CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 140 : PULANG


__ADS_3

Gilang sudah kembali dari rumah sebelah. Bukan hanya sisa ikan bakar semalam yang ia dapatkan, tetapi ikan bakar yang baru lagi di buatkan ibu Siska dengan sambal yang terlihat lebih enak dari yang semalam.


“Nasinya sudah matang Neng, yuk makan siang yang kecepetan dan, sarapan yang kelewatan.” Senyum Gilang terkembang. Wangi shampoo dari kulit kepala Gita mengirim informasi, bahwa istrinya sudah mandi saat ia tinggal ke rumah sebelah.


“Maafin Eneng tadi ya, a’.” Tunduknya seolah menyesal.


“Untuk …?”


“Waktu Eneng mandi, di bawah closed sabun bekas konser tunggalnya belum kembali ke tempat semula.” Ujarnya pelan hampir tak terdengar.


Gilang bingung mau jawab apa.


“Sabar ya a’a. Semoga Eneng segera kuat dan lebih baik. Eneng juga takut dosa sama suami.” Lanjutnya sendu.


“A’a sayang Eneng, a’a mau Eneng dan anak kita sehat. A’a baik-baik aja kok.” Tepuk halus Gilang pada punggung tangan istrinya.


“Pokonya setelah ini Eneng usaha deh, menekan keinginan yang tiba-tiba muncul dan sedikit aneh ini a’.” Janji Gita pada Gilang sambil mengusap perutnya.


“Jangan di paksakan. Itu bukan keinginan Eneng. A’a Ikhlas, suka malahan. Gimanapun sulitnya ngadepin Eneng sekarang, pasti ga akan sebanding dengan lelahnya Eneng nanti bawa dede bayik di perut Eneng. Semuanya butuh pproses Neng, dan kita memang sudah sangat ingin dalam fase ini.” Gilang beranjak berdiri mencium kening  Gita sebelum makan.


“Terima kasih suamiku tersayang.”


“Selamat makan bunda tercinta.” Mereka memang pasangan teruwu seantero Mahesa sekeluarga ya gaiish. Jadi, memang agak lebay dalam urusan berkomunikasi dan beraksi.


Acara makan siang selesai, rengekan untuk makan choco chip pun terabaikan. Sebab, lagi-lagi kantuk menyerang keduanya. Ga jauh beda dari kebo, selama di Desa ini kerjaan mereka hanya makan dan tiduran saja.


Matahari beranjak geser, hendak pulang keperaduannya. Gita mengendus aroma tak sedap lagi dari mulut suaminya.


“A’a … nanti kalo beli choc0 jangan lupa beli masker juga ya.” Pintanya pelan.


“Kenapa …?”


“Biar ga mual.” Jawabnya menjauhi Gilang.


“Oh … anak ayah ga tahan bau ayah yang ga wangi. Oke dede. Ayah paham, dede maunya ayah selalu rapi, wangi, bersih dan segar.” Simpul Gilang sendiri.

__ADS_1


“Makasih ya a’. Pengertiannya.” Gita lembut, seolah mulai dapat mengendalikan emosinya. Mulai bisa mengelola mana keinginan bayi dan akal sehatnya.


“A’a mandinya nanti sepulang dari warung aja ya Neng. Biar ga sering-sering mandi. Choco, masker apalagi …?” Maklumlah ini desa yang tak memiliki market berpendingin udara seperti yang banyak terdapat di kota besar. Sehingga, Gilang harus cermat memilih belanjaan di warung yang lengkap.


“E … itu. Kalo ada, harus ada sih.” Seolah berpikir Gita akan mengutarakan keinginannya lagi.


“Apa sayang …?”


“Itu … Eneng maunya. Mulut a’a bau anggur.” Jawabnya sedikit tertahan dan agak bingung sendiri dengan permintaannya.


“Gimana …?”


“Ehm. A’a beli pasta gigi yang beraroma anggur ya. Untuk a’a pakai. Jadi nanti nafasnya wangi anggur.” Gita menterjemah keinginannya.


“Pasta beraroma anggur. Oh, yang buat balita ya Neng. Oke.” Tanggap Gilang mengerti.


“Maaf ya a’ …” Gita tau, ia kembali cerewet.


“Ga papa, itu mudah sayang. A’a tinggal dulu. Eneng mau di sebelah? Biar ada teman ngobrol.” Tawar Gilang yang selalu mesra pada istrinya.


Tapi keadaan di sebelah juga sepi.


“Bu … ibu.” Panggil Gita masuk ke dalam rumah itu.


“Iya Neng …” Jawab ibu dari arah dapur.


“Pada kemana kok sepi …?”


“Siska dan Asep jalan-kalan sore Neng. Mirna les tambahan .Antoni ikut bapak ngantar kayu.” Jawab ibu Siska dengan lembut.


“Oh. Warung jauh ya bu …?” tanya Gita yang di sampingnya jug ada Gilang.


“Lumayan sih, mau cari apa? Kali aja ada di rumah ibu.” Tawarnya penuh pengertian.


“Choc0 ch!p, masker sama pasta gigi rasa anggur, bu.” Gilang lebih dulu menguraikan yang akan di carinya.

__ADS_1


“Oalaaaah. Ibu cuma punya maskernya. Pasta gigi adanya yang aroma sirih. Mau?”


“Tidak bu.” Gita langsung menjawab dengan cepat dam tegas.


“Ya sudah, Gilang cari sendiri aja bu. Titip Eneng ya, di sebelah ga ada temennya.” Ujar Gilang menitipkan istrinya.


“Iya … pasti ibu jagakan.” Jawab Ibu Siska senang.


“Eh … nak Gilang. Ke warung pake apa?” tanyanya saat mereka sudah melangkah menuju luar rumah.


“Ya jalan kaki lah bu. Semua alat transfortasi di sini, terpakai semua kan?”


“Warungnya jauh kalo jalan kaki, Lang. Tuh, ibu punya sepeda mini. Lebih baik pakai sepeda ibu. Masih bagus kok.” Tawar ibu Siska sungguh-sungguh.


“Boleh deh bu, timbang jalan kaki.” Gilang mana peduli itu sepeda mini atau sepeda mono. Baginya asal bisa di gunakan dengan cepat dari jalan kaki. Tak masalah. Ia juga tak malu lagi-lagi harus mengayuh sepeda yang bahkan ada keranjang di depannya. Sebab itu memang sepeda milik ibu Siska, sebelum memiliki sepeda listrik.


Hari terasa cepat berlalu, tak terasa tujuh hari sudah Gilang dan Gita berada di desa itu dengan segala rasa yang menakjubkan. Asep dan Siska tak selama mereka berada di Cikoneng. Mereka sudah kembali ke Bandung, mengingat masa cuti Asep sudah habis. Hanya pasangan dua G yang paling lama di sana, sebab menunggu pemeriksaan dari bidan desa untuk mengijinkan mereka bisa kembali ke Bandung.


Tujuh hari penuh sensasi. Namun, dapat terlewati dengan baik dan lancar, berkat berada di dekat ibu Siska yang super pengertian. Ibu Siska mampu memberi pengertian pada Gilang, pun mengingatkan Gita agar selalu menjaga perasaan suami yang mungkin merasa lelah menghadapinya yang labil.


Tama sudah di kirim Kevin ke Cikoneng untuk menjemput Gita dan Gilang, saat bidan desa sudah mengijinkan mereka berkendara dalam waktu yang lama. Bagasi belakang mobil itu penuh stok makanan untuk Gita. Dari stok ikan segar, sampai frozen food buatan kahs Cikoneng di brong oleh Gita dan Gilang. Sebab hanya itu sekarang yang menjadi selera Gita.


“Main lagi ke sini ya, ibu akan merindukan kalian.” Peluk cium ibu Siska menghantar kepulangan Gilang dan Gita.


Pun Gita, menangis haru. Berpisah dengan ibu supe pengertian bahkan di rasakannya lebih lebih peduli padanya ketimbang Indira ibu kandungnya sendiri.


“Ibu aja yang nemenin Eneng di Bandung. Mirna sama Antoni, pindah yuk. Sama kak Gita aja sekolah di Bandung.” Ajak Gita manja.


“Iya kak, setelah lulus SMA. Mirna akan melanjutkan kuliah di Bandung. Mau ikut jejak kalian yang menjadi Sarjana.” Jawab Mirna menenangkan Gita.


“Tapi ... jangan ikut Siska, ya. Sama kak Gita aja.” Rengek ibu hamil yang masih ada-ada saja idenya.


Bersambung ….


__ADS_1


__ADS_2