CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 102 : TINDAKAN KRIMINAL


__ADS_3

Muna memang baru saja selesai memberi ASInya pada Naya. Sementara manik mata bayi itu berputar, kadang kelopaknya mengatup. Pertanda ia mulai akan terlelap. Sayup sayup indra dengarnya pun menangkap verbal yang Muna rangkaikan dengan saat apik, sebab ia memang sambil membacakan sebuah buku cerita untuk Aydan.


Buku serial cerita sederhana yang legendaris, pun sering terulang ulang mereka bacakan secara bergantian, bahkan kadang Aydan sudah hampir hafal dengan alur dan penokohan dalam cerita yang di bacakan tersebut.


Perut Naya sudah terisi penuh, tentu saja dalam dua atau tiga jam kedepan bayi itu akan tidur dengan pulasnya. Sama dengan Aydan, yang sebelum di bacakan dongeng tadi juga sudah menenggak segelas susu vanila yang membuatnya tidur dengan nyenyak.


Hampir setengah hari di perjalanan dengan serentetan keriwehan bersama dua bayi di perjalanan. Tentu Muna ingin merilexkan tubuh dan pikirannya.


Memilih berendam dalam bath up walau dengan pintu setengah terbuka, bagi Muna adalah hal terbenar. Agar ia masih bisa melihat jika kedua anaknya masih tidur dengan aman. Sebab sejak sholat Isya tadi, Kevin tidak masuk ke kamar mereka, karena asyik bertukar cerita dengan babe juga pak Herman, sambil memantau warga desa yang sudah mulai sibuk melanjutkan pembuatan panggung untuk singasana raja dan ratu sehari nanti.


"Mae... Ay sama Nay udah lelap. Giliran otong mau tes sofa atau main main di bath up dulu, yank?" tawar Kevin yang tiba-tiba bagai hantu sudah berdiri di ambang pintu, melebarkan bukaan pintu kamar mandi di dalam kamar mereka.


"Astagafirullahalazdiiim. Abaaaang...!!!" kaget Muna karena sedari tadi memang memejamkan matanya untuk mendapatkan feel dalam bath up tersebut.


Jika hanya sosok suaminya berada di depan pintu saja sih, tidak masalah.


Tapi dengan sosok tubuh polos tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya itu, yang membuat Muna heran membuat suara khas toanya kumat.


"Kenapa?" kekehnya menutup pintu kamar mandi dengan kakinya, lalu melangkah dan siap berbaur dengan Muna yang tengah berendam. Pun tanpa busana.


"Ay aja pake baju kali, bang." Keki Muna dengan wajah memerah melihat tubuh itu sudah membuat volume air dalam bath up itu beriak riak kecil, karena Kevin masuk menubruk tububnya pelan.


Kevin langsung menyergap leher jenjang Muna, berpindah pindah pelan tanpa meninggalkan bekas, takut Muna akan melakukan karangan bebas lagi tentang spiderman seperti kasus beberapa bulan lalu.


Muna manusia biasa, selelah apa sih raganya dalam hal menjaga buah hati di perjalanan. Saat di perhadapkan dengan suami tersayang, yang selalu punya gerakan jitu dalam hal merayu, menggoda dan membangkitkan semangat dan hasrat bercintanya.


"Di sini saja... atau mau coba di sofa. Sayank." Bisik Kevin nakal, sambil menggigit gigit pelan telinga Muna.


"Oouuugh..." Muna tak sanggup menjawab. Dan tidak tau harus jawab apa, karena yang ia rasakan hanya gelenyar geleyar nikmat, akibat otong sudah tertancap saja dalam rumah mumun, walau keduanya sedang berada di dalam air.

__ADS_1


Kevin tersenyum senang melihat wajah pasrah istrinya, saat meronta ronta pun tak dapat ia lakukan, demi menikmati dahsyatnya sensasi gempuran oleh suaminya tersebut.


"Ooouuh baby... kenapa walau sudah keluar anak dua, si mumun tetep sebegini lengketnya siih, Mae." Puji Kevin dengan kesempitan perumahan mumun yang sudah sering ia keluar masuki sesuka hatinya itu.


"Abaaang aaah." De sah Muna terdengar serak. Membuat Kevin bergidik, dan bergeser mundur melepas pertautannya.


Berdiri lalu melangkah keluar bath up dengan keadaan otong yang masih jereng, menegang.


Kevin meraih kimono mandi, lalu memasang seadanya ke tubuhnya. Lalu menarik handuk berukuran besar pada gantungan tak jauh dari tempatnya berpijak.


Meraih Muna yang masih tau, mau di apakan oleh suaminya tersebut.


Kemudian, dengan gagah perkasanya Kevin sudah menggendong tubuh Muna yang terbalut handuk tadi, menuju luar kamar mandi.


Oh... Tuhan. Kevin sungguh benar benar ingin melakukannya di atas sofa tantra barunya.


Muna tersipu malu, menyadari tubunya sudah terposisi dengan sedemikian rupa. Sehingga Kevin memang terstruktur bak penunggang kuda di atas sofa, menindih Muna.


"Males Mae. Bunting bunting dah. Abang tanggung jawab kok. Kalau repot kita pekerjakan 10 baby sitters sekalian." Ujar Kevin yang sudah merasa darah putihnya sudah naik ke ubun ubun, ingin segera muntah.


Muna juga sebenarnya, tak rela jika otong terlepas dari aktivitasnya yang sedang asyik berkedut kedut menghisap batang otong tersebut.


Memilih pasrah dan terus menghisap hisap benda yang ia rasakan makin kuat menghujam bagian tubuhnya itu adalah hal ter nikmat yang bisa ia ciptakan untuk juga ingin mencapai kli maksnya sendiri.


"Aaaauuuh..." erang Kevin. Kali ini Kevin yang merasa terlebih dahulu mencapai garis finish pacuannya.


Dengan masih tak melepas gigirannya pada pucuk galon minuman Naya, ia masih ingin memberikan sensasi ero tis untuk istrinya agar merasa puas dengan sajiannya.


"Jangan lama lama di sini, bang. Ntar ke minum." Tegur Muna yang baru mendarat di bumi, setelah beberapa saat sukmanya melayang layang ke angkasa. Sungguh Kevin adalah suami yang tak pernah gagal dalam hal memuaskan istrinya. (Yang ngiri... melipir ke pinggir ya. Kita sefrekuensi)

__ADS_1


Pada menit selanjutnya, lagi.


Tubuh Muna sudah kembali berada di dalam bath up, terendam dalam bak besar berisi air hangat yang mampu mengendurkan otot otot yang sempat kencang dan menegang tadi.


Wajah Kevin sumringah, saat Muna cemberut air dalam bak tadi menyusut karena ulahnya.


"Kok di kosongin sih bang?" tanya Muna agak heran.


"Biar cepet selesai, kalo kelamaan bisa masuk angin." Jawabnya cuek dan melemparkan sebuah handuk yang baru saja ia gunakan mengeringkan rambut dan tubuhnya setelah mandi besar.


Kamar baru merek memang tak seluas kamar mereka yang di Bandung, tapi fasilitas di dalamnya cukuo lengkap. Dan semua itu tak pernah lepas dari peran Kevin yang selalu dengan cerewetnya melengkapi semua kebutuhan itu melalui Tama, asistrnnya.


Muna menggosok-gosokkan handuk kecil ke rambut basahnya. Dan Kevin sudah duduk manis di depan meja rias Muna, memegang sebuah alat pengering rambut.


"Sini, abang aja yang keringin." Pintanya dengan tatapan tulus. Dan Muna tentu saja memilih patuh pada tawaran sang suami.


"Bang..., Tama tidur di mana?" tiba-tiba Muna baru menyadari sejak sore, setelah kedatangan mereka. Ua tak melihat Tama dan mobil mereka.


"Hmm... di resort." Jawab Kevin sambik masih terlihat sibuk menyelesaikan tugasnya mengeringkan rambut Muna.


"Resort mana? Satu dengan Asep?" tebak Muna mengarang-ngarang.


"Iya." Jawab Kevin yang kemudian berdiri menghampiri meja tempatnya merebus air pada teko listrik. Kenudian menyeduh coklat hangat untuknya dan Muna.


"Resortnya jauh yank?" tanya Muna sambil menyambut segelas coklat tadi, dari tangan suaminya.


"Lumayan, 30 menit lah dari sini. Yang dekat pantai." Ujar Kevin setelah menyeruput minumannya.


"Itu... resort yang dulu tempat abang pernah nginap bukan sih?" kenang Muna.

__ADS_1


"Iya... tempat yang pernah di duga akan tempat abang melakukan tindakan kriminal, dalam hal akan merenggut keperawanan kekasihnya sendiri." Kekeh Kevin merasa lucu.


Bersambung...


__ADS_2