CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 143 : SEMPOL DAGING


__ADS_3

“Tempat tidur ternyaman itu hanya di atas kamu, Sayangku.” Bukan Kevin namanya kalo tidak mesum sekaligus romantis gitu kan.


Muna langsung membalas pelukan suaminya, sembari berbisik di telinga Kevin.


"Dasar mesum, sekali mesum ya tetap mesum ...!!!"


"Tapi bikin candu, kan ...?" Kevin membalas dengan sedikit mengigit daun telinga istrinya.


"Abang aaah."


"Gemesh, Mae." Muna cemberut. Lalu berdiri merapikan pakaiannya. Dan meraba kening Annaya.


"Panik banget ya semalam. Sampe ga sempat ganti baju." Tegur Kevin melihat tampang istrinya yang memang tak berbeda dengan penampilannya di rumah, di kamar mereka terutama.


"Banget pap. Padahal sebelumnya kan masih asyiik ngobrolkan kita. Nah, pas Muna mau tidur. Cium de Naya, udah panas aja badannya. Papap udah ga bisa di hubungi. Kesel deh."


"Maaf, demam kangennya abang ke Mae tuh. Bahkan ngalahin demamnya Naya semalam lho."


"Oh Tuhaaaan. Ga ada hiburan lain bang, selain ngegombal."


"Siapa yang gombal. Orang rindu ini sudah ke ubun-ubun. 4 hari Mae ga tidur sama bini itu sengsara."


"Iya ...  Iya. Percaya." Mana Muna mau berlama-lama meladeni kegombalan suaminya.


"Naya kenapa, Mae?" Kevin berubah ke mode serius dengan sendirinya. Tau, jika ini bukan waktunya bercanda atau saling merayu.


"Dokter bilang dia kena infeksi saluran kencing, makanya badannya demam. Untungnya nggak disertai muntah, kalau sampai muntah-muntah mungkin terjadi dehidrasi. Kekurangan banyak cairan dan itu sangat amat berbahaya." Jelas Muna pada suaminya.

__ADS_1


"Kasihan Naya, kecil-kecil tangannya udah di cucuk jarum infus. Jadi ingat masa-masa perjuangan, Mae waktu hamil Naya. Dulu juga Mae sampe sempat masuk rumah sakit karena dehidrasi." Kevin terkenang masa Muna hamil muda waktu itu. Lemes banget.


"Maaf ya Mae ... nggak bisa jadi suami siaga. Juga belum bisa jadi ayah yang selalu ada untuk anak-anak kita." Kevin mengelus tangan mungil berselang infus di depannya.


"Udah deh Bang, nggak usah gitu. Muna juga jadi ngerasa bersalah Naya sampe sakit gini. Katanya infeksi saluran kencing juga disebabkan karena bakteri, kurang bersih mungkin waktu itu habis pipis atau habis BAB. Mae sebagai mamanya, kemana aja coba." Sungguh Muna ikut merasa salah.


"Kita sama sama ga sengaja, Sayang. Ini mungkin peringatan buat kita sebagai orang tua. Ga boleh lepas tangan sama pengasuh. Kita tetap yang paling utama memperhatikan lebih detail anak-anak kita.” Kevin beralih mengusap tangan istrinya.


“Ini karena Muna berkeras jadi wanita karier kan, Bang …?”


“Enggak, Sayang. Banyak kok wanita yang karier dan kesibukannya lebih banyak dari Mae. Dan belum tentu juga di balik kesempurnaan pekerjaan mereka itu, tak ada drama anak sakit, suami ga ke urus dan lainnya. Hanya kadang, kita hanya liat betapa sukses hasil akhir seseorang. Tanpa tau bagaiaman jungkir baliknya mereka saat berproses.” Kevin mulai bijak dong.


“Jadi abang ga nyalahin Muna kan, karena kerja di rumkit.”


“Ini sudah kita sepakati bahkan dari belum nikah, sayang. Ada gadis muda, bermata biru yang abang kenal sejak awal, memang mau banget kerja kantoran. Dan waktu itu abang udah jatuh cinta padanya, juga berjanji akan membebaskannya melakukan apapun asal dia mau jadi istriku dan berbahagia.” Tukasnya sambil tersenyum.


“Makasih pengertiannya suamiku tercinta.”


“Allah, Bang. Allah yang mestinya di puja pada urutan teratas.” Muna mengingatkan.


“Astagafirullahalazim.” Dzikir Kevin sambil tersenyum.


Keduanya asyik mengobrol, sampai seolah lupa jika masih berada di dekat bayi yang semalam demam itu. Tampak tubuh Annaya mengeliat pertanda mulai terusik dengan keadaan di sekitarnya yang berisik. Suhu tubuhnya sudah sutun, bahkan karena bisa tidur nyeyak keadaanya pun mulai stabil. Baik Muna atau pun Kevin tentu semakin lega di buatnya, tak perlu merasa khawatir secara berlebihan. Sebab keadaan Anaya berangsur baik.


“Abang sore pulang ya Mae, ga tega sebenarnya ninggalin kalian lagi. Tapi di Bandung, Abang terlanjur punya janji yang memang tidak bisa di cancel.” Pamit Kevin dua jam setelah bersiap akan ke Bandung lagi.


“Iya … ga papa. Abang ke Bandung saja. Nanti Muna kerja dari sini aja, biar bisa jaga Naya.” Muna melepas kepergian suami, yang pamit padanya di kamar VVIP itu.

__ADS_1


Kevin memang tidak sempat menyalurkan hasrat kelelakiannya yang sempat membuncah kemarin malam. Tapi, ia masih manusia yang berperasaan. Mana ia tega meminta jatahnya, saat melihat sang istri tidur sambil duduk tertelungkup di tepian ranjang pesakitan.


Sebab Kevin. Bukanlah Kevin yang dulu. Bukan Kevin yang maniak, juga sudah menjadi mantan cassanova. Mana saat ia dapat memeluk dan mencium Muna sebenatar saja, baginya sudah cukup untuk melepas rindunya selama empat hari tak bertemu.


Dokter sudah melakukan visite, untuk memastikan keadaan Annaya. Tidak ada hal yang serius untuk penmyakit Annaya, yang juga sudah mulai ceria. Doter juga akan memberikan ijin, jika Muna ingin membawanya pulang untuk di rawat jalan. Tetapi, Muna menolak. Ia tetap meminta agar Annaya tetap di rawat sampai benar di nyatakan sehat oleh pihak rumah sakit.


Muna pemilik rumkit, ruangan yang ia tempati tentu yang terbaik, terluas dan terlengkap di sana. Bukan hanya bed penunggu pasien, dapur dan ruang tamu pun tersedia dalam ruangan tersebut.


“Miss Hildimar …  bisa ketemu di mana ? Ada bebrapa hal yang harus kita crosscek bersama.” Isi chat Erwin untuk Muna.


“Saya di rumkit Pak. Di ruang VVIP no. 6.” Hanya itu yang Muna tulis sebagai balasan.


“Kenapa di ruang VVIP, siapa yang sakit …?” tanpa ba bi bu, Erwin segera menyambungkan panggilan pada gawainya. Memastikan jika patner kerjanya dalam keadaan baik-baik saja.


“Anak keduaku, Naya semalam demam Pak Erwin.” Jawab Muna memberi jawaban pad aErwin, untuk menghapus rasa penasdaran dan ingin tau Erwin.


“Oh … gimana keadaannya sekarang ?” tanya Erwin lembut.


“Udah baikan kok. Tadi siang juga d ijinkan pulang. Tapi, aku yang belum mau dia segera di bawa pulang.” Jawab Muna dengan nada suara santai, mengusir rasa khawatir Erwin yang terdengar berlebihan.


“Syukurlah. Kalau begitu. Boleh kita ketemu?”


“Pak Erwin mau kita kerjanya di ruang rawat inap ini saja?” tanya Muna kemudian.


“Ga masalah sih. Anggap saja aku hanya membesuk. Kemungkinan orang kantormu juga tidak akan curiga kan kalo kita bekerja sama.” Erwin yang selalu menghindar untuk di ketahui pewagai Muna, jika ia sedang mengaudit para pekerja itu.


“Oke. Nanti aku minta Nia siapkan fileku. Dan, terima kasih jika Pak Erwin bersedia bekerja di sini.” Sepakat Muna saat Erwin bersedia bertemu dan bekerja di kamar rawat inap tersebut.

__ADS_1


“Baiklah, 30 menit lagi saya di sana. Selain file. Miss Hildimar ada pesanan apa, yang sekiranya perlu saya bawakan?” tawar Erwin santun.


“Bawakan sempol daging, mau …?”


__ADS_2