CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 218 : BIJI LATO- LATO


__ADS_3

Gita masih kacau, seperti setelah mendengar meletus balon hijau daaar. Tidak bisa ia menutupi rasa penasarannya akan keadaan Gilang yang tadi di antarnya dengan tangis menuju ruang operasi. Gita segera meminta penjelasan pada sang dokter.


“Maaf …” Jawab dokter yang satunya lagi maju mendekati Gita. Sedangkan yang lain sudah berjalan mengiringi blankar menuju ruang jenazah.


Yang tersisa hanya Gita.


Hanya dia yang tidak peduli dengan kelanjutan Sudrajat. Sebab baginya Gilang adalah segalanya. Bukan tidak peduli, hanya keadaan Gilang lebih penting baginya, yang di liputi rasa penasaran tingkat dewa.


“Gimana …?” ulangnya pada sang dokter yang masih berdiri di depannya.


“Maaf bu. Suami anda sudah terlanjur kami suntik bius.” Dengan senyum manis dokter itu menjawab kegundahan Gita.


“Maksudnya …? Ginjalnya ga sempat di ambil kan dokter?” desak Gita memegang tangan dokter itu, meminta jawaban yang jelas.


“Tidak lah, bu. Jangankan suami ibu. Kakek itu saja tak sempat di bedah. Allah sudah memberi jalan terbaik untuk semuanya.” Tepuk dokter itu pada bahu Gita.


Huh, berderai-derai lagi air mata Gita. Apa ada kata yang lebih dari syukur yang bisa Gita ucapkan pada maha besar Allah. Saat keikhlasan yang suaminya berikan, saat itulah Allah memberikan jalan kemurahan untuk mereka. Bukankah Allah memberikan ujian yang sesuai dengan kemampuannumatnya saja. Tidak lebih dan tak pernah kurang. Kadang hanya manusia saja yang selalu berburuk sangka pada rancangan yang Allah siapkan untuk umat-Nya. Eh, tapi Gita berdosa ga sih? Merasa bersyukur atas kematian kakek Sudrajat. Atau semua termasuk para readers yang kemarin ngaku udah naik rolllercoster, juga sudah kena sindrom dosa berjamaah. Karena memang puas atas kematian ini. Ampuun. Ini tuh cuma halu, ya.


“Alhamduliah. Boleh saya lihat keadaannya?” tanya Gita sopan.


“Silahkan, dan suami ibu bisa di pindahkan ke ruang rawat biasa saja. Sebab, masih ada beberapa operasi lain yang bisa kami majukan jadwalnya.” Ujar dokter dengan tegas.


Iya … iya. Itu rumah sakit swasta, mahal dan profersional. Yang ngantri operasi banyak ya. Lepas satu, sudah banyak yang ngantri untukdi eksekusi. Sehingga Gita tidak bisa berlama-lama syuting drama melankolis di ruang operasi tersebut.


Jenazah Sudrajat sudah selesai di mandikan, dan segera akan siap di kebumikan. Lumayan repot, sebab Dian meminta agar mertuanya di makamkan di Bandung saja, dekat dengan makam Edy Sudrajat suaminya. Dengan jalan darat, berharap sempat sebelum pukul 3 sore akan sempat di makamkan.


Berbeda dengan Gilang yang masih di tunggui oleh Gita di ruang rawat biasa. Gita masih sabar menunggu suaminya sadar dari efek obat bius yang mengalir di tubuhnya.


“Neng …” Kata itu keluar dari mulut Gilang saat melihat wajah sendu Gita memandang wajah suaminya.

__ADS_1


“A’a sudah sadar?” Gita menatap suaminya dengan wajah berbinar.


“Gimana kakek?” tanya Gilang segera tersadar.


“Stt … jangan banyak gerak dulu. Luka a’a masih sangat berbahaya.” Tunjuk Gita pada permukaan kulit Gilang yang di tutupi perban.


“Oh … lupa.” Jawab Gilang sedikit linglung.


“Satu jam lagi kita terbang ke Bandung ya a’.” Jawab Gita kembali sendu.


“Hah … kenapa?” tanya Gilang heran.


“Kakek sudah meninggal A’. Dan sejak tadi mereka sudah membawanya dengan jalan darat.” Jawab Gita menjelaskan.


“Lalu kita?” tanyanya lagi.


“Ga mungkinkan dalam satu ambulan harus ada dua orang yang di bawa dalam kondisi rebah. Jadi, Eneng tunggu a’a sadar saja. Kita ke Bandung dengan Helly mama Rona.” Jawab Gita santai. Lupa kalo mereka punya stok mainan yang bisa bawa mereka kemana suka. Ya kan.


“Sudah, semuanya sudah di atur Kak Kevin. Kalo a’a mau hadir dalam pemakaman kakek. Ya ayok kita ke Bandung. Tapi kalo tidak, ya kita di sini saja. Mungkin bisa ikut pemakaman secara virtual.” Ujar Gita dengan santainya.


“Oh … ya sudah kita ke Bandung sekarang.” Semangat Gilang berusaha untuk duduk.


“Pelan-pelan. Nanti lukanya berdarah. Itu masih jahit terbuka.” Ujar Gita menunjuk bagian tubuh yang sedikit tertempel perban.


“A’a ganti baju dulu.” Ujar Gilang mencoba berdiri.


“Sini Eneng bantu. Itu pasti sakit.” Ujar Gita mengulum senyumnya saat berada di belakang tubuh Gilang.


“Ini benar Neng. Ginjal A’a sisa satu?” Gilang merasa ada sesuatu yang aneh. Mengapa ia tidak merasa sakit. Hanya memang ada perbanluka yang tertempel di dekat perutnya.

__ADS_1


“Lah … tadi masuk ruang operasi ngapain? Operasi buang ginjal atau buang biji lato-lato?” tawa Gita sedikit pecah.


“Iih… eneng apaan sih. Ya ginjal lah.” Jawabnya menerima bantuan istrinya memasng pakaiannya.


“Ya udah. Makanya perbannya di sini. Bukan di sini.” Hus … tangan Gita nakal ya. Seenaknya saja menunjuk ke bagian retsleting celana suaminya.


“Tapi kok ga sakit ya. Kaya ga ada luka di sini.” Gilang sumpah merasa tidak apa-apa.


“Ya … kan efek obat biusnya juga bisa bikin rasa nyerinya ga berasa. Tunggu saja nanti malam, pasti udah mulai nyut-nyutan.” Jawab Gita sekenanya. Agar Gilang percaya jika kini ginjalnya sisa satu.


Gilang meraba bagian perban itu dengan pelan. Dan sungguh ia merasa tidak apa-apa.


“Kenapa kakek meninggal Neng?” tanya Gilang saat mereka sudah berada di heliped, di atas rumah sakit Hildimar Hospital.


“Karena perjuangannya di dunia sudah selesai.” Jawab Gita klasik.


Sepanjang perjalanan Gilang di landa rasa yang tidak biasa. Ia merasa tubuhnya baik-baik saja. Membuatnya merasa tak menyesal untuk memutuskan mendonorkan ginjalnya. Yang ternyata tidak seburuk yang dia kira. Tadinya dia pikir, dia akan lemah, dia tidak akan bisa langsung berjalan. Mungkin dia akan koma. Hah. Macam-macamlah pikiran yang berkecambuk di kepala Gilang. Kadang ia menunduk, memastikan jika kini tubuhnya memang sudah terkena pisau bedah. Tapi, sungguh. Dia tidak merasa sakit di bagian itu.


Rumah Dian menjadi tempat terakhir Sudrajat. Gilang sempat mebacakan bacaan pendek sebagai pengantar terakhir kakeknya. Sebelum mereka benar mengantar jasad itu ketempat peristirahatan terakhirnya.


Gibran dan Lisa pun sempat di beri kabar, sehingga mereka pun hadir dalam acara pemakaman kakek Sudrajat. Keluarga Gita yang mendominasi pada acara tersebut. Sebab mereka memang dari awal mengiringi kepulangan kakek Sudrajat.


“Lang … ikutlah menggali.” Kevin memberikan sekop pada Gilang.


Namun Gilang menatap bingung. Berganti-ganti ia memandang ke arah Kevin. Gita dan Dian, ibunya. Kenapa kakak iparnya ini memerintahnya untuk melakukan pekerjaan yang berat itu. Bukankah ia adalah pasien pasca operasi. Lalu mengapa di suruh bekerja seberat itu. Walau hanya menggali sebagai formalitas, sebab ada tukang gali yang sudah di bayar untuk menimbun jasad itu. Tetapi, mengapa Kevin seolah menyepelakan penderitaannya.


“Ikhlas Lang. Berikan penghormatan terakhirmu pada sang kakek.” Kini giliran Diendra ayah Gita yang menepuk bahunya agar Gilang ikut ambil bagian dalam pemakanan itu.


“Ah … I... Ii .. iya.” Jawabnya terbata dan mengambil sekop untuk ikut menimbun tanah merah basah tersebut.

__ADS_1


Tak lupa Kevin juga menyerahkan satu sekop lagi untuk Gibran. Agar melakukan hal yang sama dengan Gilang. Bukankah Gibran justru lebih banyak memakan jasa sang kakek.


Bersambung …


__ADS_2