tersebut. Pengalaman saya tidak ada di sana." Ucapnya merendah.


"Ya... mungkin saja. Kamu punya cita-cita terpendam." Jawab Gilang lagi. Gibran hanya tersenyum.


"Baiklah... wawancara selesai. Maaf, memanggil secara terpisah seperti ini. Dan ini tidak hanya berlaku untukmu. Hal ini di sebabkan, pak Kevin sangat jarang bisa berada di perusahaan ini. Untuk langsung memimpin kantor ini. Sebab, akan membuka cabang di Cisarua. Di samping itu, beliau adalah seorang wakil direktur, di sebuah Rumah Sakit di Jakarta." Jelas Gilang tanpa di minta.


Lagi lagi, Gibran hanya mengangguk, sembari kagum, akan semua jabatan yang Kevin sandang. Saat ia di interview oleh Kevin, hatinya sungguh tergetar. Ada rasa segan, hormat dan termotivasi pada sosok seorang Kevin.


Bukan hanya karena posisinya sebagai CEO, melainkan ada aura tersendiri yang membuat hati kecilnya berkata, orang ini patut di teladani.


"Ijin apa, sekarang sudah boleh pamit pulang pak?" tanya Gibran pada Gilang. Membuat Gilang reflek melihat arlojinya yang menunjukkan waktu pukul 4 sore.


"Oh iya silahkan. Astagafirullah, sampai lupa menawarkan minuman untukmu di dalam tadi." Ujar Gilang saat mengantarkan Gibran keluar ruangannya.


"Eh... mau ngopi bersana di luar?" tanya Gilang ambigu. Membuat, Gita dan Gibran, sama sama menoleh dan menatap ke arahnya.


"Siapa?" tanya Gibran dan Gita bersamaaan. Karena ajakan ngopi yang di suarakan oleh Gilang tadi tak jelas di peruntukkan pada siapa.


"Hm... keduanya. Gibran mau?"tanya Gilang, merujuk ke arah Gilang. Sementara Gita sudah semakin dekat pada tubuh Gilang, dan menggencangkan pakaian yang suaminya yang terlihat kusut.


"Oh... tidak pak. Terima kasih, saya permisi pulang saja." Tolak Gibran yang tentu saja merasa sungkan.


"Jangan... ayo sebentar saja. Hanya ngopi di cafe seberang bangunan ini." Ujar Gilang seolah memaksa.


Walau pun merasa tak enak dan bagaimana pun, akhirnya Gibran tak punya alasan untuk tetap tinggal. Ya... ingin ijin lebih cepat pulang karena apa? tidak ada anak yang menangis, tak pula punya istri yang menantinta karena menang brlum punya. Hanya punya ayah yang terbaring sakit, pun ada ibunya yang menjaga.

__ADS_1


Gita, Gilang dan Gibran sudah berada di sebuah Cafe semi outdoor tak jauh dari kantor mereka, walau belum banyak variasu menu. Setidaknya memiliki tempat yang nyaman untuk ngobrol dan bersantai.


"Oh iya, Gibran. Perkenalkan ini Gita Putri Mahesa. Istri saya, dia juga bekerja di kantor yang sama, di bagian sekretaris." Gilang memperkenalkan Gita, dan keduanya berjabat tangan juga saling mengangguk.


"Maaf Pak. Nama CEO perusahaan itu, Kevin Sebastian Mahesa, maaf sekali lagi. Apakah itu Mahesa yang sama, atau hanya terjadi kebetulan saja?" tanyanya yang selalu cermat dan teliti.


"Oh... iya. Bukan kebetulan. Saya adik bungsunya pak Kevin." Gita angkat bicara.


"Oh... begitu." Angguknya menelan salivanya sendiri. Sembari membayangkan, betapa sukses Gilang. Pria yang masih di duganya adalah cucu kandung Kakek Sudrajat.


"Apa nama belakang yang sama, memang selalu boleh di kira memiliki hubungan darah ya, Bran?" pancing Gilang yang sedari tadi mencari momen ini untuk bertanya.


"Maaf... maksudnya?" Gibran tak lansung menerkam umpan itu bulat bulat.


"Namamu, Gibran Sudrajat. Hampur sama dengan nama ayahku. Edy Sudrajat." Gilang menatap ke arah Gibran tanpa berkedip.


"Maaf... pak Gilang. Saya Gibran anak bu Lisa Cahya Ningsih. Maaf jika di masa lalu saya dan mama pernah salah pada pak Gilang dan keluarga." Ujar Gibran tanpa basa basi.


"Maksudnya?" Gilang berusaha untuk tidak terkejut dengan prnyampaian Gibran.


"Saya Gibran Sudrajat, yang di anggap cucu oleh kakek Sudrajat. Mama yang lebih di akui sebagai istri ayahnya pak Gilang oleh kakek. Maaf pak, maafkan keluarga kami." ujar Gibran mengakuibkesalahan yang sesungguhnya bukan salahnya.


"Jadi sejak awal kamu sudah tau siapa saya?" tanya Gilang dengan nada datar, cendrung dingin. Sementara di bawah meja. Tangan Gita sudah mengelus elusnya, agar bertindak lebih sabar dan tidak emosi.


"Maaf pak. Awalnya tidak. Tetapi, tepat sebelum berangkat menemui pak Gilang tadi, saya sempat mencari ingatan saya melalui mama. Dan sepertinya benar. Jika Pak Gilang Surenra adalah orang yang sama. Yang pernah tinggal serumah waktu saya masih sangat kecil. Dan untuk itu, sungguh. Saya minta maaf pak. Dan sebelum ke sini untuk menemui pak Gilang. Mama juga bertitip salam untuk bu Dian. Juga permintaan maaf dari mama." Ujar Gibran sungguh sungguh.


"Apa kakek Sudrajat masih ada?"


Bersambung...


Maaf kemarin bolong ya

__ADS_1


Hari ini di usahain double deh.


Votenya... buat nyak okeh


__ADS_2