
Tampak sesosok Daren masuk ke dalam ruang rawat Siska. Entah dia tahu dari mana Siska sekarang sedang terbaring sakit di Rumah Sakit Itu.
"Hai Sis... Gimana keadaanmu?" tanya Daren mendekati Siska.
Dan paramedis tadi sudah meninggalkan ruangan tersebut.
"Ya beginilah." Jawab Siska mengangkat tangannya yang masih tercucuk selang infus itu.
"Maaf telat tau, aku baru dikabari kak Kevin kalau kamu sedang sakit. Dia diberitahu oleh tante Rona." Jelas Daren pada Siska yang memang belum memegang ponsel dari tadi, jadi ga sempat kasih tau siapa siapa kalau dia sedang sakit.
"Oh gitu. Memangnya tante Rona tahu aku sakit dari mana?" tanya Siska yang merasa tidak bertemu siapapun saat dia sakit selain Asep. Lalu mata Siska tertuju pada Asep yang sedari tadi hanya duduk mematung di sebelah kirinya dan hanya memandang kepada Darren tanpa bercakap-cakap atau ber say hello. "A'Asep yang bilang sama tante Rona kalau aku sakit?" tanya Siska ke arah Asep.
"Ya bilang lah masa aku nggak bilang. Waktu aku mau jemput kamu, aku bepapasan dengan tante Rona di depan pintu, sekalian lah aku izin kalau mau bawa kamu. Tante Rona yang menyarankan agar kamu dibawa ke rumah sakit ini, tadi." Jawab Asep menjelaskan asal muasal terdamparnya Siska di Hildimar Hospital ini.
"Oh gitu..., pantesan aku sukses terbaring terbantai di sini ya. Walaupun aku juga nggak tahu nih. jangan-jangan aku cuma bisa masuk tapi enggak bisa keluar dari sini." Umpat Siska bersuara agak pelan. "Emangnya kamu sakit apa, Sis?" tanya Daren kembali serius.
"Ada gejala usus buntu, itu yang dokter katakan Ren." Akhirnya Asep berinteraksi dengan Daren.
"Waah cukup serius dong penyakitmu, Sis." respon Daren mendekati Siska.
"Hmmm... serius banget malahm Masuknya gejala usus buntu, ntar keluar giliran dompetku yang buntu." Kata Siska sambil terkekeh menatap Daren dan Asep bergantian.
Daren dan Siska memang satu kantor dan mereka juga lumayan dekat, sehingga sering bercanda.
"Udah lah soal biaya kamu ga usah pikirin. Nanti aku yang tanggung semua biaya pengobatannya. Yang penting tuh kamu cepat sembuh aja." Lanjut Daren yang membuat mata Asep sedikit membesar memandang ke arah Daren.
"Alhamdullilah." Senang Siska mendengar ada yang bersedia meringankan bebannya.
"Jadi nih gimana ceritanya, kok Asep yang di Bandung malah bisa nganterin kamu ke sini?" tanya Daren sedikit curiga karena Asep berada di ruangan itu bersama Siska.
"Kebetulan aku pas lagi di sini." Jawab Asep datar.
"Ya terus aku bisa minta tolong sama siapa lagi coba? kan nggak mungkin aku minta tolong sama kamu. Entar Zahra marah." Siska masih terlihat senyum menggoda Daren.
"Zahra ga gitu kok, masa sama orang sakit pake cemburu sih?"
"Ya kaliii. Tapi, emang ga ke pikiran hubungi kamu. Sebab yang di pikiranku kan cuma A'Asep." Skak mat, Siska menggunakan momen ini untuk menodong Asep, agar tau perasaannya lebih jelas lagi.
__ADS_1
"Iyaa... paham. Walau aku deket kamu juga ke skip oleh Asep." Daren memandang Asep dengan tatapan menggoda.
Deg.
Jantung Asep kambuh, berdetak tak berirama dengan teratur. Semakinbtak mengerti arah tujuan pembicaraan kedua insan beda jenis kelamin di depannya. Hal itu membuat Asep berpikir, apa iya Siska suka padanya, masa dari banyaknya laki laki atau siapapun yang bisa di mintainya tolong, Pikiran Siska harus mentok padanya.
Asep jadi berpikir apa Siska memang menaruh rasa suka yang berlebihan untuknya? tapi mengapa dari sikapnya dia seperti biasa saja. Wajahnya terlihat normal, ia juga tak pernah melihat Siska tersipu atau gede rasa padanya. Berbeda dengan Laela yang begitu agresif mendekatinya.
Padahal sesungguhnya Asepbsaja yang tidak tahu, betapa Siska tersiksa menahan diri untuk ingin menjadi kekasihnya.
"Ya udahlah. Sorry ya Sis Aku nggak bawa apa-apa nih. Soalnya buru-buru aku takut aja dengar kamu yang masuk rumah sakit gitu. Maaf jika sering bikin kamu repot di kantor. Untuk itu sebagai penebusan dosa, nanti aku aja yang minta ijin pak Ferdy buat kamu dan setelah pulih nanti kamu nggak usah cepetan kerja. Kasian kamunya banyak kerjaan. Pasti suka lupa makan, sampe ususmu sakit gitu." Panjang Daren berkata kata.
"Ren... di sini masih lama?" tanya Asep yang merasa dirinya seperti nyamuk tak di anggap di sana.
"Oh ... ga juga. Emang aku boleh lama lama disini?" tanya Daren ke arah Asep.
"Iya emang salah kamu apa, kalau lama di sini? Kenapa juga harus izin sama aku boleh atau tidak lama disini?" Asep agak bingung.
"Ya kali... nggak mau diganggu sama Siska di sini." Kekeh Darren tertawa ke arah Asep.
"Oh gitu... ya boleh boleh lah tapi jangan lama-lama ya. Soalnya aku masih ada kerjaan sedikit." Jawab Daren lagi.
"Aku pulang sebentar Sis. Ada titip mau di bawakan apa?" tanya Asep serius.
"Ga usah bawa apa apa A'Asep. Cukup kembali ke sini dengan cepat dan selamat saja sudah buat aku." Kekeh Siska menggoda Asep.
Yess... Siska justru berhasil menciptakan senyum bingung di wajah Asep.
Setelah berpamitan Asep pun meninggalkan ruang rawat inap Siska, tinggallah kini Darren dan Siska berada di dalam satu ruangan VVIP di Hildimar Hospital itu.
Sepeninggalan Asep hanya tersisa Siska dan Daren. Kemudian Daren memastikan kalau memang Asep sudah benar-benar pergi dari ruangan itu. "Cie... cie..., pendekatannya makin asoy niih." Goda Daren yang ternyata tau jika Siska suka pada Asep.
"Iih apaan sih..., ga gitu juga kali, Ren." Siska mendadak tengsin.
"Maasaaaa...?"
"Iya.... Sumpah lho orangnya lelet parah banget. Ga ngerti-ngerti juga kalau aku itu suka sama dia." Gereget Siska curhat pada Daren.
__ADS_1
"Ya udah langsung lamar aja." Kekeh Daren menggoda Siska.
"Anjiiur deh, Ren aku tuh cewek ya, bukan cowok. Gini gini aku masih punya malu juga kali." Siska membela dirinya.
"Kamunya aja yang ga nekat. Percaya sama aku, dia juga naruh hati juga kok sama kamu."
"Masaa...?"
"Please deh Sis jangan bego gitu coba aja kamu pikir mana ada cowok yang rela berkorban demi seseorang yang bukan siapa-siapanya?"
" Ih kamu orang pinter banget bikin aku ge-er."
"Siapa yang buat kamu ge-er? Beneran kok dia juga suka sama kamu. Ngapain coba dia capek capek nganterin kamu ke rumah sakit kalau bukan karena dia perhatian sama kamu?"
"Ya kali aja, cuma alasan kemanusiaan gitu Ren." Siska tak berani berharap lebih.
"Udah buruan kamu terus pepet deh, kamu pancing aja terus, sampai dia yang nanti kebuka pikirannya ngakuin kalau sesungguhnya dia juga suka sama kamu."
"Ren, aku tuh cewek."
"Sis. Aku tahu kamu cewek dari postur tubuhmu aja aku udah tahu kali ."
"Ya aku kan malu."
"Sis, cuma buka jalan doang. nggak nyerahin diri juga kok ngapain malu?" Daren terus memberi suport untuk Siska.
Bersambung...
Huuummm dikit lagi kita genjot si Asep ya Readers.
Tetal semangat nungguin kelanjutannya.
Makasiiih
πΉπΉββππππ
__ADS_1