CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 159 : MAU ADIL SAMA ADE


__ADS_3

  “Iya Git, itu buatan luar negeri. Waktu kalian punya acara waktu di Singapura kemarin.” Iya Gita ingat, saat itu Muna dan Kevin memang ikut pergi ke sana. Dan waktu itu ia masih datang bulan. Sehingga pembuatan anaknya memang tertunda. Mengangguk paham dengan perasaan sedikit kagum pada pasangan yang ternyata hobby menambah anak itu.


Penjelasan itu bukan kecap nomor satu. Gita segera paham mengapa Kevin rela mengasuh dua anak mereka tadi. Bukan bucin semata, melainkan ingin memanjakan Muna pada kehamilannya yang ke tiga tentu menjadi alasan mengapa kakaknya berbuat itu.


“Huum … selamat atas kehamilannya yang ketiga ya Kak.” Gita memeluk Muna dengan mata agak berembun. Tak menyangka jika kini berkesempatan berbadan dua di waktu yang hampir bersamaan.


“Abang mau makan apa ? perutnya kososng tuh.” Muna memang hamil. Tetapi perhatiannya tak pernah luntur untuk tetap memperhatikan suaminya. Hamil baginya bukan alasan untuk mungkir dari tanggung jawabnya sebagai istri yang berusaha seimbang melayani anak dan suaminya.


“Ada apa selain ikan …?” tanya Kevin memastikan ketersediaan bahan makanan yang ada di rumah Gita.


Gita menggeleng.


“Semua stok di rumah ini hanya ikan, Kak. Apalagi kemarin dari Cikoneng. Kami di bekali ikan semua, oleh ibunya Siska.” Jawab Gita yang lebih tau apa saja yang ada di rumahnya tersebut.


“A’Gi … minta A’a Gilang mampir di market saja sebelum pulang Kak. Beli nugget atau apa gitu yang dari daging.” Gita memberi alternative.


“Oh … boleh. Boleh.”Kevin bersemangat mendengarnya.


“Bentar … bentar. Ini kayaknya enak nih.” Muna sudah mengeser-geser aplikasi di gawainya. Memilih milih aneka makanan yang bisa di pesan dan di antar secara online.


“Ini niih … kayaknya enak deh. Abang mau …?” tanya Muna menunjukkan ponselnya.


“Apaan … ? Lumpia?” tanya Kevin yang tak banyak tau tentang jenis cemilan.


“Bukan, Bang. Ini Sosis Solo. Isinya daging sapi, bukan ayam. Mau …?” tanya Muna.

__ADS_1


“Ambil tissue deh, kayaknya Mae yang ngiler.” Canda Kevin melihat istrinya yang sudah mupeng melihat tampilan itu.


“Abaaang, aah.” Gita tertawa melihat interaksi mesra keduanya. Yang tak pernah luntur. Selalu Nampak kompak, manis, mesra dan selalu berbahagia. Terjaga sejak awal menikah bahkan kini akan beranak tiga. Patut jadi teladannya.


“Ya udah pesan gih.” Kevin mencium kening istrinya. Mencari kekuatan setelah di perutnya terjadi huru hara ringan tadi.


Muna mengetik pada permukaan gawai itu dengan apik dan cepat. Selera Muna selalu meningkat dalam urusan makan. Apalagi yang berbahan daging. Mungkin benar, bayi yang ia kandung adalah laki-laki. Sebab seleranya adalah daging merah selama kehamilan ini.


Bulan sudah bersinar terang, bergantian dengan matahari yang sudah lelah seharian menerangi bumi di siang hari. Tiba waktunya pulang keperaduan, berarak ke arah mana selanjutnya ia di perlukan. Pada belahan bumi bagian yang lain sesuai rotasi.


Kevin dan istri juga dua anaknya, sudah kembali ke rumah mereka. Sudah berada di tempat tidur masing-masing. Melepas penat raga setelah menjalani aktivitas yang terasa menakjubkan.


“Sayang …” bisik Kevin pada Muna yang sudah akan terlelap dalam pelukannya.


“Maaf membuatmu hamil lagi.” Ujar Kevin dengan mata yang masih memandang langit-langit kamar mereka.


“Abang ngomong apa sih?” tanya Muna seadanya. Malas baginya untuk meladeni obrolan yang Kevin suguhkan dengannya.


“Ngurus anak dua itu melelahkan. Dan, Abang malah bikin kamu hamil lagi. Maaf ya.” Ternyata Kevin baru sadar, setelah hari ini menikmati perannya sebagai pengasuh dua anak tanpa Baby Sitter bahkan hanya beberapa jam saja. Baginya sangat lelah.


“Maafin Muna. Tadi ke asyikan bikin kue. Jadi lupa bantu abang jaga anak-anak.” Muna justru merasa bersalah karena suaminya menjaga dua buntutnya.


“Abang malah suka, liat Mae ber me time seperti tadi. Bukannya bumil harus bahagia, Mae?” Kevin mengelus rambut MUna dan sesekali menciumnya.


“Bukan hanya bumil yang harus bahagia, Tapi semuanya Abang.” Jawab Muna dengan mata yang semakin mulai terpejam.

__ADS_1


“Ya … dan begini sudah selalu buat Abang bahagia. Punya istri sempurna tak suka mengeluh dan selalu berpikiran positif.” Puji Kevin yang tangannya sudah nyasar ke gallon Annaya. Hah …? Kini bahkan gallon itu sudah otw nganggur. Sebab Annaya lebih suka dot daripada gallon itu. Tentu saja, itu menjadi milik Kevin sepenuhnya kembali.


Kepala Muna sudah tidak berbantal lengan Kevin. Orangnya sudah merosot ke dada Muna. Jangan di tanya kapan Kevin melepas kancing baju atas Muna. Sekarang istri Kevin itu malah sudah terjaga dan melenguh keenakan, saat bibir Kevin sudah nemplok sana, nemplok sini membuat maha karya lukisan abstrak mulai leher hingga dada istrinya.


“Aaaah, Abaaang.” Rengek Muna manja, lelah tapi suka.


“Minta jatah kompensasi jaga dua balita tadi ya, Mae. Supaya Abang bahagia.” Eeeh buset, itu Papa siaga ternyata komersial juga. Baru beberapa jam menjaga bocah-bocah sudah minta upah gaiiish.


“Abang ga capek, tadi sudah jaga anak-anak?” pertanyaan unfaedah. Kevin mana kenal kata capek untuk urusan itu.


“Abang mau adil sama ade bayi yang di dalam. Tadi, Abang udah jaga kakak sampe ketiduran. Sekarang giliran Papap jenguk ade juga sampai tidur.” Kekeh Kevin sudah merosotkan kain segitiga yang ternyata sudah agak lembab, merespon sentuhan lembut sensasional tangan piawai seorang Kevin.


Aroma khas Mumun, selalu mengelorakan jiwa cassanoa Kevin. Lumayan lama ia membuat lukisan abstrak di kiri dan kanan area Mumun. Dan Muna hanya bisa pasrah, membuka pahanya, memberi akses lebar untuk kepala yang masih terlihat sibuk menghadap bagian itu.


Kevin masih berpakaian lengkap, sedangkan perbuatannya di bawah sana sudah membuat Muna kegelian bercampur nikmat tiada tara. Mumun kebanjiran, karena lukisan di tepian paha itu sudah tidak di buat di sana lagi.


Melainkan lidah Kevin sudah berinteraksi pada lipatan daging tembem di bawah sana. Muna mengeliat, merasa jika perbuatan itu sungguh menyiksanya. Ia ingin diperlakukan lebih, hingga tuntas.


Meremmas kepala yang sejak tadi sibuk menguras Mumun, membuat Kevin sendiri lupa daratan. Merasa bajunya di tarik-tarik. Akhirnya menyadarinya untuk berhenti sebentar untuk membuat tubuhnya polos. Kemudian, menancapkan es tong-tongnya di mulut Mumun. Ditempat pasangan yang benar. Muna hamil anak ketiga, bahkan kehamilannya ini sudah teruji ketangguhannya. Walau baru di nyatakan berusia di trimester pertama, tapi aktifitas yang satu ini hampir tak berjeda mereka lakukan sejak belum tau telah positif.


Bagi Kevin tidak boleh mengauli istri di saat hamil muda, hanyalah isapan jempol. Buktinya. Saat mereka tak tau di dalam Rahim itu sudah ada biji kacang. Ia selalu meminta haknya,berkali-kali. Dan dengan sempurna menyembur Rahim itu di dalam.


“Abang mau keluar, Mae. Sama-sama ya.” Desis Kevin tak tahan menikmati jepitan Mumun yang selalu membuatnya ketagihan.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2