
Sudah hampir habis stok kata rayuan dari yang gombal sampai yang sungguhan, Gilang haturkan untuk istrinya tercinta itu. Hanya ia dan Allah yang tau betapa Gilang merasa bersykur memiliki Gita menjadi teman hidupnya.
Jauh sebelum Gita meminta, dalam niat pun tak pernah terbesit dalam pikirannya untuk mengkhianati berlian langka tak ternilai ini yang berhasil ia dapatkan itu.
Hanya orang yang beruntung saja bisa mendapatkan wanita baik, cantik paras juga hatinya ini. Hanya mantan Gita lah manusia terbo doh yang pernah menyia nyiakan wanita setulus hati Gita. Tak ada alasan untuk Gilang menorehkan setitik luka pun pada hati manusia sebaik Gita.
Hari berlalu, sungguh keduanya terlihat propesional dalam menjalankan pekerjaan mereka selama di Singapura. Mereka bahkan hampir terlihat seperti orang asing yang tak kenal satu samablain, saat bekerja. Karena fokus pada pekerjaan sesuai bidangnya.
Namun beberapa kolega bisnis tentu tau akan kabar pernikahan mereka yang baru saja terjadi. Sehingga beberapa tentu ada yang iseng, meminta agar mereka ikut merayakan hari bahagia tersebut.
Jangan kira mereka pasangan misquien. Bukankah Kevin sudah memberikan mereka cek bernilai besar. Untuk bagi sembako kemarin saja, belum mengurangi barisan nol pada isi rekening mereka.
Maka dengan tanggap, Gita dan Gilang pun mengadakan semacam pesta kecil khusus bersama kolega bisnis mereka tersebut. Di sebuah restoran terbilang mahal untuk kelas Singapura. Dan tentunya, mereka berkonsultasi dengan Kevin. Apakah jatuhnya tidak ria, jika mereka mengadakan hal tersebut di sana.
"Kak.. apa boleh kami mengadakan semacam syukuran atas pernikahan kami bersama kolega bisnis di sini?" tanya Gita via telepon.
"Mengapa tidak. Justru itu bagus, untuk mempererat hubungan kita dengan kolega." Jawab Kevin.
"Gita takut di kira sombong saja kak. Sampai di sini pun mengadakan acara." lajut Gita lagi.
"Kakak tanya, konsep acaranya bagaimana?"
"Hanya makan malam di restaurant kak. Yang, sebelum acara makan di mulai. Mungkin kami akan mengumumkan jika hubungan kami telah sah." papar Gita.
"Huum... bagus itu. Kakak rasa bukan termasuk kategori sombong kok, lain cerita kalau kamu ngadain acara jor joran di sana. Bukan hanya sombong boros, iya." Jelas Kevin sambil terkekeh.
"Hahaaa... ya ga lah kak."
"Uangnya ada Git?"
"Ada kak... ada. Aman."
"Ok. Kapan rencana acara?"
"Sabtu, pas kegiatan selesai."
"Iya... silahkan di laksanakan. Atur yang baik ya. Jangan buat malu perusahaan kita." Pesan Kevin.
"Iya kak, makasih." Obrolan di telepon berakhir dengan persetujuan dari Kevin.
__ADS_1
"Udah neng?" tanya Gilang yang baru masuk kamar, setelah samar samar mendengar istrinya bicara di telepon.
"Iya sudah. Boleh kata kak Kevin."
"Huum. Makan yuk. A'a udah masak buat makan malam."
"Waduuuh dasar suami idaman. Istri masih leyeh leyeh di kamar, eeeh. Udah masak aja menu makan malamnya. Kalo gini a'a, eneng tuh belum hamil juga bakalan melar. Masakan a'a enak semua." Puji Gita pada Gilang. Yang hampir setiap malam selalu menjadi koki untuk mereka berdua. Dan Gita hanya kebagian masak untuk sarapan mereka sebelum berangkat bekerja.
"Neng... mau eneng segede apa juga a'a tetap cinta kok sama eneng."
"Iya, adem dengernya a'. Waktu yang duduk di hadapan a'a timbangan belum nyampe 50kg. Tapi entar kalo udah gendut, mana tahankan?" seringai Gita.
"Neng... kalo ntar eneng gendut, hanya jangan minta a'a gendong eneng aja, a'a takut encok. Tapi kalo eneng minta untuk masukin eneng ke hati abang, mau mondok kek, mau ga pulang kek, biar segendut apa aja. A'a sandang." Gilang mencubit hidung bangir istrinya gemas.
"A'a iiih... kapan mulai makannya."
"Sok.... mangga atuh neng."
"Nuhun a'..."
"Waah... senangnya punya istri menjaga kearifan lokal daerah suami. Ntar malam kasih hadiah dobel deh."
"Ga usah repot repot a'. Porsi dan gaya yang standar saja. Eneng juga takut sama encok." Kekeh Gita membalas alasan suaminya tadi.
"Iya a'..., kenapa?"
"Sama kalo udah nikah cita citanya jadi gendut, gitu ya neng." Gilang menutup mulutnya dengan punggung tangan yang memegang sendok.
"A'aa... iiissh." Gita rada kesal di buat buat.
"Ya habisnya, dari kemarin yang di bahas soal gendut saja, gendut lagi, gendut nanti. Rahang a'a bisa lepas neng ngejelasinnya, a'a cinta eneng karena hati yang tulus. Bukan rupa eneng yang body goal." Gilang meyakinkan istrinya.
"Rahang a'a lepas itu bukan karena ngejelasin. Tapi karena bohongin eneng. Kena azab suka ngagombalin istri." Tawa Gita pecah, merasa lucu sendiri.
"Wah... wah. Kesininya, ini istri makin berani doakeun suami na cacat, hah? Awas dapat hukuman lho." Ancam Gilang bercanda.
"Maafkan aku suamiku tersayang. Jangan masukan ke hati. Eneng di bawa masuk kamar ajaaah terima hukumannya."
"Yah nantangin nih."
__ADS_1
"Santuuy A'ayank. Aku milikmu sepenuhnya. Istrimu hanya ingin mencari keberkahan." Gita memang makin pintar menjawab suaminya sekarang.
"Siap laksanakan." Jawab Gilang penuh arti.
***
Pekerjaan lebih cepat dari yang di perkirakan, sehingga undangan makan malam bersama kolega tersebut di jadikan untuk moment perpisahan pertemuan mereka.
Kolega bisnis tersebut hanya beberapa yang berasal dari luar negeri, 70% adalah rekan bisnis yang juga berasa dari Indonesia, namun beda kota. Sehingga mudah untuk melaksanakan acara tersebut.
Acara yang sungguh di kemas dengan sederhana namun elegan. Menciptakan suasana malam keakraban dengan durasi waktu bersama hingga tengah malam untuk menikmati segala sajian yang resto itu siapkan sesuai selera tamu yang mereka undang hadir bersama keluarga jika kebetulan di ajak serta.
Pandangan Gita dan Gilang bersirobok dengan pasangan tamu yang baru datang. Bukan karena tak kenal, justri mereka kenal baik dengan pak Prayoga pengusaha sukses dari Jakarta. Tapi, bukan pak Prayoga yang membuat mereka terperanggah, melainkan wanita paruh baya yang ia gandeng itu yang membuat mereka ingat seseorang.
"Neng... itu orang tuanya Baskoro?" bisik Gilang saat pasangam itu semakin berjalan mendekat ke arah mereka untuk mengucapkan selamat menempuh hidup baru.
"Bukan a'a. Seingat eneng nama ayahnya bukan Prayoga deh." Gita menjawab dengan agak pelan, berbisik ketelinga Gilang.
"Tapi itu kan maminya Baskoro." Gilang masih saja membisikan kata kedekat Gita lagi. Namun tak sempat di jawab Gita, karena mereka makin dekat.
"Selamat malam Gilang. Waah dapat jackpot nih. Dulu Asisten sekarang jadi Wakil CEO. Malah dapat bonus istri lagi, di perusahaan yang sama." Ucap Prayoga yang memang kolega bisnis sejak Kevin masih merintis perusahaannya. Gilang dan Gita masih menebar senyum mereka saja mendengar kelakar itu. Sambil menatap ke arah wanita di sampingnya.
"Mah... ini sektertarisnya Gilang si Wakil CEO adiknnya Kevin." Tunjuk Prayoga pada Gita.
"Owh... Kevin Mahesa, Pah?" tanyanya mesra lalu memeluk tubuh Gita seolah girang bertemu dan kenal dengan adik Kevin itu
"Jangan tanya kabar Baskoro di depan suamiku." Bisiknya di telinga Gita.
Bersambung...
Haaiii readers
Selamat menunaikan ibadah puasa di hari pertama ya.
Semoga berkahβοΈβοΈ
Makan sama piktornya aja yang puasa.
Jempol likenya tetep nyak absen π€
__ADS_1
Makasih
πΉπΉββππππ