
Posisi Siska memang di atas tubuh Asep, tapi bukan karena apa-apa. Sebab memang Asep sendiri yang membuatnya terduduk di sana dengan sengaja. Tadi, maksud Siska hanya membangunkan Asep yang ia kira tertidur. Mana Siska tahu jika suaminya hanya berpura-pura tidur. Siska tersenyum agak malu sekaligus kesal.
"Iih... kang Asep modus nih." Ujar Siska
"Kata orang pengantin baru memang begitu Nyi. Maunya itu terus." Jawab Asep dengan alis yang terangkat ke atas dan ke bawah. "Yuk ... Yuk sebentar yuk Nyi. Tinggal di plorotin dikit kok, pasti udah ketemu tuh sama si Oppa." Tawar Asep dengan suara genitnya.
"Eh buset... ini orang nggak ada kerjaan lain apa ya? Sana, sana bantuin Gilang sama ayah. Bikin malu aja. Sampai Gilang yang bantuin ayah kerja. Yang menantu Ayah itu siapa?" Siska sudah berdiri, tidak lagi berada di atas perut Asep.
"Memangnya Gilang ngapain?" tanya Asep pada istrinya.
"Itu, ayah ada pesanan keramik untuk segera diantar ke desa sebelah. Gilang yang bantu ayah. Sana, cepat bantuin mertuanya kek." Perintah Siska pada suaminya itu.
Asep pun segera berdiri, sambil meng uyel-uyel rambut istrinya.
"Oke deh sayang, minta cium dulu sekali. Untuk kekuatan." Canda Asep tanpa menunggu jawaban langsung menyambar bibir Siska sebentar, lalu keluar kamar menuju tempat Gilang dan ayah Siska berada. Dan benar saja, keduanta tampak sedang bongkar muat keramik ke atas pick up.
Tentu bukan hal yang sulit bagi Asep untuj ikut mengerjakan itu, karena dia memang tergolong ringan tangan. Bukankah selama ini dia adalah cucu andalan Ambu yang senantiasa bisa melakukan apa saja untuk ambu, dari pekerjaan berat sampai pekerjaan ringan, dari pekerjaan laki-laki sampai pekerjaan perempuan semua tak sungkan ia lakukan. Itulah yang membuat ambu selalu betah berada di dekat Asep, bahkan memilih Asep, walau adalah cucu laki-laki. Tetap saja dia selalu merasa senang jika berada di dekat Asep.
Kini Gilang dan Asep yang membantu pekerjaan ayah Siska. Sehingga keramik-keramik tadi sudah dengan cepat berpindah ke bagian belakang pick up milik Pak Herman.
"Terima kasih ya... pekerjaan bapak jadi cepat selesai karena ada kalian berdua." Ungkap Pak Herman senang, sebab pekerjaannya bisa cepat selesai.
"Ayo ada yang mau ikut bapak ke desa sebelah? sekalian jalan-jalan melihat pemandangan." TAwar Pak Herman kepada menantu barunya.
"Oh iya boleh Pak." Jawab Asep merespon tawaran mertuanya.
"Gilang kamu enggak? ikut biar cepat nanti kita nuruninnya di sana." Ajak Pak Herman tanpa Sungkan meminta bantuan Gilang lagi. "Oh maaf Pak, Gilang boleh tinggal nggak? Soalnya tadinya mau pinjam pick up ini karena mau ke balai desa, eh. Bukan, tapi ke kios Desa mau cari makanan buat neng Gita." jawab Gilang jujur.
"Oh, setelah Bapak ngantar ini aja gimana? kalau mau pinjam pick up-nya." ujar Pak Herman memberi tawaran lagi.
"Tidak pak. Tidak usah nunggu bapak pulang. Kata Siska masih ada sepeda listrik punya ibu yang bisa digunakan." Lanjut Gilang.
__ADS_1
"Oh ya udah silakan pakai saja. Kebetulan juga itu sudah lama tidak digunakan, daripada parkir di situ." Jawab pak Herman antusias.
"Ya sudah kami pergi dulu ya, sampaikan untuk Siska kalau dia cari suaminya, bilang bapak yang culik." Kelakar Pak Herman pada Gilang berpamitan untuk membawa Asep pergi ke desa sebelah.
"Ok... iya siap." Jawab Gilang.
Mobil pick up itu pun lalu meninggalkan Gilang yang terlihat pemandangan sepeda listrik yang terparkir tidak jauh dari mobil pick up tadi.
"Sis... boleh pinjam kunci sepeda listriknya?" tanya Gilang pada Siska yang juga ikut melihat kepergian ayah dan suaminya tadi untuk mengantar keramik.
"Oh iya sebentar aku ambilkan." Jawab Siska yang kemudian masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan kunci sepeda listrik Milik ibu Siska itu.
"Nih hati-hati ya." Siska menyerahkan kunci sepeda listrik milik ibunya untuk Gilang.
Gilang pun segera meraih kunci tersebut, Lalu mengendarai sepeda itu. Dan ini adalah kali pertama Gilang menggunakan sepeda listrik yang sebenarnya lebih mirip dengan motor matic pada umumnya, namun ajaib saja sebab sepeda itu memang tidak berbunyi saat jalan. Tapi sungguh bisa mengantarkan ke mana saja walaupun dengan kecepatan yang biasa, Tentu saja tidak secepat motor namun lumayanlah daripada Gilang hanya berjalan kaki menuju Balai Desa.
Gilang berpamitan sebentar dengan istrinya. Agar Gita tahu bahwa ia akan pergi membelikan pempek menu kidaman selanjutnya, untuk Gita dan juga untuk calon buah hati mereka.
Dia tidak peduli. Apakah dia harus menggunakan sepeda pacal ataupun Tossa sekalipun, yang penting baginya adalah dia bisa segera membeli barang idaman yang istrinya inginkan.
Gilang sudah berlalu pergi, tersisa Gita yang lumayan mulai merasa sepi berada di rumah Kevin itu sendiri, dia tidak berani untuk melakukan aktivitas yang berat. Memilih duduk di teras depan rumah sambil menunggu kedatangan suaminya adalah hal yang ia rasa cukup menghiburnya.
Tak lama berselang, mungkin beberapa menit kemudian. Terlihat Mirna datang dengan membawa plastik dari gantungan motornya.
"Mirna dari mana?" sapa Gita pada Mirna yang baru saja memarkirkan motornya diantara kedua rumah itu.
"Ini Kak, bahan untuk membuat pempek." jawab Mirna sesuai dengan tujuan dia berangkat.
"Mau buat pempel?" tanya Gita menastikan.
"Iya tadi Mirna bilang sama ibu, kalau Kak Gita mau makan pempek." Jawab Mirna meladeni Gita.
__ADS_1
"Iih kok dibuatkan sih ? kan tinggal beli " ujar Gita.
"Iya tadi udah nelpon ke kios, katanya di sana stoknya sudah habis." Jawab Mirna dengan santai.
"Hah habis...?" Ulang Gita agak terkejut.
"Iya Kak, kenapa?"
"Barusan aGii Pergi Ke kios, mau beli pempek." Jawab Gita agak pelan menyadari jika kepergian suaminya akan sia-sia.
"Maaf Kak, aku tadi nggak bilang kalau Ibu sudah nelpon dan bilang stoknya di kios udah habis." Mirna merasa bersalah.
"Ya ga papa nanti ku telpon aja biar cepat kembali saja." Simpul Gita.
"Iya. Kak Gilang ke sana pakai apa?"
"Pakai sepeda listrik milik ibumu." Jawab Gita sambil menyentuh ponselnya mencari kontak Gilang.
" Ya sudah aku antar ini dulu ya kak." Pamit Mirna.
"Iya.... Eh, Mirna emangnya kenapa tanya tadi tanya AGi pake apa ke sananya?"
"Enggak papa, soalnya mobil tidak ada di garasi."
"Oh... Itu. Tadi bapakmu sama Asep ngantar pesanan keramik."
"Oke oke. Kak Gita, dari pada sepi sendiri, kesebelah yuk. Liat proses ibu bikin pempek." Ajak Mirna spontan.
"Waaah boleh juga, ayuuk" Gita pun ke rumah sebelah dan melupakan panggilan telephonenya yang memang tidak di respon oleh Gilang.
Bersambung....
__ADS_1