
Muna tadi hanya pamit ke toilet sebentar, serta berjanji akan mengambilkan minuman untuk suaminya. Dan itu tentu tidak memakan waktu yang lama, yaitu hanya kurang lebih 15 menit. Tetapi, lihat saja yang sudah terjadi. Kini tubuh suaminya bahkan hanya terlihat separuh, karena tempelan dari seorang wanita yang mendekatinya selepas Muna beranjak tadi.
Di tangan Muna sekarang memang sudah ada segelas minuman, dan kini ia sedang berjalan menuju posisinya berdiri di sebelah suaminya. Tetapi, kita tidak sedang mengisahkan drama klasik di mana seorang istri akan menyiram segelas air pada wanita yang kemungkinan bisa saja menjadi bibit pelakor dalam rumah tangganya. Kita sedang mengisahkan pasangan couple teromantis dan setia sejagad raya. Maka, cara penyelesaiannya tentu tidak seprontal cerita sinetron pada umumnya.
Dengan elegan dan percaya diri, Muna tetap melangkah akan mendekati Kevin yang mulai terlihat bergeser dan berusaha membuat jarak dengan Triyas. Dan adegan itu yang membuat Kevin selamat. Usahanya untuk menjauh itu terlihat bahkan saat tidak ada Muna dan ia tak tau jika istrinya itu memantaunya. Muna tau, suaminya sudah lelah bermain nakal di masa mudanya. Ia percaya jika di masa sekarang dan akan datang, hanya dia dan anak-anak mereka saja yang menjadi prioritas Kevin. Maka Muna merasa perlu segera menyelamatkan suaminya dari rubah betina yang benar nekat, tetap ikut berpindah demi menempelkan tubuhnya pada seorang Kevin.
Langkahnya ia percepat, agar segera berada disebelah Kevin. Namun hal itu justru membuatnya sedikit ceroboh.
Brugh …
“Ah … maaf.” Satu tangan Muna menutup mulutnya. Sebab secara tiba-tiba dari arah samping ada seorang pria yang berjalan mepet bahkan menyenggolnya dari sebelah kanan. Alhasil, sisi kiri lengan jas pria itu pun sedikit keciprat air yang Muna bawakan tadi.
“It.s oke. Nona cantik. Boleh kita berkenalan?” apakah pria itu sengaja atau memang ini sebuah kecelakaan sungguhan. Namun yang pasti, pria itu tak ingin melewatkan kesempatan untuk ingin tau siapa wanita yang baru saja membuat lengan jasnya basah.
“Maaf … ini tissue untuk mengeringkan lengan jas anda yang basah karena saya.” Muna sempat menjauh untuk mengambil kotak tissue untuk pria yang menyenggolnya tadi. Dan meletakkan gelas yang airnya sisa separuh.
“Oh … ini hanya ketumpahan seperempat isi air minummu nona cantik. Bukan terkena derasnya hujan, Jadi tidak masalah.” Jawabnya menatap lekat juga genit ke wajah Muna yang tau jika ini adalah golongan pria hidung belang.
“Sekali lagi saya minta maaf. Karena tidak mengira jika anda tiba-tiba datang dari arah situ.” Ujar Muna kemudian.
“Berhentilah meminta maaf. Tetapi, jika memang merasa bersalah silahkan Nona usapkan lengan jas saya dengan tissue itu.” Lanjutnya dengan senyum yang ia sunggingkan seolah melecehkan Muna.
__ADS_1
“Excuse me …” Panggil Muna pada para petugas berpakaian putih dengan rompi hitam yang merupakan ciri khas pakaian pelayan yang wara wiri sejak tadi di area mereka.
“Yess … can I help you.” Ucap seorang pramusaji wanita mendekati Muna.
“Please, help dry the sleeves of this man’s suit.”
(Tolong, bantu keringkan lengan jas pria ini)
Pramusaji itu mengangguk lalu berdiri lebih dekat pada pria yang Muna arahkan padanya. Dan akan memulai pekerjaannya.
“Excuse me sir, could you please take off your jacket? I will help dry it.”
(Permisi tuan, bisakah anda melepas jas anda? Saya akan bantu mengeringkannya.” Ucap pramusaji itu dengan sopan dan mengulurkan dua tangan di hadapan pria tersebut.
“Tuan … saya sungguh ingin meminta maaf dan akan bertanggung jawab atas insiden tadi.” Ujar Muna kembali menggunakan bahasa Indonesia. Sebab sejak tadi ia memang menggunakan bahasa itu saat berbicara dengan Muna.
“Go on. I don’t need your help.” Usir pria tadi pada pramusaji yang bingung dengan perintah dua arah dari kedua klien di depannya.
“Sayang … ada apa?” Kevin gelisah dengan Muna yang ia rasa agak lama meninggalkannya. Belum lagi Triyas yang selalu geser dan menempelkan tubuhnya dengan Kevin, tentu membuatnya makin risih. Celingukan, itu lah yang ia lakukan, sampai manik matanya menemukan Muna yang juga sedang terlihat dekat dengan seorang pria juga seorang pramusaji.
“Oh … maaf terlalu lama meninggalkan mu, Pap. Tadi aku tak sengaja tersenggol dengan pria ini, dan air yang akan ku berikan padamu mengenai lengan jasnya.” Muna memasang raut cemberut pura-pura kesal dengan kejadian tadi, sambil menyelip tangan kirinya pada pinggang suaminya.
__ADS_1
“Pak Brata … oh maafkan istri saya jika membuat pakaian anda basah.” Lanjut Kevin setalah memastikan jika itu adalah bos dari Triyas. Yaitu calon relasi bisnisnya.
“Jadi ini istri Pak Kevin …?” tanyanya takjub. Entah sungguhan atau hanya acting belaka. Bisa saja dia dan Triyas memang sudah saling bekerja sama ingin merusak keharmonisan rumah tangga Kevin dan Muna.
Kevin mengecup pipi Muna sebentar sebelum menjawab pertanyaan Brata.
“Benar sekali pak Brata, dia bukan saja istri saya. Tapi dia ratu ku.” Tangan Kevin sudah meremas jari yang melingkar di pinggangnya.
“Sayang, kenalkan. Ini pak Brata, yang mungkin akan menjalin kerja sama dengan perusahaan kita di Cisarua.” Kevin mencoba mengenalkan Brata pada Muna. Brata mengulurkan tangan hendak bersalaman. Tetapi Muna segera menangkup telapak tangannya ke depan dada, pertanda tidak bersedia berjabat tangan dengan pria bernama Brata tadi.
“Pak bos … anda di sini.” Oh … si ulat keket Triyas sudah berpindah menghampiri ketiga orang yang sedang melakukan obrolan basa –basi.
“Oh … ini Mam. Triyas. Dia sekretaris pak Brata yang sedang dia utus untuk membuat kontrak kerja di perusahaan kita.” Dari kode itu Muna sudah mengerti. Jika ini wanita yang Kevin maksudkan. Yang membuat mereka berdua bisa berada di Negara Turki ini.
“Salam kenal.” Ujar Muna memberi senyum termanisnya pada wanita yang sejak tadi ia lihat menempeli suaminya.
“Ya … perusahaan kami akan menjalin kerjasama dengan perusahaan suami anda Nyonya Kevin. Kami pastikan dua perusahaan itu nanti akan berkolaborasi dan berkembang lebih maju, dengan jalian kerja sama yang solid.” Papar Triyas percaya diri.
“Hmm … perusahan suami saya yang di Cisarua bukan tidak maju. Tetapi usianya bahkan belum setahun. Dan itu bukan karena tidak menemukan investor atau rekan bisnis yang ngumpuni. Hanya, suami saya memang selektif dengan calon relasinya. Dan saya pastikan perusahaan kalian akan selamanya hanya berstatus calon relasi saja. Saya sebagai dewan komisaris di perusahaan itu, tidak pernah mengijinkan hubungan kerja sama itu berlanjut ataupun terjadi.” Ucap Muna dengan tegas namun tetap dengan senyum manis dan teramat manis.
“Apa ini artinya secara tegas anda memutuskan untuk tidak bekerja sama dengan perusahan kami ?” tanya Brata agak heran.
__ADS_1
“Ya … sebab sesuatu yang di awali dengan kecurangan, biasanya akan membawa nasib sial pada akhirnya, dan itu fakta.” Kevin, Triyas juga Brata memandang manik mata Muna dengan tatapan heran.
Bersambung …