
Masih dalam dialog pada gawai masing-masing, yang tersambung antara Muna dan Erwin patner bisnisnya. Entah apa isi di kepala Muna saat itu. Tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya. Untuk minta di bawakan makanan yang jarang di jual sembarangan itu.
“Bawakan sempol daging, mau …?”
“Sempol … daging?” ulang Erwin memastikan. Bukankah tujuannya ke ruang rawat inap itu untuk mencocokan hasil auditnya. Tapi kenapa malah di minta membawakan makanan untuk koleganya tersebut.
“Iya … Daging giling yang di campur tepung. Di Lilit lidi dan sebelum di goreng di cemplungin sama terlur kocok.” Jelas Muna tanpa malu.
“Oh … paham. Oke deh. Daging apa?”
“Sapi lah.”
“Siap bosku.”
“Pak Erwin …?”
“Iya Miss …”
“Maaf merepotkan.” Muna baru sadar dan sedikit malu. Sebab sudah berani meminta yang aneh-aneh pada Erwin.
“No problem. Cuma minta di bawain sempol doang, ga repot kok. Kecuali minta buatkan Candi kaya jaman kapan. Aku baru ga sanggup, Miss.”
“Pak Erwin bisa aja.” Kekeh Muna yang entah mengapa ia merasa senang. Ada sisi hati yang berlonjak-lonjak
__ADS_1
kegirangan saat sesuatu yang ia inginkan itu akan tercapai.
Seusai pembicaraan itu berakhir, Muna kembali pada Annaya. Akan menyu sui buah hatinya. Agar bisa mentransfer air yang sejak pagi tidak tersalurkan. Mungkin pengaruh cairan infus membuat Annaya selalu merasa kenyang, sehingga lagi-lagi Annaya tak mau menerima ASInya.
“Sini sama Ami saja de Nayanya, Mam. Ga usah di paksa kalo memang ga mau ASI.” Celetuk Ami mengambil alih bayi itu dari gendongan Muna.
“Naya kenapa ya Mi, sejak demam semalam. Ga mau minum ASI lagi.” Kesal Muna lagi-lagi merasa dadanya penuh dan mengeras karena terlalu lama menyimpan air yang tidak di hisap bayinya.
“De Naya mau punya adek lagi kali, Mam. “ Semudah itu Ami menyimpulkan keadaan yang tak beralasan.
“Ami, ngomong apa sih …?” Muna agak sewot. Semalam Ami bak cenayang. Bilang sakit Annaya karena rindu pada ayahnya. Dan sore ini, tanpa definisi yang jelas. Ia sudah menebak asal lagi jika Annaya akan punya adik.
“Olahaan Mam. Ami ini sudah tua, sudah kenyang dengan pengalaman. Kebiasaan orang dahulu ga selalu salah kok. Walau ga semuanya benar. De Naya ini, bisa tiba-tiba sakit tanpa sebab. Terus ga mau ngASI juga. Itu pertanda yang sangat jelas, Mam. Kalo Mama lagi ngisi.” Ami dengan santainya menggendong Annaya sambil memberikan ASI melalui dot.
“Dulu, mana ada dokter. Perawat atau bidan desa juga sedikit. Jadi kalo anak demam, sakit tiba-tiba itu hanya di terka-terka saja penyebabnya. Tapi, kalo seusia de Naya gini, sakit, rewel dan ga mau ngASI sudah pasti mamanya ngisi lagi. Kalo istilahnya itu, di cubit adeknya. Makanya dia tuh ga nyaman klo lagi nyusu. Yang di perut mamam mulai beraksi. Ga ijinin kakaknya makan makanannya.” Jelas Ami bagai cenayang.
“Ah, mitos aja itu Mi.” Muna menjawab secara spontan tapi juga tak sengaja menunduk melihat perutnya yang memang tak lagi rata. Muna sadar kesininya merasa jarang olah raga, atau hanya sekedar melakukan yoga untuk menangkan pikiran, dan menjaga porsi makannya. Sebab ia adalah busui. Yang harus tetap menjaga asupan gizi untuk membantu produksi ASInya agar lancar.
“Boleh percaya, boleh tidak kok Mam. Tapi, kalo Ami perhatikan, pinggulnya Mamam juga lebar, perut Mamam juga tidak langsing. Maaf ya, Mam. Ami orang desa, juga tua. Sedikit tau dan bisa membedakan, mana gadis mana janda. Mana bumil mana busui.” Jelasnya sambil tersenyum penuh arti.
Muna sudah tidak menanggapi lagi ucapan Ami, sebab Erwin sudah muncul di ruanga rawat inap Annaya. Dan bukan is laptop Erwin yang menarik perhatiannya, melainkan kantong kresek yang di tenteng Erwin yang menajdi incarannya.
“Maaf lama Miss, sempolnya lumayan susah lho ngedapetinya.” Ujar Erwin menyerahkan kantongan plastim pada Muna.
__ADS_1
“Waah … maaf jadi ngerepotin. Biasa ada paksu yang carikan makanan. Sama ada Tama juga, asistennya. Tapi tadi mereka ke Bandung lagi Pak Erwin.” Celoteh Muna membuka kemasan sempol yang Erwin bawakan untuknya.
Muna mengendus-ngendus sempol di depannya. Tanganya sudah memegang satu lidi sempol tadi.
“Kok, ga bau sapi ya …?” tanya Muna memastikan.
“Oh … iya aku belinya dua Miss. Nih, coba yang ini.” Erwin tidak hanya mengambilkan untuk Muna cium-cium aroma daging sapi pada sempol itu. Melainkan meletakkannya tepat di bibir Muna. Dekat mulut dong. Ia pun segera menerkam sempol daging sapi tersebut tanpa ragu.
“Uuummmcch. Enak Pak Erwin.” Muna dengan mata terpejam menikmati sensasi rasa daging sempol yang sudah di ujung bibirnya tersebut.
“Suka …?”
“Banget … sesuai ekspektasi.” Jawab Muna mengambil alih lidi yang tadi di tangan Erwin.
Ami masih menggendong Annya di sekitar situ, sehingga Muna dan Erwin memang tidak berduaan saja dalam ruang rawat inap tersebut. Tapi, hati Ami sesungguhnya ngilu melihat pemandangan yang baginya tak layak untuk di lihat. Secara Muna adalah ibu dua anak dan bersuami pula. Agak geli ia melihat Muna seakrab itu pada lelaki yang bukan mahrom majikannya tersebut. Bahkan yang ia lihat tadi, seolah lelaki itu menyuapi Muna. Jika Ami tak salah lihat. Itu tidak benar, dan tidak boleh di lakukan. Ami juga takut, bagaimana jika adegan itu di lihat oleh Kevin. Rumah tangga mereka tak pernah terdengar ada perang atau salah paham. Tapi, yang mereka lakukan tadi bisa saja menjadi pemicu pecahnya perang dunia dalam rumah tangga teradem ayem sejagad dunia perhaluan.
“Entar, minta alamatnya ya Pak. Kayaknya di cocol selagi panas di tempat orang jualnya akan lebih lezat.” Ujar Muna usai melahap habis satu lidi sempol tadi. Dan kemudian mereka pun mulai sibuk dengan laptop masing masing. Mulai tenggelam dengan pekerjaan yang memang menajdi tujuan mereka saling bertemu bahkan dalam ruang rawat inap baby Annaya.
Sementara Kevin dari Bandung sudah seperti di kejar setan. Ia tak memiliki waktu lama untuk segera menyelesaikan semua pekerjaan di sana. Hanya raganya di Bandung, tapi tidak dengan hatinya. Seluruh jiwanya ada di Jakarta. Resah memikirkan keadaan Annaya, yang masih di rawat. Juga ingin segera membantu Muna membereskan pekerjaana yang pasti menyita perhatian Muna. Kevin kali ini tidak akan mau mengalah dengan tumpukan pekerjaan Muna. Ia pun perlu refresh. Untuk melepas kepenatan. Kurang lebih lima hari, tanpa bercinta baginya sangat sengsara. Maka bercumbu dengan istrinya adalah obat penawar stress termujarab baginya.
“Kerjaannya sampe di sini juga, Mae …?”
Bersambung ....
__ADS_1