
Bohong saja jika Kevin tidak kesal pada Muna. Selain dia tipikal suami bucin, ia juga sosok ayah yang selalu mengutamakan kasih sayang pada kedua anaknya. Walau Kevin sesibuk apa, selalu ia sempatkan bermain paling tidak dengan Aydan yang sudah fasih di ajak berkomunikasi. Pun dengan bayi berusia 5 bulan si Annaya, putri keduanya itu.
Kevin tau sejak awal Muna adalah gadis keras kepala, yang bahkan di awal pernikahan mereka mereka LDR demi cita cita Muna ingin jadi Sarjana. Dan perihal akan terjun ke dunia kerja pun, jauh jauh hari sudah mereka sepakati. Maka kini Kevin tak bisa terang terangan menunjukkan keberatannya.
Ternyata mengijinkan Muna bekerja tak seindah kenyataan saat menjalaninya, sebab segala yang terjadi tentu tak pernah bisa sesuai dengan keinginan mereka belaka. Seperti hari itu, hatinya agak mangkel saat menemukan kedua anaknya masih bermain dengan baby sitter saja. Kevin yang bekerja di Bandung bahkan lebih dahulu pulang ketimbang Muna.
Awalnya Kevin ingin marah, ia ingin menginterogasi istrinya yang masih muda itu. Tetapi ia pun melihat bagai mana sigapnya Muna, untuk tetap menggunakan sisa waktunya mengajak Aydan ngobrol, juga demikian intens menyu sui Annaya. Dan Kevin tau, dari mimik wajahnya. Muna sedang tidak dalam keadaan baik baik saja. Ia manusia bukan robot. Ia punya hati dan perasaan. Tentu lebih tau jika keterlambatannya tersebut sudah melukai hati orang orang yang menyayanginya.
Maka Kevin memutuskan untuk melakukan penyegaran saja. Mengajak Muna berkeliling kota dengan kendaraan roda dua, mungkin adalah hal yang lama tak mereka lakukan, sekaligus menjaga keremajaan perasaan cinta antara mereka berdua.
“Mae… kita tidur di hotel terdekat?” Gesrek ya gesrek, si Kevin kena bamper depan gitu aja sudah pengen. Muna mencubit perut sixpack suaminya.
“Mau ngamar bang?” tanyanya dekat daun telinga Kevin. Dan lawan bicaranya terkekeh sambil mengelus lembut tangan yang melingkar di perutnya sejak tadi.
Kevin masuk kedalam sebuah parkiran sebuah tongkrongan anak muda, di sebuah café yang menyuguhkan kopi juga aneka makanan ringan lainnya. Di sana ia memastikan akan menghabiskan beberapa jam kedepan bersama istri kesayangannya itu.
“Tumben abang ngajak jalan ala ala anak muda beginian?” Komentar Muna saat mereka sudah mendapatkan tempat yang strategis untuk saling menikmati sisa malam tersebut.
“Lama ga kencan Mae, takut cintanya luntur.”
“Emaang cinta bisa luntur?”
“Bisa lah kalau tidak di rawat.” Jawab Kevin cepat dan menyusupkan tangannya dari belakang untuk memeluk pinggul istrinya.
“Cintanya abang aja kali yang bisa luntur. Kalo cintanya Muna, itu aneh. Makin lama makin tebel aja ama abang.” gombalan receh Muna keluar.
“Hmm… beneran mau di selesaikan di kamar hotel nih?”
“Ya… laki aye sekali mesum tetep aje mesum pan. Kaga bisa di kasih bamper dempet dikit, udah mau on fire aje.”Muna senang meledek Kevin dengan bahasa Betawi kebanggaannya.
“Sama istri tuh bukannya mesum Mae, tapi menunjukkan cinta kasih.” Jawab Kevin sambil tersenyum.
“Iye tuan Kevin, mana pernah salah sih?”
“Sini…” Ujar Kevin menepuk pahanya. Agar Muna duduk di atas pangkuannya.
__ADS_1
“Kaga ah… malu.” Jawab Muna.
“Hm… dulu haram. Sekarang udah halal juga malah malu. Padahal mau.”
“Kagak di tempat umum juga kali abang.” Jawab Muna manyun manyun.
“Iya… tau. Sayang, di rumah sakit banyak kerjaan?” Ini tujuan utama Kevin mengajak Muna tiba tiba kencan. Ia ingin tau masalah Muna, tetapi tak mau terkesan menginterogasi istrinya.
“Ga juga sih sebenernya. Cuma karena emang di cari cari ya dapatlah kasusnya.”
“Kasus apa yank?”
“Abang pernah cek soal kalibrasi alat di laboratorium?”
“Pernah.”
“Kapan terakhir?”
“Tahun lalu.”
“Abang tanya di bagian lab.”
“Ada liat sertifikatnya?”
“Tidak.”
“Nah itu dia masalahnya.” Lalu MUna menceritakan dari awal ia menemukan sebuah opini tentang alat lab yang sebagian sudah tak layak pakai. Karena telah lama tak di lakukan pengecekan. Hingga urusan laporan keuangan selama tiga tahun terakhir yang terlihat rapi, tetapi menemukan kejanggalan kejanggalan. Dan itu sangat mengusik perhatian Muna.
“Abang ga kepikiran terjun langsung dalam hal melihat fisiknya Mae.” Jawab Kevin terperanggah akan kasus yang istrinya hadapi.
“Bukannya pemimpin tidak baik hanya bekerja di balik meja kerjanya bang? Apalagi yang kita pegang adalah sebuah rumah sakit. Tempat orang orang ingin menyambung nyawanya. Tak main – main harapan mereka untuk sembuh dan ingin tetap hidup. Tapi, jika bahkan alat yang kita gunakan saja tak layak, bagaimana kita bisa banyak membantu harapan mereka tercapai?” Kevin mengecup bibir itu singkat, Muna tak pernah gagal membuat Kevin selalu jatuh cinta padanya setiap hari, atas segala caranya dalam berpikir dan bertindak.
“Ck ck… abang. Lagi serius juga.” Dorong Muna pada bibir hangat itu.
“Salah sendiri kenapa pinternya bikin geregetan terus.” Jawab Kevin mencium pipi Muna kembali.
__ADS_1
“Jadi, gimana? Besok biar abang yang pantau prosesnya ya.”
“Besok bukannya abang masih ke Bandung?” Kevin menggeleng.
“Gilang sama Gita itu ga gila liburan. Di suruh sampai besok. Eh, tadi siang udah nongol aja di Bandung. Jadi besok sudah masuk kerja. Jadi abang ga usah ke Bandung lagi.” Jawab Kevin yang sangat melegakan Muna.
“Alhamdulilah. Iya deh kalau begitu, tolong abang back up proses pengujian ya. Muna mau fokus meneliti laporan keuangannya. Kayaknya sih banyak penyalah gunaan deh.” Lanjut Muna lagi.
“Jangan suka merepotkan diri sendiri, apa lagi memaksa kemapuan diri yang tidak sesuai dengan bidang ilmu yang kamu miliki.” Ujar Kevin datar.
“Maksudnya?”
“Sekarang sudah banyak kantor akuntan publik yang mendapat ijin dari Kementrian Keuangan. Sehingga mereka tentu akan dapat dengan pro memberikan jasanya untuk memproses audit umum untuk sebuah laporan keuangan, melakukan pemerikasaan terhadap laporan keuangan yang prospektif, juga melakukan permeriksaan terhadap laporan atau informasi mengenai performa keuangan pada perusahaan yang kita jalankan.” Kali ini Muna yang menyambar tubuh suaminya untuk di peluknya.
“iih… tadinya Muna sempat mumet akan mulai dari mana. Dan harus percaya sama siapa tentang hal ini. Ngikut kata hati, tuh orang orang udah mau Muna pecat semua. Tapi dasarnya ga lengkap kalo hanya berdasarkan laporan yang mereka buat, tentu saja minimalis sekali kesalahannya.” Lanjut Muna kembali.
“Abang punya teman yang bekerja di sebuah Kantor Akuntan Publik. Tapi…” Kalimat Kevin menggantung.
“Tapi apa?”
“Cewek sayang… ga papa abang berkomunikasi sama cewek?”
“Abang ga pro banget sih. Cuma punya teman akuntan cewek aja udah mikir Muna cemburu gitu?” tebak Muna pada suaminya.
“Ya… kan kita harus jujur sayang. Jadi sebelum nanti Mae kaget, abang bilang saja kalo temen abang cewek.”
“Teman atau pernah masuk dalam jejeran para mantan nih?” Sindir Muna asal.
Bersambung...
Makasih suportnya membuat nyak selalu semangat melanjutkan cerita ini
Lop kalian semua
🌹🌹☕☕👍👍🙏🙏
__ADS_1