
Laela tak bermaksud mengadu atau menjelek jelakan Asep saat curhat pada sang ibu. Hanya daya tangkapnya lemah atau memang kemampuan menyimak ceritanya di bawah strandart. Lalu pintar merangkai kata pada suaminya, membuat pak Ujang Marsudi yang menjabat sebagai kepala Desa itu. Terlihat geram. Dan tak pandai mengatur emosinya saat Asep datang.
"Ayah... gimana sih. A'Asep teh sampai belum ketemu sama Laela menceritakan yang sebenarnya." Hardik Laela pada sang ayah.
"Kalau belum cerita, lalu kamu tau dari mana dia hamilin anak orang?" tanyanya agak bingung.
"Dari Ambu..." jawab Laela dengan nada rendah.
"Lalu kamu kira, ambu yang tua itu tukang bohong? Asep itu yang pembohong. Kamu mestinya bersyukur, belang si borokokok itu sudah kelihatan selagi kalian belum punya ikatan apa apa." Jelasnya lagi.
"Ya.. paling tidak. Kasih kesempatan untuk dia jelaskan ke Laela." Tukasnya marah, lalu mengambil kunci kontak motornya, akan mengejar Asep.
"Mau kamana?" tanya pa Ujang nyaring.
"Ngejar Asep." jawabnya cuek.
"Satu langkah lagi kamu keluar rumah demi mengejar laki laki sontoloyo itu, kamu bukan anak ayah lagi...!!" Lah, Ujang marah.
"Akaang." Suara ibu Laela keluar dari arah dalam rumah, agak terganggu dengan suara anak dan suaminya yang saling beradu verbal dengan nada yang tidak normal.
"Apa...? Mau bela anak kamu? Hanya orang bo doh, yang mau ngejar lelaki yang udah buntingin orang lain. Sama saja kamu antar ayam buat kucing lapar." Laela masih punya akal sehat, ia juga tidak mungkin berhenti jadi anak kepala desa demi seorang Asep sebagai pegawai staff biasa di kantor Kecamatan.
"Masuk...!!!" Perintah Ujang tegas pada Laela.
"Ayah... jangan marah marah. Ingat penyakit darah tinggimu, nanti kambuh." Elus ibu Laela pada punggung suaminya.
Dengan menghentak hentakkan kakinya Laela masuk dan duduk di sofa tengah rumah.
"Ayah jahat. Tidak pengertian, kuliah sudah tamat, kerja juga udah dapat, masa mau punya suami di larang?"
"Yang larang kamu nikah siapa?"
"Barusan ayah larang Laela ngejar A'Asep apaan?"
"Geblek...!!! Ayah ngelarang kamu ngejar si borokokok itu. Bukan berarti ngrlarang kamu nikah..."
__ADS_1
"Tapi dia pacar Laela..."
"Pacar apa? Kamu kira ayah tidak gerah liat kamu wara wiri kaya ogoh ogoh di arak berduaan, tanpa ikatan. Di lamar tidak, di ikat juga ga ada tanda tanda. Sekali datang berita, udah hamilin gadis lain. Bagian mananya kamu masih mau sama dia?" Ujang masih gusar dengan anak gadisnya itu
"Terus... harus Laela gitu yang minta di lamar A'Asep?"
"Tuh kan... kamu memamg bo doh Laela. Udah kalo memang mau nikah, nanti ayah carikan jodoh buat kamu."
"Ga mau, Laela maunya Asep." Dongkolnya.
"Yang selama ini dekat saja ga ngajak nikah siapa?"
"A'Asep."
"Yang hamilin gadis lain siapa?"
"A'Asep."
"Masih mau sama dia?" Laela tampak berpikir sebentar. Sebenarnya ia masih tidak yakin, tapi bagaimana caranya mendapat info yang benar. Bahkan nomor ponsel Asep yang baru saja, belum ia dapatkan. Karena emosinya tadi pagi.
Mungkin Asep juga salah, atau memang merasa tak perlu berjuang untuk menyelesaikan masalahnya dengan Laela. Sebab ia pun sudah memastikan dirinya jika memang tak ada yang terasa hilang saat tak saling bertukar kabar dengan Laela.
Di kantor mereka memilih tidak saling bertegur sapa. Keduanya tak ada yang saling ingin duluan untuk menyelesaikan masalah mereka.
Asep tersinggung, saat di usir ayah Laela. Sedamgkan Laela masih sibuk kecewa karena Asep ia percaya telah menghamili gadis lain. Jadilah, salah paham itu berlangsung lama.
Hingga Ujang Marsudi sungguh benar mencarikan jodoh untuk anaknya. Seorang polisi bujangan yang ternyata bersedia kenal, dekat dan serius pada anak gadisnya.
Asep tampan, mana mungkin Laela bisa melupakan begitu saja. Tapi, melihat Asep sungguh tidak menunjukkan itikad baik untuk memperjuangkannya, akhirnya Laela juga luluh dengan kegigihan Polisi Bintara yang selalu mengejarnya itu. Maka, akhirnya undangan pernikahan Laela pun tersebar di kantor. Saat itulah akhirnya hubungan Asep dan Laela resmi berakhir.
"A'Asep. Datang ya..." ujar Laela pelan menyerahkan undangan resepsinya. Dan tercetak nyata di sana jika mereka sudah resmi menikah secara hukum, melewati proses sidang. Layaknya pasangan yang menikah dengan seorang Polisi pada umumnya.
"Insya Allah La. Selamat ya, kamu udah ketemu jodohmu." Asep menerima undangan itu.
"Ya... terima kasih. Dan ternyata kita ga jodoh ya. Gimana kabar istrimu?" tanya Laela nekat.
__ADS_1
"Istri?"
"Gadis yang mau hamili... bukannya sudah waktunya melahirkan. Sudah dua tahun lebih rasanya kita tidak saling sapa." Kenang Laela. Ya tak terasa mereka sanggup perang dingin, menggantung perasaan masing masing dalam ke tidak pastian.
Sejak Muna menemukan identitas aslinya, lalu kuliah di Apeldorn, hingga menikah dan hamil Aydan. Hubungan Asep dan Laela senyap. Asep memilih sibuk kuliah tugas belajar, yang membuatnya jarang bertemu di kantor. Dan Laela, pelan pelan bisa menerima pria pilihan sang ayah, bahkan saat itu siap akan menikah.
Selama perang dingin bermulai, baik Asep maupum Laela sama sama salah. Sama sama pengecut untuk meluruskan sesuatu yang mestinya harus di luruskan hingga tuntas. Laela takut dengan ayahnya sekaligus gengsi untuk lebih dahulu meminta penjelasan pada Asep. Terlanjur benci dengan isu yang tidak ia pastikan benarannya.
Sementara Asep juga tidak merasa berkepentingan mengejar Laela, sebab tau bagaimana perangai orang tua Laela. Asep cinta damai dan kelembutan. Belum menjadi menantu saja ia sudah di bentak dan di usir. Maka ucapan ambu, bahwa wanita tidak hanya Laela itu sungguh ia yakini. Dan pelan pelan ia lupakan. Sembari menyibukkan diri dengan kegiatan kuliahnya.
Juga ada Siska yang kadang kadang bisa ia temui. Kedekatan mereka makin dekat tepat setelah pulang umroh. Tetapi Asep tidak pernah memberi clue akan hatinya. Sebab ia merasa belum putus secara resmi dengan Laela.
Maka saat undangan pernikahan Leala sudah di tangan, yakinlah Asep akan statusnya. Resmi menyandang jomblo. Mantan Laela. Itulah yang alasan Asep membuat status pada storynya. Sebuah kode entah, apakah untuk Siska atau ada hati wanita mana lagi yang ingin tau akan kejelasan hati Asep.
"Siska... a'Asep teh sudah di tinggal nikah sama si Laela. Jadi, sok atuh pepet si Asep mah..."
"Pepet...? bajai kali mbu...? Kekeh Siska agak tersipu.
"Si Asep teh pemalu, jadi sok atuh Siska saja yang gencar. Kalo nunggu dia yang duluan, bisa jadi pertu kamunya Sis..." Canda Ambu agak lucu.
"Pertu... apaan mbu?"
"Perawan tua... hahahaaa..." Tawa ambu melebar. Hingga tak sadar Asep sudah menghampiri dua wanita beda usia itu.
"Senang bener ambu... cerita apa sih?" celetuk Asep pada keduanya.
Bersambung...
Maaf upnya ga jelas ya.
Sedang dalam kesibukan tidak terdugaπ
Minggu depan semoga stabil.
Makasiih
__ADS_1
πΉπΉββππππ