
Siska dan Gilang berjejal di ambang pintu demi menyelamatkan pasangan hidupnya masing-masing. Bagaimana tidak. Dalam kamar yang sama, ada Asep yang baru sehari jadi suami Siska. Juga ada Gita yang sedang bahagia setelah menyadari jika dirinya tengah hamil muda.
Asep… sejak tadi hanya duduk menggulirkan gawainya, untuk mengusir sepi saat di tinggal Siska ke dapur. Merasa kaget melihat Gita yang tiba-tiba melempar tubuhnya ke atas peraduan, saksi pertarungan sengitnya semalam dengan Siska.
“Neng … besok pagi-pagi sekali. Setelah sholat subuh aGi ke pantai ya neng, cari ikan. Pasti seger deh.” Rayu Gilang menepuk bahu istrinya.
“Malam ini aja ya a’…” rengeknmya lembut seolah masih bisa bernegosiasi.
“Sudah malam sayang, yuk ke rumah sebelah. Ini kamar pengantin baru, sayang. Jangan ganggu mereka, ya sayangku.” Rayu Gilang lembut super lembut. Menutup gejolak rasa yang berkecambuk dalam batinnya. Malu, marah, risih, dongkol juga takut istrinya marah. Semua ada di dalam hatinya sekarang.
“Coba di cari dulu ya A’a sayang. Untuk anak kita.” Bulatan manik mata itu mulai berembun, sembab. Mana Gilang tahan melihat wajah sendu memelas semacam itu pada bingkai wajah Gita, wanita tercintanya tersebut.
“Iya… malam ini a’a ke laut. Tapi Eneng, pulang ya. Jangan di kamar ini.” Pintanya lembut.
“Ga berani a’…”
“Ya sudah, a’ a temani sampai tidur dulu. Besok a’ a ke laut.” Nego Gilang hati-hati.
Gita menggeleng. “Sama Asep saja ke lautnya malam ini. Eneng mau tidur sama Siska.” Ucapnya makin tak tau diri.
“Iya deh… ayo Lang, kita ke laut malam ini cari ikan.” Asep mana memikir panjang, jika ucapannya itu membuat cemberut wajah istrinya.
“Hah …? Ja… jangan. Aduh jadi ngerepotin. Ayok Neng. Kita ke sebelah. Nanti kalo Eneng udah tidur, a’a ke laut.” Rayunya lagi.
“Ga mau di tinggal a’a sendiri.” Rengek Gita membuat Siska agak mual dan bête melihatnya.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
Suara ketukan pada pintu yang seseungguhnya terbuka itu., membuat semua menoleh ke asal suara.
“Lang… ibu sudah menelpon nelayan langganan ibu. Katanya suaminya sudah ke daratan, bawa ikan segar banyak. Sekarang sedang nimbang mau di bawa ke desa lain untuk di jual. Kalau mau, buruan sekarang saja ke laut.” Informasi dari ibu Siska bagai oasis di tengah Gurun Sahara. Bagaimana Tuhan memberikan ide di kepala istrinya untuk mencari kidaman yang kadang membuat lututnya lemas. Namun anak yang dalam kandungan istrinya ini, tampak jelmaan Dewi Fortuna, sebab keberuntungan selalu melingkupinya.
“Tuuh… a’a dengerkan. Buruan ambil ikannya a’… “Lonjak Gita bersemangat.
Pun Siska, rasa kesal dan betenya seketika sirna. Mendengar hal yang ibunya sampaikan.
“Nih… pakai jaket. Di luar dingin. Hati-hati di jalan.” Siska mengeluarkan dua buah jaket untuk Asep dan Gilang. Agar segera ke laut untuk membeli ikan. Dan Antoni ikut mereka sebagai penunjuk jalan.
“Pastikan bensinya cukup, supaya ga ndorong.” Kekeh Siska mengingatkan.
Mereka pun tertawa, jika ingat sore tadi Asep yang gempor mengayuh sepeda demi pempek.
Gita mengurungkan niatnya untuk tidur di kamar pengantin. Dengan semangat ia pun ikut duduk di dapur, melihat Mirna dan ibu dengan cekatan menyiapkan bumbu untuk ikan pangang mereka nanti.
“Iya… ya bu?” Senang Gita mendengarkan ucapan sekaligus doa dari ibu Siska itu.
“Iya… ikan kan bagus untuk otak. Terus, seharian ini saja semua permintaannya keturutan semua. Artinya anak kalian akan berlimpah rejeki nanti.”
“Amiiin.” Gita percaya itu.
“Emang hamil anak cowok dan cewek beda ya bu?” tanya Siska pada ibunya.
“Ya beda… dulu waktu hamil kamu dan Mirna. Ibu suka makan ikan dan sayuran. Ga banyak sih, tapi sering. Nah, waktu hamil Antoni, ibu sering meringis kelaparan. Karena maunya makan daging. Tapi waktu itu, keuangan keluarga kita sedang sulit. Ayahmu terpaksa naik sepeda jual ikan hasil tangkapannya, ke desa lain. Hanya demi dapat daging sapi untuk kidaman ibu.” Cerita ibu Siska yang sangat menarik untuk mereka dengar.
“Rasanya gimana kalo ga dapat yang di inginkan Bu?” tanya Gita menyaakan perasaannya.
__ADS_1
“Rasanya macam-macam. Marah, kesal, mengasihani diri juga. Bisa menangis berhari-hari kalo belum keturutan.” Jawab ibu agak malu.
“Masa bu, tapi Siska ga pernah liah ibu menangis waktu itu.” Bantah Siska mengingat masa lalu.
“Ya.. ibu nangisnya hanya saat sama ayahmu di kamar. Kadang Ayah bisa ibu cakar, ibu gigit. Pokoknya ibu marah, karena keinginan ibu tidak terpenuhi. Setelah keturutan tuh, baru rasa bersalah sama suami muncul. Dan kadang nangis lagi, nyesel kan liat bekas cakaran kuku ibu sendiri di kulit punggung ayahmu.” Lanjut ibu jujur.
“Sampai segitunya…?” celetuk Siska. Sedangkan Mirna sejak tadi memasang headset saja di telinganya. Tak ingin banyak mendengar hal yang mungkin belum waktunya ia dengarkan.
“Nanti kamu juga bakal ngerasain Sis. Gimana kuatnya rasa ingin itu muncul dengan sendirinya dan tiba-tiba.” Ujar Gita berapi-api.
“Insya Allah sadar.” Doa Siska agak takut dengan masa ngidam yang pasti di lalui setiap ibu hamil.
“Apa itu bisa di tahan ya?” lanjutr Siska.
“Ga tau sih… katanya bawaan hormonal. Dan ibu benar, tadi setelah liat AGi capek sepedaan. Eneng kasihan lho sama a’a. Nyesel juga, tapi…?”
“Nyesel apanya… malah nyasar ke kamar ku supaya Gilang malam-malam ke laut cariikan. Apaan coba?” Sewot Siska.
“Nah itu tadi… ajaib kan. Kalo aku sendiri yang mikir, mana tega. Tapi ini otaknya ade bayi sudah terbentuk kali. Jadi banyak maunya.” Bela Gita pada dirinya yang tengah.
“Bukan banyak maunya… tapi itu ujian agar kita senantiasa bersyukur. Apapun resiko yang kita alami selama mengandung, kita harus selalu menerima kehadirannya. Sebab kita menginginkannya. Sekaligus ujian cinta pernikahan, sekuat apa pasangan kita dalam membahagiakan kita, saat kita sendiri tak
mengenali diri kita sendiri.” Ibu Siska mengusap perut rata Gita.
“Terima kasih penguatannya ya bu. Eneng bersyukur di nyatakan hamil di desa ini. Bahkan Eneng tidak menyesal di nyatakan lemah kandungan di sini. Sebab ada ibu yang selalu siap mengadakan keinginan Eneng.” Peluk Gita terharu dengan kebaikan dan kebijakan ibu Siska.
“Bukan hanya ibu yang mengadakannya, tapi berterima kasih dengan suamimu yang bahkan seharian ini sibuk memenuhi semua keinginan kalian berdua. Jangan lupa pijat punggungnya. Sampaikan terima kasihmu dengan baik untuk pengorbanannya hari ini. Tidak semua suami se siaga Gilang.” Ibu Siska mengingatkan.
Gita berurai airmata. Potongan slide kegiatan Gilang sejak pagi tak luput dari ingatannya, siang tadi ia sudah susah payah syuting memask sarden, sore harus mengayuh sepeda mencari pempek, bahkan malam pun harus kelaut mencari ikan. Membuatnya berpikir, apakah ia sudah menyiksa suami sendiri.
__ADS_1
Bersambung…