CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 213 : HARAP HARAP CEMAS


__ADS_3

Karena ibu mertuanya terdengar menanyakan hal yang ia bawa dari rumah. Maka Gita pun bergegas dengan antusias memamerkan makanan yang ia bawa bahkan ia buat dengan tangannya sendiri. Gita bangga bisa membuat kudapan sederhana. Yang baginya bagai sesuatu yang luar biasa. Maklum saja. Anak sultan. Bisa buat kolak saja sudah bahagia setengah mati.


Tapi mana Gita taujika yang ia buat hanyalah sia-sia. Sebab sang kakek masih harus taat dengan segala pantangan makanan yang lumayan banyak untuk di patuhi. Dan hal yang membuatnya syok, buykan karena makanan yang ia bawa tidak sesuai dengan daftar yang boleh di makan kakek. Melainkan ucapan dari sang ibu mertua yang membuatnya tercekat.


“Jangan keras kepala. Ginjal Gilang yang akan menjadi taruhan. Jika idemu itu terlaksana.” Dengan wajah datar ibu Gilang menyampaikan hal tersebut. Dengan mulut yang hampir tak terlihat terbuka. Dia menyampaikannya dengan pelan. Namun tepat di dekat daun telinga Gita. Dan, kalimat itu berhasil membuat jantung Gita hampir jatuh. Matanya membulat sempurna tak mengerti dengan yang ibu mertuanya sampaikan.


“Gimana …?” tanya Gita menjadi agak gugup.


“Kamu yakin di rumah sakit Muna ada jual ginjal yang cocok dengan kakek Sudrajat?” tanya Dian masih dengan suara pelan agak geram. Berusaha tidak terlihat sedang saling berbisik. Agar ayah mertuanya tidak curiga.


“Hah …?” Gita hanya ber hah ria. Sungguh tak sadar arah pembicaraan ibu Gilang.


“Cangkok ginjal itu akan di laksanakan jika ginjalnya cocok. Dan itu pasti dari garis keturunan yang sama. Bukankah Gilang cucu asli kakek Sudrajat, bukan Gibran.” Ibu Gilang semakin menajamkan arah pembicaraannya.


Otak Gita mendadak pengeng. Tak sanggup otaknya menjangkau akan arah pembicaraan sang mertua. Tadinya dia bersemangat, sebab percaya jika rumah sakit milik Muna akan banyak memiliki stok organ tubuh yang bisa di perjual belikan. Tapi, bagaimana dengan tawarannya tadi pada sang kakek. Tidak mungkinkan dia tadi yang berapi-api. Tiba-tiba diam seribu bahasa dan tidak melanjutkan pembicaraan soal itu.


Gita mendadak kikuk. Tak tau harus bicara apa lagi pada sang kakek. Sekedar untuk berbasa-basi pun ia tak sanggup. Beralasan tak bisa meninggalkan Gwen dalam durasi waktu yang lama, akhirnya menjadi pilihan Gita agar segera bisa pulang ke rumah. Dia merasa terlanjur lancang menyampaikan idenya. Yang bahkan memang belum ia bicarakan terlebih dahulu pada Gilang. Sebab Gilang sudah dua hari ke Cisarua.


Setelah Gita di rumah ia uring-uringan sendiri. Bermain dengan Gwen sambil menanti ke datangan suami saja, dia ogah-ogahan.


“Kenapa … suami pulang Dinas kok. Wajahnya ga berseri gitu. Ga kangen sama a’a Neng?” tanya Gilang yang tidak mendapat penyambutan hangat dari sang istri, jangan kan red karpet ataupun tarian hula-hula. Senyum manis pun tidak terpasang di wajahnya. Untung Gilang cinta. Bahkan saat ia sudah dalam keadaaan bersih setelah mandi dan sudah bermain dengan Gwen sepulangnya dari Cisarua tadi.


“A … maaf. Tadi eneng salah ngomong sama kakek.” Gita sudah tidak sabar ingin memuntahkan kesalahannya.


“Salah ngomong gimana?”

__ADS_1


“Tadi eneng ke rumah ibu. Dan di sana eneng nawarin kakek untuk melanjutkan pengobatan di Jakarta saja. Supaya bisa melakukan tranplantasi ginjal.” Terangnya.


“Terus?”


“Ya, kakek sih ga mau. Tapi eneng emang yang kekeuh.” Jawab Gita dengan wajah cemberut.


“Masalahnya?”


“Masalahnya kata ibu. Orang cangkok ginjal itu hanya bisa di lakukan pada ginjal yang cocok.” Kenapa di sini Bu Dian lebih pintar dari Gita yang tetiba telat mikir ya?


“Ya tentu.” Gilang menghadap Gita dengan menyokong kepalanya dengan satu tangan.


“Dan kemungkinan yang paling cocok itu, ginjalnya a’a.” Glezet. Gilang pun menelan saliva yang makin seret dalam ternggorokannya sendiri.


“Itu ketentuan yang paling real, Neng.” Jawab Gilang pelan.


“A’a istiqoroh dulu Neng. Minta petunjuk Allah saja.” Gilang kembali membuat tubuhnya menjadi telentang. Beralaskan dua tangan yang terlipat untuk ia tiduri sendiri.


“Maafin eneng yang lancang menawarkan kakek ya A’. Ucapnya lirih.


“Eneng ga salah. Wajar saja memberikan solusi untuk kesembuhan. Hanya, lain kali pikirkan dan diskusikan dulu semuanya sama a’a. Maaf kita sudah lumayan banyak mengeluarkan materi. Apa iya, kita juga harus setotalitas itu berkorban untuk kakek?” tanya Gilang melirik ke arah Gita yang tentu merasa bersalah.


“Jadi bagaimana?” tanya Gita resah.


“Untuk melakukan pengobatan di rumah sakit yang lebih canggih, A’a oke. Tapi untuk memberikan ginjal a’a untuk kakek. A’a pasrah saja neng.” Gita memeluk tubuh Gilang dengan tangis yang tersedu sedan. Tidak bisa ia membayangkan, bagaimana hidup mereka kelak. Jika suaminya hidup dengan satu ginjal. Bahkan Ginjhal itu di berikan pada orang yang memiliki masa lalu yang kelam terhadap suaminya.

__ADS_1


“Kenapa sedih ?”


“Eneng, ga mau a’a kasih ginjal a’a buat kakek.”Tangisnya masih pecah. Sesungukkan sendiri karena pikirannya yang di buatnya sedemikian rumit.


“Kan eneng yang ingatkan a’a. Agar menolong orang jangan setengah-setengah.” Ujar Gilang pelan membelai rambut Gita.


“Ya ga sebegini juga.” Jawab Gita masih dalam mode sedih dan tangisannya.


Hari berlalu. Gilang sudah berkonsultasi pada pihak rumah sakit. Bertanya akan prosedur pemindahan rawat jalan Kakek Sudrajat. Bukan ingin menyepelekan kualitas rumah sakit daerah. Hanya, pihak Kevin yang sudah tau akan keadaan Sudrajat pun sudah terdengar mendesak untuk segera melakukan pemindahan untuk perawatan kakek Gilang.


Kevin tetaplah Kevin yang suka memaksakan kehendak. Apalagi sesuatu yang berbau amal. Tentu tidak akan ia lewatkan begitu saja. Kini kakek Sudrajat malah sudah di jemput untuk bertolak ke Jakarta. Bahkan boleh tinggal di kediaman Hildimar yang masih satu kompleks denga rumah sakit mewah mereka tersebut.


“Dian … kamu yakin ini adalah kediaman besanmu?” tanya Sudrajat merasa nyalinya ciut. Setelah mereka tiba di kediaman Muna. Monalisa Hildimar.


“Bukan besan saya, pak. Ini rumah iparnya Gilang. Kevin itu saudara satu ayah beda ibu dengan Gita. Beliau menikah dengan seorang pewaris tunggal pemilik rumah sakit di sebelah itu.” Tunjuk Dian pada bangunan tinggi di sebelah kiri mereka berada sekarang.


“Ya … kurang lebih sama saja artinya. Ini rumah besan kamu.” Lanjut Sudrajat sungguh merasa kecil akan kekayaan yang pernah ia miliki di masa jayanya.


“Ya … walau demikian. Itu rejeki mereka pak. Sama sekali bukan hak kita kan.” Ujar Dian merendahkan dirinya.


“Apa nanti saya akan tetap mendapatkan perawatan cuci darah seperti di Bandung?” tanyanya penasaran.


“Kemungkinan iya. Entahlah. Saya juga tidak paham, mengapa kita sampai di bawa ke Jakarta untuk berobat.” Jawab Dian yang sudah beradu argumen dengan Gilang. Perihal ketidak setujuannya, soal pencangkokan ginjal.


“Atau jangan-jangan, saya memang ingin di berikan ginjal yang baru oleh menantumu itu?” tebak Sudrajat memastikan, apakah ia akan dapat ginjal yang baru.

__ADS_1


“Semua butuh proses dan prosedur Pak. Biarkan mereka memberikan pengobatan terbaik saja untuk bapak. Sembari kita berdoa, agar usaha mereka di ridhoi Allah.” Pinta Dian yang sendirinya harap-harap cemas dengan masa depan Gilang.


Bersambung …


__ADS_2