
Gilang makin terdiam mendengarkan apa yang baru Kevin sampaikan tadi. Sesempurna itukah seorang Kevin dalam menggali informasi yang nantinya akan berhubungan dengannya.
"Kakek Sudrajat itu, kakek kandungmu. Bagaimanapun kamu lari dan menghindar. Itu tidak akan pernah bisa merubah darah yang mengalir dalan tubuhmu. Nama hanyalah buatan manusia, tetapi darah adalah campur tangan Tuhan dalam proses pembuatannya. Dan setiap manusia milik Allah. Kita ini ciptaannya, Allah maha pengampun. Karena itu, maafkan lah beliau." Gilang menatap tak mengerti, semakin tak mengerti di buatnya. Gilang tak pernah berminat menaruh dendam pada keluarga Sudrajat, tetapi masih berusaha jika boleh tak usah tau saja akan kisah tentang mereka.
"Lusa kita sudah fokus ke pernikahan Siska. Saya harap, kamu sudah dapat jawaban untuk menerima atau tidak Gibran itu." Tegas Kevin pada Gilang yang masih belum menunjukkan akan berbuat apa untuk selanjutnya.
Keduanya meninggalkan ruang kerja yang terdapat di rumah Kevin tersebut. Dengan raut wajah yang masih menyimpan banyak rahasia pada Kevin, pun Gilang masih memiliki segudang tanda tanya terhadap apa saja yang Kevin ketahui.
"Abang... Kita makan malam bareng." Ajak Muna dengan lembut saat melihat suaminya sudah keluar dari ruangannya bersama Gilang.
"Okeh siap sayang." Kevin sempat saja menarik tangan istrinya agar tak berjarak dengannya, sehingga aksi curi ciumanpun mendarat di pipi Muna sebentar. Dan selalu, walau itu sudah seperti rutinitas, tetap saja jantung Muna berdegup tak karuan, seperti baru kemarin saja ia jatuh cinta pada suaminya itu, huh.
Gilang dan Gita cuek saja dengan pakaian mereka yang sudah sejak pagi mereka kenakan. Sebab tak terpikir untuk membawa baju ganti yang mestinya selalu siap di mobil.
Setelah makan bersama dan bercengkrama dengan keluarga itu, keduanya pun pamit undur diri. Untuk pulang kekediaman mereka, melepas segala penat lelah tubuh mereka, terlebih pikiran Gilang yang hari ini harus beberapa kali terguncang.
__ADS_1
Belum selesai keterkejutannya pada kenyataan bahwa Gibran benar adalah orang yang pernah ada dalam masa kecilnya. Kini ia harus takjub dengan pengetahuan yang Kevin dapatkan yang entah dari mana.
Gilang merebahkan tubuhnya di atas petidurannya saat sudah mengenakan pakain piayama couple yang sudah Gita sediakan untuknya.
Gita jarang melihat raut wajah Gilang suaminya sesendu itu, mungkin itu adalah tanda lelahnya dalam sehari ini harus bertemu kenyataan yang begitu bertubi-tubi ia ketahui.
Kali ini Gita tidak tidur berbantal kan lengan Gilang, melainkan mengambil posisi duduk setengah berebah lebih tinggi dari Gilang. Lalu mengambil tengkuk kepala suaminya dan menyadarkan di bahunya, ya.. kali ini Gita yang ingin menjadi pelindung suaminya. Gita Ingin Gilang membagi segala beban penat lelahnya pada hari ini dan berharap Gilang bisa terbuka untuk membagikan bebannya tersebut kepadanya.
Pelan-pelan Gita membelai rambut suaminya tersebut lembut, sangat lembut sambil sesekali mengecup dahi Gilang dengan penuh hikmat Gilang mendongakkan kepalanya ke wajah Gita sambil tersenyum tipis, sungguh ada rona lelah tersanpir teramat sangat di wajah Gilang, juga rasa bangga dan senang pada posisinya sekarang saat kepalanya dipeluk oleh sang istri.
Detik demi detik berlalu, menit pun terasa semakin banyak melangkahi angka demi angka yang tertera pada jam dinding di kamar mereka.
Akhirnya Gilang mengubah posisi mereka agar kepala Gita lah, kini yang ada di atas dadanya.
"Makasih udah ambil posisi sebagai tempat yang nyaman untuk a'a berssandar, neng." Ujar Gilang memecah kesunyian mereka sejak tadi.
__ADS_1
"Kan neng udah sering bilang kalau Neng tuh cintanya pakai banget sama a'a. Jadi wajar saja kita saling berbagi a'. Kita sekarang adalah suami istri. Bebannya a'a, ya bebannya Neng juga. Sama kan kayak duitnya Aa juga duitnya Neng juga." Canda Gita pada sang suami membuat Gilang sedikit menarik bibir ke sudut kiri atas menyunggingkan senyumnya.
"Neng bisa aja..."
"Ya a'a kan manusia. Kalau selalu kuat, tegar dan mampu sendiri Eneng unfaedah donk." Kekeh Gita manis sekali. Membuat Gita menjadi sasaran ciuman Gilang.
"Neng... Gibran Sudrajat itu benar lahir saat tante Lisa cahyaningsih dan Edi Sudrajat alias ayahnya Aa, terikat dalam sebuah pernikahan. Jadi secara administrasi Gibran anak ayah walaupun secara biologis Ayahnya adalah Reza Hanggito. Jujur Neng, a'a nggak tahu harus benci atau suka sama dia. Bagaimanapun masa kecil a'a pernah direbut oleh Gibran walaupun secara teknis dia tidak tahu kalau dia sedang merebut milik Aa. Tapi bagaimanapun a'a pernah iri pada Gibran, hanya saja tidak pernah diajarkan untuk membenci iri ataupun dengki terhadap siapapun oleh ayah walaupun saat itu masih sangat kecil dan tidak lama memiliki ayah setelah Ayah kembali kepada kami. Tapi entah dengan perasaan ibu. Yang ternyata setelah kita berumah tangga seperti ini, kita bisa bayangkan Neng. Bagaimana hancurnya hati ibu memiliki suami yang menikah lagi. Mungkin Neng akan lebih peka dalam hal menyelami perasaan ibu. Apakah ayah cinta atau tidak terhadap tante Lisa atau bagaimana hubungan mereka secara pandangan mata tetap saja Ayah itu berselingkuh kan Neng, dari ibu?" Gilang bertanya sekaligus meyakinkan dirinya pada posisi ibunya.
" Ya iyalah.. bagaimanapun juga yang namanya sudah berumah tangga dan salah satunya ada menikah dengan orang lain tetap saja itu namanya berselingkuh. Tetap saja itu namanya tidak setia." Jawab Gita yang benar lebih peka untuk urusan hal seperti ini.
"A'a boleh lupa dan bisa memaafkan masa lalu yang sedikit suram karena hadirnya Gibran, tetapi dari sisi ibu? Beliau sungguh salah satunya korban yang paling menderita di dalam rumah tangga kami adalah ibu."Lanjut Gilang.
"Iya a' bener. Walau terpaksa atau di paksa tetap saja dia diselingkuhin. Tapi yang lagi kita mau marahin siapa ? bukankah Ayah sudah dimaafkan oleh ibu? bahkan beliau sudah tidak ada di dunia, lalu untuk apa mempernasalahkan hal-hal yang sudah berlalu? tanya Gita menyadarkan suaminya.
Keduanya saling diam kembali. "Gimana kalau eneng tetap jadi sekretarisnya a'a saja. Eneng yakin, a'a ga akan bisa fokus, jika memang masih ada sesuatu yang mengganjal dan merasa terpaksa. Lebih baik tidak usah diterima dan eneng akan menunda waktu untuk berhenti menjadi sekretaris. Eneng akan terus bekerja sampai neng merasa tidak sanggup lagi untuk membagi waktu, eneng akan terus berusaha menjadi istri yang baik. Semoga cepat menjadi calon ibu juga, dan tetap menjadi sekretaris yang bisa diandalkan." Putus Gita tegas.
__ADS_1