CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 210 : BERBAGI


__ADS_3

Gilang segera mendekati Gita dan menyampaikan hal yang baru saja ia terima dari perawat. Tentang menyiapkan stok vitamin dan lain sebagainya. Sekalian Gilang minta ijin mungkin akan meninggalkan Gita dan kakek di ruang itu. Dan rupanya percakapan mereka dapat di dengar oleh pasien yang sejak tadi ngobrol dengan Gita.


“Oh … pasien umum ya? Siap-siap bangkrut saja.” Suara bapak di sebelah kakek terdengar setengah mengejek sekaligus prihatin.


“Gimana …?” tanya Gilang memastikan untuk mendapatkan pengulangan serta keterangan lebih lengkap dari bapak yang baru saja menutup mulutnya.


“Ya … kalau sudah di vonis menderita penyakit gagal ginjal dan harus cuci darah. Sebaiknya ikut jalur BPJS, dan menggunakan obat generik saja. Mau semahal apapun obatnya, tidak akan membuat sembuh. Hanya membuat bertahan hidup yang tergantung dengan mesin ini. Yang penting telaten, pasti bisa bertahan dalam waktu yang lumayan lama.” Jelasnya memandang pada Gilang dan Gita, sambil menunjuk mesin di sebelah tubuhnya.


“Oh … terima kasih informasinya pak.” Jawab Gilang sopan. Mana pernah Gilang tersulut dengan segala bentuk pembicaraan yang sifatnya tidak ke arah positif. Bukankah ia sudah bertekad bulat membantu kakek. Maka ia tidak perduli itu obat mahal atau murah, dan berapapun biayanya, ia sudah berjanji pada Tuhan untuk berjuang menyembuhkan sang kakek.


“Kamu Gita …?” Kakek Sudrajat membuka matanya. Mencoba mengingat-ingat siapa wanita muda yang duduk di sisi ranjang pesakitannya.


“Iya kek.” Sahut Gita pelan penuh hormat.


“Kamu sendirian …?” tanyanya melihat kiri dan kanan. Mungkin ia mencari Gilang.


“Tidak. Tadi ada Gilang. Tapi dia sedang mencari vitamin tambahan untuk kakek.” Jawab Gita lembut.


“Untuk apa. Jangan repot-repot. Umur kakek tidak lama lagi, jangan buang uang kalian untuk membeli hal yang tidak berguna untuk kakek.” Jawab Sudrajat dengan nafas tersengal-sengal.


“Kakek jangan mendahului Tuhan. Yang penting kita berusaha dulu.” Gita tak suka dengan jawaban kakek Sudrajat.


“Yang kakek butuhkan bukan pengobatan dan perawatan. Kakek hanya mau di maafkan oleh kalian. Kakek banyak salah di masa lalu pada Dian, Arum juga Gilang.” Kelopak matanya basah. Tak bisa ia menahan sekelumit bayangan masa lalu yang ia pernah lalui dengan keji. Sudrajat menyadari akan hal itu.


“Kakek … yang lalu biarlah berlalu. Ijinkan Gilang, teh Arum dan Bu Dian menunjukkan baktinya pada kakek. Di sisa waktu yang Tuhan ijinkan untuk bersama ini.” Gita mengusap lengan yang keriput itu.


“Hah … bakti pada orang yang macam apa? Bahkan Kakek tak layak untuk di hormati.” Sudrajat menyeka keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya.

__ADS_1


“Bagaimanapun, kakek adalah orang tua. Dan semua orang yang lebih tua wajib di hormati. Sekarang, bilang sama Gita. Kakek mau makan apa? Biar nanti a’a Gilang sekalian carikan makanan favorit Kakek. Supaya tenaga kakek cepat pulih, kakek segera sembuh. Bisa bermain-main bersama cicit kakek.” Rayu Gita membuat hati Sudrajat justru lebih sakit.


“Gita … kamu mudah saja berbicara seperti itu. Karena kamu tidak pernah berada di posisi yang Gilang dan ibunya rasakan. Seandainya kamu yang jadi Dian, mungkin bertemu kakek pun kamu tidak mau.” Ujar Sudrajat sungguh merasa bersalah.


“Jangan berpikir yang tidak pernah terjadi. Jika Gita boleh meminta, Gita mohon pada kakek. Tida usah ungkit masa lalu, semakin kakek mengingatnya, maka pikiran kakek semakin sakit dan itun juga berpengaruh pada kondisi kakek.”


“Tapi kakek sungguh orang yang bersalah.” Timpal Sudrajat.


“Jika kakek merasa bersalah. Maka tunjukkan kakek memang merasa salah dengan segera sembuh, agar bisa menyulam waktu yang tak pernah kalian lalui di masa lalu.” Entah Gita memiliki hak apa, sehingga dapat seenaknya memberi wejangan pada kakek suaminya tersebut.


Ponsel Gita bordering, ada icon biru meronta-ronta ingin segera di sentuh di sana. Dan itu adalahg Gilang suaminya.


“Assalamualaikum neng. Kakek sudah bangun?” sapa Gilang dari seberang sana.


“Walaikumsallam, A’. Iya ini kakek sudah bangun.” Jawab Gita membalik kamera memberi arah ke wajah kakek.


“Kek … Gilang belikan apa untuk lauk makan siang kakek?” tanya Gilang terdengar perhatian.


“Kakek … bilang saja suka apa. Maaf kami tidak tau makanan kesuakaan dan yang kakek mau.” Gita ikut mendorong agar kakek bisa menyebutkan makanan yang sekiranya ingin kakek Sudrajat inginkan.


“Tidak … kakek tidak selera makan.” Jawab Sudrajat di sela isak tangis yang tak dapat ia kendalikan.


“Jangan Kek. Kakek harus banyak makan. Kita lawan penyakit kakek sama-sama.” Jawab Gita.


Sudrajat masih mengantup mulutnya. Menjepitnya erat-erat.


“Mau daging? Atau ikan?” tawar Gita masih dengan sambungan vicall yang menyala.

__ADS_1


“Ayam ? bebek ?” Tawarb Gita bingung sendiri, sungguh tidak tau apa makanan yang di inginkan sang kakek.


“A’a … beli yang ada di dekat A’a saja.” Gita putus asa. Tak mengerti dengan selera kakek ini, sedang sakit pula. Semasa sehatnya saja dia tak pernah kenal dan tau. Apalagi di saat sakit begini.


“Pak … bapak. Suka gulai kikil?” tanya Gita kea rah bapak-bapak yang sejak tadi menjadi teman bicaranya.


“Hah …? Saya?” tanyanya sedikit terkejut.


“Iya … apa bapak mau gulai kikil? Suami saya sedang di warung Padang. Sepertinya gulai Kikilnya enak.” Gita sengaja menawarkan bapak di sebelah kakek.


“Wah … boleh-boleh. Sambal hijaunya jangan lupa yang banyak.” Ujarnya tanpa rasa sungkan.


“Oke baik pak.” Jawab Gita senang. Karena usaha Gilang singgah di warung makan tidak sia-sia.


“Kakek mau rendang dagingnya saja, boleh?” tiba-tiba Sudrajat ikut menimpali pesanan bapak-bapak di sebelahnya.


“Alhamdulilah. A’ bungkuskan gulai kikil sambal ijonya yang banyak dan rendang sapi untuk kakek.” Ucap Gita bersemangat.


“Daun ubinya jangan ketinggalan.” Lajut Sudrajat. Lupa akan rasa sungkannya tadi.


“Daun ubinya jangan lupa ya A’a.” Dengan riang Gita mengulang pesanan kakek Sudrajat.


“Siap laksanakan. Di tunggu ya.” Ujar Gilang.


“Iya … ga pake lama a’.” Senyum Gita mengembang di ujung gawai yang masih tersambung itu.


“Neng, baca chat a’a.” Ujar Gilang sebelum memutuskan sambungan vicall tersebut.

__ADS_1


[Neng … tolong tanyain. Perawat yang jaga di ruang Hemodialisa. Mau lauk Padang apa …?] isi chat Gilang pada ponsel Gita. Rupanya, Gilang juga ingin sekalian mentraktir para perawat yang sedang bertugas di ruangan itu. Bagaimanapun, Gilang pernah berada pada titik terendah kehidupan. Ia tau bagaimana rsanya bekerja keras. Dan bagaimana rasanya mendapatkan rejeki, walau hanya sebungkus nasi. Baginya berbuat baik tidak hanya pada orang yang ia kasihi dan kenal. Tetapi pada orang yang baru ia kenalpun, tidak ada salahnya untuk berbagi.


Bersambung …


__ADS_2