
"You were my strength when I was weak, You were my voice when I couldn't speak. You were my eyes when I couldn't see, You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn't reach, You gave me faith, 'cause you believed I'm everything I am because you loved me"
Penggalan lirik lagu di populerkan oleh sang diva Celine Dion 'Becouse You Love Me' yang sempat Muna persembahkan untuk pasangan yang baru saja mengkonfirmasikan pernikahannya di Singapura kepada kolega bisnis mereka. Tak sampai pada akhir. Beruntung para backing vocal sudah siap untuk melanjutkan lantunan syair lagu tersebut. Karena mulut Muna sudah terbungkam oleh Kevin. Sama seperti tubuhnya yang terkunci dalam rangkuman posesif sang suami.
Muna mencubit perut ex cassanova , yang tidak lain adalah ayah dari dua anaknya sekarang, agar segera sadar jika mereka menjadi sorotan. Ah... Kevin dan Muna, yang menikah siapa yang mesum siapa. Yang pasti mereka akan tanpa ragu saling beradu kemesraan.
"Ini tempat umum, abang." Bisiknya pelan di telinga sang suami.
Kevin tersadar, dan bukannya malu. Ia bahkan merebut mikropon dari Muna untuk melanjutkan sedikit syair yang belum selesai. Dengan masih mengeratkan pelukannnya pada sang istri tercinta.
Riuh tepuk tangan para tetamu, seolah menyaksikan feat diva konser dadakan. Suara mereka memang tak seindah penyanyi aslinya, tapi ketukan birama pun tak memalukan. Cukup memukau penonton.
Acara pesta berakhir di pukul 11 waktu setempat. Semua telah beranjak pulang. Tak terkecuali Gita dan Gilang, juga Kevin dan Muna. Mereka beda mobil namun masih satu arah, yaitu ke apartemen Kevin.
Gita dan Gilang lebih dahulu tiba. Segera membersihkan diri, dan akan berganti pakaian dengan pakaian tidur. Tetapi, baru saja keduanya akan masuk kamar. Kevin dan Muna sudah masuk ke dalam apartement, sebab tentu saling tau akses masuk ruangan itu.
"Lho... Pengantin baru macam apa kalian berdua ini? Masa... ga bisa sewa kamar hotel? Kemarin setelah akad di Swis kerja ya, bukan bulan madu. Kali ini setelah resepsi pun, kalian ke sini kerja, lagi lagi bukan berbulan madu. Masa iya... saat selasai berdinas kalian masih tidur di sini?" Hardik Kevin pada dua manusia yang memang tak pernah punya planing, impian dan cita cita mau berbulan madu kemana. Murni hanya bekerja.
"Ya... kami kerja juga sambil bulan madu ini." Jawab Gita santai.
"Pergi... Sana. Malam ini sampai besok kalian tidur di hotel saja. Sana...!!" Usir Kevin dalam keadaan sadar.
"Haduuh... kak. Malas keluar udah pake piyama ini." Tolak Gita mager.
"Berani bantah...? Ga punya uang?"
"Ada kak."
"Sana... sana. Gita, Gilang... uang ga di bawa mati. Sana nikmati kebersamaan kalian selagi bisa di nikmati berdua. Nanti kalo sudah punya buntut, terlalu banyak birokrasi yang harus di lewati." Kevin melunak tapi tetap memaksa.
Gilang sih hapal dengan Kevin. Dari pada membantah seperti Gita. Dia sih, lebih memilih segera menyiapkan pakaian dan keperluan lainnya saja, agar segera pergi dari apartement Kevin.
"Neng... ganti baju." Perintahnya lembut pada Gita.
Dengan menghela nafas dalam Gita patuh, segera ke kamar dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih layak untuk mereka masuk sebuah hotel. Mana tengah malam lagi. "Dasar kakak ga ada ahklak." Umpat Gita kesal, sudah lelah harus pindah lagi. Males banget.
"Pak bos kami keluar dulu ya." Pamit Gilang pada Kevin, tak peduli bagaimana suasana hati kakak iparnya sekarang.
"Pamit kak." Ujar Gita agak malas.
__ADS_1
"Iya... hati hati di jalan. Ini nanti di buka pas di mobil." Sahut Muna lembut pada Gita, menyodorkan sebuah amplop kecil ke tangan Gita. Sepertinya bukan uang isinya.
"Sumpah aku kesel banget sama kak Kevin. Rasanya mau nangis a'..." Hidung Gita sudah berkedut kedut menahan rasa kesalnya.
"Nangis aja, nih ada bahu a'a untuk bersandar." Jawab Gilang sabar.
"Besok besok kalo kita dinas di sini jangan lagi pake fasilitas apartnya. Pas tiba tiba orangnya datang, kita di usir kayak gini. Kaya pengemis rasanya a'..." Isak Gita di dada Gilang.
"Pak bos ga maksud ngusir kita kok. Dia tidak mau di ganggu privacinya dengan istrinya. Moment bisa berduaan dengan mama Ay kan juga langka bagi mereka. Jadi wajarlah, mereka ingin di sana berdua." Gilang menenangkan, meredakan tangis istrinya.
"Iya tapi kan bisa di sampaikan baik baik. Ga di usir kayak gini juga. Tadi di pesta ga ada sedikitpun tanda tanda mau ngusir. So baik lagi pake acara buat kejutan, tetiba datang." Gita sungguh tak suka Kevin memperlakukannya demikian.
"Udah ga papa. Jangan di ambil hati neng."
"A'a ga tersinggung?'
"Kenapa?"
"Karena di usir."
"Ngapain? Itu hak dia."
"Hati a'a dari batu ya?"
"Kita tu di usir a'aaa...."
"Ah... cuma di suruh pergi ke tempat yang lebih indah saja."
Gita mendengus, seolah kesalnya tak ada yang membela.
"Udah, kita cuus cari hotel saja. Kemana kira-kira?" tanya Gilang mengerakkan tuas kopleng untuk segera keluar dari basemant.
"Ga tau." Rengut Gita masih dongkol.
"Huum... gitu aja ngambek. A'a yang pilih nih? Tapi... a'a beneran ga punya rekomended tentang hotel di sini neng." Gilang memutar otak, ingin memasang GPS pun tak tau kemana tujuan mereka malam itu.
"Eh... yang di kasih ibu bos tadi apa neng?" Gilang sempat melihat dan mendengar yang di katakan Muna pada Gita tadi.
"Ga tau... nih. Buka." Gita menyerahkan amplop kecil tadi pada Gilang tanpa mau menoleh untuk sekedar melihatnya.
Gilang menepikan sebentar mobil yang ia kendarai. Membukanya amplop tadi, lalu menekan alamat yang tertera dalam kartu akses sebuah hotel.
__ADS_1
Gilang paham, Kevin sudah menyiapkan sesuatu untuk mereka lagi. Maka dengan senyum dan semangat ia pun segera meluncur.
"Apa isinya a'...?" Gita penasaran.
"Ucapan selamat menikmati malam indah bersama pasangan." Bohong Gilang, ingin mensukseskan prank buatan Kevin.
The Ritz-Carlyon, Millenia Singapore, begitu tulisan yang tertera di depan hotel yang kini di singgahi oleh Gilang.
"A... ini hotel mahal." Desis Gita yang tau kalau ini hotel terpopuler di negara itu.
"Hah... iyakah? terus gimana? ga jadi neng?" Gilang so' polos.
"A'a dapat alamat ini dari mana?"
"Google." Jawabnya singkat masih belum ada tanda tanda akan turun.
"Ya sudah. Ga papa lah sekali kali di usir dari apart, pindah ke hotel mewah. Ayo a'. Neng dah ngantuk." Simpul Gita yang tak sadar di tipu lagi.
Gilang melenggang masuk sembari menyampir tangannya di pinggang Gita. Tanpa singgah di meja receptionis, mereka langsung masuk ke lift. Menuju kamar yang sudah di tangan Gilang akses masuknya.
"A'a... ga pernah tidur di hotel?" tanya Gita pelan.
"Gimana?"
"Mestinya kita daftar dulu a'. Biar dapat kamar."
"Oh... salah ya neng." Gilang masih belum mau jujur.
"Gimana sih, katanya pernah jadi sekretaris. Masa pesan kamar aja ga ngerti. Amnesia karena sudah jadi WaCEO?" ledek Gita yang hatinya mulai baik baik saja.
"Silahkan masuk bidadariku."
Bersambung...
Maaf ya...
Tangan nyak usil, kalo ga nyerempet ya gitu agak mepet. Tapi di usahakan ga nabrak deh.βοΈβοΈ
Met menunaikan ibadah puasa H 2
Makasih
__ADS_1
πΉπΉββππππ