CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 117 : SENSI


__ADS_3

Obrolan absurd antara Kevin dan Muna hanya di simak Gita dengan senyum di kulum saja. Bukankah ia sudah hafal jika kakak tertuanya, beda ibu itu memang lumayan mesum, eh. Sangat mesum. Dan sangat suka menggoda istri mudanya tersebut.


"Udah deh bang. Intinya, Gilang dan Gita boleh kan bertahan di sini dulu. Sampai kandungannya aman untuk menempuh jarak yang lumayan jauh untuk pulang ke Bandung." Tegas Muna mengakhiri segala kemungkinan arah obrolan yang mungkin tidak penting itu.


"Oh... Iya. Silahkan. Jaga calon keponakan kakak ya Git. Jangan capek, jangan lelah, jangan banyak pikiran, jangan kumpul dulu." Saran Kevin memang baik, bahkan sangat mendetail. Membuat Muna dan Gita saling berpandangan dan mengerlingkan mata mereka.


Bukankah Kevin adalah lulusan Magister Managenen di bidang ekonomi. Tapi kata-katanya sekarang bahkan lebih mengarah bagai seorang dokter obgyin. Mungkin karena pengaruh sudah menjadi ayah dari dua anak, yang membuatnya sudah paham betul dengan konsdisi hamil muda.


"Iya kak, terima kasih sarannya." Jawab Gita yang tak mau membantah.


"Oke... Kakak tinggal dulu ya. Kasihan Naya sudah lama di tinggal mamanya." ujar Kevin menarik tangan Muna untuk keluar kamar tersebut.


"Pamit ta Git. Jaga diri dan calon babynya." Ujar Muna berpamitan. Walau sesungguhnya masih ingin berlama-lama di dalam kamar Gita. Tapi Kevin ada benarnya juga. Seharian ini Naya tidak sempat ia pegang. Selalu sudah kenyang dan tertidur setelah minum ASInya melalui dot, pemberian Laras dan Gita haru ini.


"Bunda Laras... Naya sudah tertidur lagi?" tanya Muna menengok kamar Laras di belakang.


"Iya mam. Nyenyak sekali tidurnya." Jawab Laras


"Apa kenyang?"


"Kenyang kok. Stok ASI mamam kan banyak." Lanjut Laras.


"Tapi hampir seharian dia ga mau sama aku lho, bun." Kesal Muna. Sebab terakhir di menggendong Annaya hanya saat, Aydan tadi juga memintanya di temani membeli mainan. Setelah, Aydan di amankan oleh Kevin, Annaya hanya mau tenang saat di gendong oleh Laras dan tertidur bermodal susu dari botol dot.


"Pindahin ke kamar ya." Pinta Muna pada Laras lagi.


"Sebaiknya jangan mam. Nanti kali dia bangun saja, saya antar ke kamar mamam." Ujar Laras lembut.


Dengan berat hati, akhirnya Muna masuk ke kamarnya dan Kevin tanpa Annaya.


Lagi-lagi Muna tak menemukan Aydan di kamar mereka, entah di mana.


"Bang... Aydan mana?" ketuk Muna pada Kevin yang sepertinya baru mandi di toilet di dalam kamar itu.

__ADS_1


"Hah...?" Buseeet, Kevin memang sengklek atau sengaja promosi. Rupanya persis bayi yang baru lahir, polos. Dengan busa shampi yang lumayan banyak di kepalanya, memenuhi hampir seluruh permukaan kulit kepalanya. Ga usah tanya otongnya, tentu saja juga terpampang jelas. Sebab tak tertutup apapun.


"Abang apaan sih, mandi kaya anak kecil deh. Ay mana?" tanya Muna lagi pada suami bu gilnya itu.


"Sama babe." Jawab Kevin santai. Lalu menarik tangan Muna agar ikut ke dalam kamar mandi itu.


"Ngapain?" tanya Muna.


"Gosokin punggung abang, Mae." Perintahnya.


"Ngosokin abang aja ya."


"Kenapa? Mau gantian, tinggal buka baju aja."


"Ga mau, Muna udah mandi sore tadi." Jawab Muna sambil memulai pekerjaan mulia untuk suaminya.


"Naya mana?" tanya Kevin menggosok rambut basahnya, setelah selesai mandi, dan Muna hanya duduk bersandar di tepian kepala ranjangnya. Memeras ASInya untuk stok selanjutnya.


"Waah... Kita bisa pacaran lagi dong Mae."


"Pacaran... Abang ga resah jauh dari anak anak?"


"Jauh gimana? Kita masih serumah ini." Jawab Kevin santai dan ikut naik ke atas ranjang yang Muna tempati.


"Iya sih, tapi rasanya ada yang kurang kalo mereka ga deket, bang."


"Sayang, anak anak itu bukan boneka yang bisa selalu kamu jejer di dekat kamu. Mereka juga butuh suasana nyaman, yang mungkin tidak selalu dekat kita. Berilah kebebasan mereka mau dekat siapa. Bersyukur jika kini mereka sudah tak tergantung sama kita. Bukannya Mae udah mau fokus kerja, ngantor. Jadi, ga salah juga mereka menemukan figur lain, sebagai pengganti yang bisa di andalkan saat kamu ga ada." panjang Lebar Kevin memberi penjelasan pada istrinya, sambil meletakkan kepalanya yg masih basah itu di atas paha Muna.


"Iya sih, hanya ga biasa aja bang. Belum besar saja mereka sudah bisa jauh gitu ya. Apa lagi Naya, belum lepas nen juga udah sok jual mahal sama Muna." Rengut Muna agak kesal.


"Tenang ada abang yang selalu sakau jika jauh dari kamu, Mae."


"Gombal." kekeh Muna. Hah, dapat kata seperti itu saja lobang hidung Muna sudah kembang kempis di buat Kevin karena malu bercampur senang.

__ADS_1


"Yang kita ceritain ini bayi 5 bulan, bang. Bukan tentang pria dewasa yang wajar jauh dari ibunya." Lanjut Muna lagi.


"Udah deh ga usah di bahas terus. Ambil hikmahnya saja. Mungkin alam semesta sedang mendukung kita untuk saingan sama Asep dan Siska, cetak goal malam ini." Kekeh Kevin mulai menggerayangi sekitaran pinggul Muna dengan liarnya.


"Abang ga ada capeknya ya? Pagi tadi sudah kan, sampai kita hampir telat kondangan. Masa malan iya, lagi." Sungut Muna yang merasa lelah otak juga fisik.


Kevin beranjak duduk, lalu mengubah posisinya. Meletakkan benda yang sedari tadi Muna pegang. Lalu mengambil kepala istrinya, untuk di letakkan di bahunya. Membawa Muna kedalam pelukannya.


"Urusan itu, abang ga pernah capek Mae. Tapi, liat wajah letihmu, abang bisa di bawa nego kok. Yuk, tidur." Kecup Kevin di kening Muna.


Sisanya, Muna hanya melingkarkan tangannya di atas perut Kevin. Yang sungguh sudah menjadi suami yang super pengertian. Yang tak seegois dan seusil seperti saat mereka baru menikah.


"Mae..., gendutan?" Ujar Kevin meraba perut Muna.


"Ya iyalah, anak dua bang, mana jarang olah raga lagi. Perut Muna rada buncit." Jawab Muna langsung agak meradang.


"Ga usah nge gas gitu. Maaf, karena ngandung anak abang. Bodynya rusak ya? Kasih ke Laras lah anak anak, biar ada waktu olah raga, atau mau perawatan?" Pelan Kevin merespon ujaran Muna.


"Abang malu punya istri gendut?" laaah, di tawarin apa? Jawabnya apa? Muna nyolot banget deh.


"Siapa yang malu? Siapa yang gendut?" tanya Kevin bingung dengan istrinya yang tetiba kaya pasien darting.


"Tadi abang bilang perut Muna buncit."


"Cuma perut sayang, itu bukan gendut. Itu juga gegara abang kan." Muna buang muka.


"Abang salah ya?" tanya Kevin mencium tengkuk Muna.


"Ga usah cium - cium orang gendut." Marah Muna berlanjut.


"Eh... Sensi banget sih. Mau dapet ya, bikin gemes deh." goda Kevin pada Muna yang labil.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2