CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 194 : DERITA SISKA


__ADS_3

Haru, seru dan super heboh yang terjadi di rumah keluarga hildimar saat ini. Aydan, juga Annya sengaja tidak di antar ke PAUD hari itu, demi menyambut kedatangan baby Gwen. Sepupu mereka. Jangan tanya rindunya Aydan memeluk sang aunty yang telah lama tak ia jumpai. Pun Gilang, om kesayangannya. Ya … Aydan yang paling puas bersama Gilang dan Gita, bahkan sejak mereka berdua belum halal.


Sedangkan kini, Gita sudah datang dengan seorang bayi cantik yang besarnya tidak jauh berbeda dari adiknya Adera.


“Gita … beneran. Gwen lebih berat dari Ade lho. Makan apasih, nak mamam …?” Gemes Muna pada keponakannya tersebut.


“Ya makanan olahan kak.”


“Cie … emak-emak udah mahir nih becanda sama dapur.” Ledek Muna pada Gita. Ya … Muna masih inget betul. Bagaimana Kevin selalu ngedumel akan kemalasan Gita turun kedapur. Bahkan untuk menanak nasi saja kadang harus di perintah terlebih dahulu. Tetapi, demikianlah manusia yang senantiasa berprose menuju kebaikan.


Kini, jangankan kue. Jenis campuran makanan sarat gizi sudah sepenuhnya Gita kuasai, tanpa merusak tatanan kecantikan wajahnya juga merusak kulit lembutnya. Jangan ragukan akan kepengertian Gilang. Walau kini ia sibuk di perusahaan yang hampir 100% si serahkan Kevin untuknya, juga melanjutkan kuliah S2nya. Gilang selalu pandai membagi waktu. Untuk bergantian denga Gita dalam hal menjaga Gwen. Agar Gita selalu punya waktu untuk berme time. Untuknya sekedar hang out, di salon, spa dan kemana saja, untuk mejaga kewarasannya sebagai ibu rumah tangga tentunya.


“Punya anak seru banget ya kak …?” senyum Muna terkembang mendengar ujaran Gita.


“Banget … apalagi tiga kayak aku, Git.” Jawab Muna yang tidak sadar jika Gita mungkin masih terluka akan hilangnya Genta.


“Ya … kan mestinya juga udah punya dua kan kemarin.”Jawab Gita cepat.


“Oh … maaf.” Jawab Muna menggenggam tangan Gita.


“Ga papa kak. Aku sudah sangat bersyukur punya Gwen. Ternyata punya satu saja cukup repot bagi akau yang masih pemula ini.” Senyum Gita menghapus rasa bersalah Muna.


“A-Fatihah buat Genta ya.” Peluk Muna pada adik suaminya tersebut.


“Btw … Siska apa kabar ya …?” telisik Muna yang tiba-tiba penasaran dengan kabar sahabatnya yang sedang menikmati masa kehamilannya tersebut.


“Pas aku mau lahiran, Dia udah hamil 2 bulan tuh. MUngin sekarang sduah di trimester akhir.” Jawab Gita mengingat-ingat. Dia memang tinggal se- Kota. Tapi bukan berarti sering berjumpa dan saling bertukar cerita dengan Siska. Sebab sudah temggelam dengan aktivitas barunya mengurus anak.


Sambungan VC pun segera Muna lakukan untuk sekedar kepo ingin tau kabar terbaru Siska.


“Haaaiii bumil, apa kabar …?” sapa Muna saat panggilan itu sudah tersambung.

__ADS_1


“Heei … kalian di mana busuy.” Jawab Siska cengegesan melihat Gita dan Muna sama-sama menggendong bayi yang tertukar itu pada pelukan masing-masing.


“Gita lagi di Jakarta nih, bawa baby Gwen. Niih, cantik dan gemoy banget deh Sis.” Muna menunjukkan Gwen yang sedang dalam pangkuannya itu pada Siska yang terlihat sedang leyeh-leyeh saja di atas sebuah sofa pada tengah rumahnya.


“Iiih seru banget sih pada ngumpul.” Jawabnya dengan mulut yang cemberut.


“Sini … main ke Jakarta donk.” Ajak Muna.


“Eh, hamil begini amat yah …?” rutu Siska masih dengan tampang suram melihat kebersamaan Gita dan Muna di Jakarta dengan wajah bahagia.


“Emang kenapa sih …?” tanya Gita.


“Muntah ku kok, ga ilang ilang. Padahak 3 minggu lagi mau lahiran lho.” Curhat Siska terlihat menderita.


“ Waaah … maaf ya. Versi hamil kita beda-beda Sis. Selamat menikmati aja.” Kekeh Muna terlihat senang dengan curhatan Siska.


“Eh … beneran. Bawaanya pusing melulu. Masa ku ga bisa ngapa-ngapain. Masak aja terpaksa lho. Kadang Asep aja yang sibuk siapin semuanya.” Lanjutnya.


“Ga tau nih. Syukur hari ini ibu bakalan datang nungguin sampe aku lahiran. Kasian Asep kalo repot ngurusin kami.” Lanjutnya lagi.


“Santailah … nikmati saja masa-masa jadi ratu. Nanti juga bakalan kembali jadi upik abu.” Kekeh Gita meledek Siska.


“Sebegitunya lagi jadi emak-emak …?” tanya Siska pada dua ibu berpengalaman di depannya.


“Pokoknya amazing deh.” Timpal Gita dengan raut wajah tak kalah bersemangat dari Muna, yang bahagia melihat penderitaan Siska.


“Burung Asep sedemikian ganas juga ya … bikin kamu mabuk sampai hampir 9 bulan. Emang ada yang kayak gitu …?” Muna kembali membahas kemabukan Siska.


“Terus … kalian kira aku sedang acting belaka? Ku tersiksa inih.” Keluh Siska tak terima dengan respon dari Muna.


“Iya ya … ini nyata. Tapi, tenang. Beda kepala, juga beda respon kok. Maklum lah pemula. Perlu di kasih cobaan yang beda dari yang lain.” Kekeh Muna menenangkan.

__ADS_1


“Ya terima nasib deh.” Simpul Siska sendiri. Obrolan berakhir saat segala rasa rindu mereka terjawab lewat udara.


“Gwen rewel ga sih, Git ?” tanya Muna yang tak sadar jika bayi yang dalam pangkuannya itu tertidur dengan nyeyaknya.


“Ya itu liat sendiri. Walau kiri kananya serame apa. Kalo dianya mau tidur, dia ya tidur aja, tuh liat.” Tunujk Gita pada Gwen yang sungguh sudah terlelap, walau di sela canda tawa Muna dan Siska via VC tadi.


“Iiih bikin gemes aja.” Cium Muna pada Gwen yang menurutnya sehat, juga cantik.


“Git … Gilang sibuk ya. Ikut liburan yuuks.” Ajak Muna pada adik suaminya tersebut.


“Kemana …?”


“Turki.”


“Hah … Luar Negeri, bawa bayi juga. Bukannya liburan itu, rempong iya.” Jawab Gita dengan cepat.


“Si abang ada undangan dari relasinya ke Turki. Abang sih maunya berdua saja, tapi… kok akunya resah ya kalo pisah dari mereka. Serasa hambar dunia, tanpa mendengar celotehan mereka sehari saja.” Ujar Muna yang sudah meletakan Gwen di atas kasur kecil di kamar Annaya.


“Apalagi kalo ada urusan bisnis. Sebaiknya kakak pergi berdua saja. Anggap saja bulan madu. Kali Adera bakalan punya adik lagi.” Ledek Gita asal.


“Kok otakmu dan abang sama sih Git, maunya aku nambah anak lagi.” Jawab Muna agak sewot tapi masih dalam raut bercanda.


“Ya … kak Kevin kan udah tua. Lagian, kak Muna juga lahirannya normal. Ga kaya aku yang harus nunguu Gwen 3 tahun dulu untuk berani hamil lagi, pasca operasi kemarin.” Jawab Gita.


“Ya ampun … ku mau nafas dulu boleh kali ya. Setidaknya Ade bisa jalan dulu gitu, baru aku hamil.” Jawab Muna setengah curhat.


“Ya pilihan di tangan kak Muna sih. Cuma … pasti lebih seru aja, kalo kecilnanya bareng-bareng. Rumah bakalan rame kaya di PAUD.” Kekeh Gita merusak keimanan Muna untuk menambah anak.


“Ah … tau ah.” Muna tidak berminat melanjutkan obrolan seputar rencana kehamilan berikutnya.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2