
Siska tertawa kecut mendengar pengetahuan Aydan yang dangkal. Ah... bocah yang bahkan belum genap berusia 3 tahun itu tentu saja belum banyak tau tentang pantai. Orang tuanya boleh kaya, tapi dengan segudang kesibukan juga masih punya bayi berusia 5 bulan itu, tentu saja Aydan belum punya pengalaman liburan ke alam terbuka seperti pantai.
"Pantai itu Ay... kolam renang yang sangat luas dan dalam." Jelas Siska dengan sabar.
"Dalam... no. No. Big no, tete Ica. Ay belum bica belenang." Jawabnya polos, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seperti orang yang sudah dewasa.
"Ga usah berenang, main pasir saja di pinggirannya. Bisa buat istana pasir, mencari kerang, pokoknya bakalan seru dari pada di kolam renang." Papar Siska menjelaskan.
"Kalo cuma di pinggil, nanti Ay ga bacah te. Kan main ail." Bantahnya, menatap Siska dengan tatapan serius.
"Basah kok. Nanti akan ada ombak yang menghampiri Ay. Itu nanti yang membuat Ay basah." Terang Siska lagi.
"Ombak... capa? Dia cilam cilam Ay, campe bacah, gitu?" polosnya pertanyaan bocah itu, membuat Siska tersenyum geli.
"Bukan orang Ay, tapi airnya itu bisa datangin Ay, banyak banyak." Ah, sulit juga Siska menjelaskan pengertian ombak dan pantai, pada bocah sekecil ini, sehingga ia memilih menyerah dan berkata sampai jumpa besok saja di tempat yang ia maksudkan.
"Udah deh Ay. Pokoknya besok Ay lihat sendiri deh. Bagaimana indahnya pantai, asyiknya bermain-main di sana dan betapa menyenangkannya bermain-main di sana besok." Jelas Siska yang sudah menyerah untuk terus meladeni pertanyaan Aydan.
"Oke deh tete Icha. Ay jadi nggak cabal mau cepet-cepat main di pantai " Simpul Aydan dengan suara cadelnya.
"Tete Ica besok ikut?" lanjutnya lagi pada Siska.
__ADS_1
"Ay... tidak boleh. Tete Ica sedang ga boleh keluar, udah nggak boleh main-main dulu di luar rumah." tiba-tiba Muna sudah datang menghampiri anak dan sahabatnya yang sedang terlibat dalam obrolan yang sepertinya seru.
"Hah? Kenapa Tete Icha nggak boleh pergi main-main ke pantai?" tanya Aydan seolah tidak terima, jika Siska tidak ikut bermain-main ke pantai.
"Teteh Ica kan, hari Sabtu besok udah mau nikah sayang, jadi Tete tuh harus banyak istirahat di rumah. Karena hari Sabtu nanti bakalan banyak teman-temannya yang datang, main ke sini. Jadi tete Ica harus mempersiapkan segala sesuatunya di rumah." Jelas Muna menjelaskan dengan pelan agar anaknya bisa mengerti.
"Yaaah ga celu dong, mam." Ucapnya dengan cemberut.
"Kan besok sama mamam, papap, de Naya, bunda Laras, engkong, nyai, om Gilang, aunty Gita, Om Antoni semua ikut kok. . Pokoknya kita besok bersenang-senang berlama-lama di pantai." Janji Muna pada anak sulungnya itu.
"Oke deh mam. Ay cuka kalo gitu." jawabnya puas.
"Sudah, mereka sudah di sini sejak hari Senin kok. Lengkap dengan ambu dan dua saudaranya." Jelas Siska pada Muna.
"Oh gitu. Malah aku donk yang belum kenalan sama kakak dan adiknya Asep." Komentar Muna yang memang belum punya kesempatan berjumpa dengan para sepupunya tersebut.
"Iya... uuh buseeet. Mereka Korean's semua lho Mun." Jawab Siska yang tidak dapat mengubah panggilannya pada Muna, sebab sejak awal kenal memang selalu memanggilnya begitu.
"Gen bapaknya kuat banget berarti ya Sis." Tanggap Muna.
"Terus, mereka nginap di mana?" tanya Muna lagi, merasa tak mungkin Asep sekeluarga juga di tampung di rumah calon mempelai wanita.
__ADS_1
"Dimana lagi lah, kalau bukan di resort milik suami mu tercinta." Kekeh Siska seolah bercanda.
"Abang punya resort di mari, Sis?" Muna sedikit heran, nanpak sekali jika ia tak begitu tau banyak soal investasi yang suaminya miliki.
"Nanti konfirmasi langsung aja, sama orangnya deh. Sekarang waktunya kita akan makan malam bersama." Siska mengalihkan topik pembicaraan.
Muna hanya mengangkat kedua bahunya sembari sedikit mengangguk angguk. Dan pelan pelan meninggalkan posisi berdirinya, melangkah masuk ke kamar mereka yang sungguh sudah di sulap, mirip seperti kamar mereka yang di rumah babe. Bedanya di sana hanya ada satu bed berukuran besar plus sebuah sofa tantra. Sudah bisa di tebak bukan, itu ide siapa dan fungsinya apa sehingga sofa itu nangkring di dalam kamar tersebut.
Magrib menjelang, mereka pun shalat berjamaah bersama dan berkumpul di rumah Siska yang akan digelar acara pernikahan tersebut.
Rumah keluarga Siska yang baru ini, lebih besar di bandingkan dengan rumah yang Kevin miliki. Apalagi di rumah itu akan di gelar perhelatan akbar, maka bukan hanya rumah mereka yang siapkan, tetapi sampai halamannya pun sudah di kondisikan sedemikian rupa untuk mendukung acara pernikahan Siska dan Asep. Kehidupan keluarga Siska, kini sudah sangat jauh berubah. Tak ada lagi kesulitan ekonomi seperti masa mereka belum kenal Muna dan Kevin. Jika dulu, untuk makan sekali sehari pun sulit, tapi tidak dengan sekarang. Karena kini, ayah Siska terkenal sebagai pemilik toko bangunan terlengkap di desa mereka, juga sebagai penyuplai barang ke toko bangunan yang bahkan ke desa-desa tetangga. Maka tak heran jika rumah Siska sekarang sangat luas dan besar.
Namun, walau kehidupannya sudah berbeda. Tidak berarti Pak Herman berubah perangai. Beliau tetap saja menjadi seorang Pak Herman yang sederhana, suka menolong dan juga rendah hati. Dia bukanlah tipe orang seperti Kacang Lupa Kulitnya. Baginya tetap saja Kevin adalah orang yang patut ia hormati sebab berkat jasa Kevin lah, yang dulu menyelamatkan perekonomian keluarga mereka.
Hutangnya sudah lama punah, tak ada lagi pada Kevin. Bahkan kini, ia sudah memiliki tanah lahan luas yang bisa disewa oleh penduduk desa yang tidak memiliki tanah untuk bercocok tanam. Pak Herman juga banyak memiliki beberapa kapal yang bisa disewa oleh nelayan untuk mencari ikan di pesisiran pantai dan laut untuk mencari ikan. Pak Herman sangat piawai membaca peluang usaha yang sesuai di desa mereka tersebut.
Bulan membulat hampir penuh, pernikahan Siska dan Asep memang sudah di perhitungkan saat tepat di langit sedang purnama bulan. Konon filosofinya, hal itu menandakan jika sebuah pernikahan di gelar saat bulan penuh sempurna, maka sepenuh itulah rejeki yang akan kedua mempelai dapatkan sepanjang kehidupan mereka kelak. Dan kedua pihak keluarga mempercayai sekaligus mengimani filosofi tersebut.
"Mae... Ay sama Nay udah lelap. Giliran otong mau tes sofa ini, yank." Muna tidak menyadari kapan suami mesumnya itu masuk ke kamar. Sebab yang ia tau, sejak sholat Isya tadi Kevin terlibat obrolan menarik dengan babe dan pak Herman di halaman rumah Siska.
Bersambung...
__ADS_1