Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Awal Kesadaran


__ADS_3

Seorang pemuda berjaket orange terlihat sedang menyeberangi salah satu jalan di sudut Kota Tokyo. Ia baru saja menyelesaikan hari-harinya sebagai seorang mahasiswa di salah satu kampus yang ada di kota itu. Terlihat dirinya tengah membawa tas punggung dengan pundak kanannya sambil memasukkan tangan kiri ke dalam saku celana.


Pemuda itu bernama Nara, seorang pemuda dengan ciri khas yang unik. Rambut pirang tersisir harajuku dan bola mata yang berwarna biru. Ia seperti blasteran Asia-Eropa dengan tinggi 177cm dan berat badan sekitar 60kg. Namun, ia memiliki warna kulit yang sedikit gelap, seperti kebanyakan lelaki Asia pada umumnya.


Di tengah keramaian kota, terdengar nada pesan ponselnya bersamaan dengan getar yang ia rasakan, di dalam saku celana. Nara kemudian mengambil ponsel miliknya lalu melihat isi pesan tersebut.


Friday, 7.00 pm.


/Sayang, aku lapar. Bawakan aku sushi tuna, ya?/


Rie


Ternyata pesan tersebut datang dari Rie, kekasihnya. Nara lalu mencari toko sushi isi tuna untuk sang kekasih, ia pun berjalan menyusuri pertokoan yang ada di pinggir jalan. Tak lama, sebuah nada pesan kembali berbunyi, Nara kembali mengecek ponselnya.


Friday, 7.10 pm.


/Sayang, sekalian ice cappucino kesukaanku, ya?/

__ADS_1


Rie


"Hmmm."


Baru saja Nara sampai di toko sushi, ia kembali menerima pesan dari Rie.


"Baiklah."


Hanya kata-kata itu yang dapat terucap dari mulutnya saat membaca pesan dari sang kekasih. Ia kemudian mencari kedai es untuk membelikan pesanan Rie sambil berjalan kaki. Tentunya setelah sushi isi ikan tuna ia dapatkan.


...


Friday, 7.25 pm.


/Sayang, sekalian bawakan aku makanan kaleng untuk besok pagi, ya? Jangan lupa, Sayang./


Rie lagi-lagi mengirim pesan kepada Nara. Namun, kali ini Nara benar-benar kesal dibuatnya. Rie selalu saja meminta ini dan itu tanpa memedulikan dirinya yang lelah sehabis mengais ilmu.

__ADS_1


"Sebenarnya aku ini siapanya, sih? Kenapa dia selalu saja meminta ini dan itu?" tanya Nara kepada dirinya sendiri.


Akhirnya, mau tidak mau Nara mencari sebuah mini market untuk membeli makanan kaleng pesanan Rie dengan terus berjalan kaki.


Tokyo, 8.00 pm.


Malam pun datang, bintang-bintang bersinar dengan terang ditemani rembulan yang senantiasa setia menghiasi malam. Malam yang cerah ini mengantarkan setiap penduduk kembali ke rumah, bertemu dengan keluarga dan beristirahat bersama. Namun, hal itu tidak terjadi pada diri Nara. Ia tampak termenung di depan jendela kamarnya sambil memandangi rembulan yang bersinar terang.


Ia merenungi nasibnya yang malang. Tidak ada siapa-siapa di dalam rumah selain dirinya sendiri. Karena kenyataan pahit harus ia terima di kala kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai.


Nara telah lama hidup sendiri. Dan kini kesunyian tengah melanda hatinya. Berharap sebuah keajaiban datang lalu menyapa jiwanya yang sepi.


...


Di lain tempat, terdengar suara ketukan pintu di sebuah kamar kos yang berada di pinggir kota. Di depan pintu kamar kos tersebut, terlihat seseorang sedang menunggu dibukakannya pintu. Pemuda itu mengetuk pintu untuk yang kesekian kali dan tak lama seorang gadis membukakan pintu.


"Na—!"

__ADS_1


Gadis berpakaian kimono putih setinggi lutut tampak terkejut di saat melihat kedatangan seorang pemuda yang tidak dikenalnya.


__ADS_2